Saat Ramadhan Melahirkan Kreativitas Sosial

- Penulis

Sabtu, 7 Maret 2026 - 21:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi: dimodifikasi oleh AI. (Pinterest)

Ilustrasi: dimodifikasi oleh AI. (Pinterest)

Oleh: Kaisar Adam, Mahasiswa Pascasarjana Uhamka Jakarta

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Nuzulul Quran. Sudah tidak asing terdengar oleh umat muslim—terlebih mereka yang sedang menjalankan ibadah puasa ramadhan.

Bulan ramadhan sendiri menjadi fasilitas yang diberikan oleh Allah Swt kepada umat islam untuk dapat meningkatkan ibadah dan kerja-kerja kebaikan lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Banyak orang menjadikan ramadhan sebagai wahana pendidikan spiritual guna menjadi hamba yang sebaik-baiknya di mata Allah Swt. Oleh karena itu ramadhan mempunyai daya tarik sendiri yang menjadikan bulan ini sangat berbeda dengan bulan yang lainnya.

Tidak hanya sebatas pada kewajiban berpuasa selama satu hari penuh, ramadhan banyak memberikan efek kebaikan dan perubahan pada banyak orang.

Selama bulan ramadhan, umat muslim di seluruh dunia melaksanakan ibadah puasa sebagai mana yang sudah Allah Swt perintahkan dalam surah Al Baqarah ayat 183.

Allah Swt memerintahkan umat Islam agar menjalankan ibadah puasa dengan tujuan agar manusia dapat menyadari hubungan manusia dengan Tuhannya, menyadari manusia sebagai makhluk yang terbatas, hingga pada titik akhir mencapai derajat ketakwaan.

Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah Swt tidak mempunyai kekuasaan atas pahala, derajat takwa, dosa bahkan surga dan neraka. Ia merupakan seorang yang lemah tapi acapkali menjadi makhluk yang lupa diri.

Pada kehidupan saat ini yang penuh dengan gemerlap dan kebisingan seringkali manusia terlena hingga tidak sadar ia diciptakan dengan tujuan beribadah.

Pada saat ramadhan sudah memasuki hari ke tujuh belas, umat Islam merayakan peringatan nuzulul Qur’an, yaitu malam diturunkannya Al Quran kepada nabi Muhammad Saw melalui Malaikat Jibril.

Baca Juga :  385 Tahun Kabupaten Bima: Warisan Monarki di Negeri yang Baru Merdeka

Mulai malam tujuh belas ini, umat Islam jauh lebih banyak memanjatkan doa dan harapan hidup dengan tujuan menjadi manusia yang baik. Tak khayal,.kita akan lebih banyak menemukan praktik ibadah di masjid ataupun mushalla.

Jakarta sebagai wajah kota modern dan berkemajuan tak ketinggalan ikut serta memperingati peristiwa Nuzulul Quran.

Hal ini banyak terlihat dan terdengar pada banner pinggir jalan, ceramah ramadhan hingga peringatan yang dikemas dengan gaya sekarang seperti konser amal, football charity, ataupun gerakan care no worries.

Ini dapat menjadi titik harapan bahwa untuk dapat berbuat baik bisa dalam bentuk apapun, bisa dalam waktu kapanpun.

Perkembangan bentuk kebaikan yang bermunculan seiring dengan ramadhan mampu menumbuhkan kreativitas sosial yang menarik untuk dipahami lebih dalam.

Kreativitas sosial yang menjamur di banyak tempat ataupun tempat ibadah sekalipun membuka pandangan jauh lebih luas mengenai keluwesan model beribadah.

Hal ini tercermin dengan banyak anak muda yang tertarik untuk ikut urun ide, tenaga dan pikiran agar dapat memperbaharui ataupun menduplikasi kreativitas sosial serupa.

Jika dipandang melalui kaca mata sosial keagamaan, kemunculan kreativitas sosial di bulan ramadhan menjadi pendekatan yang luar biasa efektif dalam mengajak orang agar kembali ke masjid ataupun mushalla untuk beribadah dengan modelnya.

Pendekatan seperti ini menawarkan pengalaman yang berbeda. Bayangkan saja, masjid atau mushalla yang sangat erat dengan kata “suci” di dalamnya berisi kegiatan konser amal, kompetisi game online bahkan saat ini terdapat tempat penitipan anak (daycare) secara gratis atau yang lebih menariknya menyulap aula masjid menjadi coffe shop gratis.

Baca Juga :  Masihkah Api Sumpah Pemuda Menyala di Dada Generasi Stroberi?

Pendeketan model seperti ini bukan tidak memiliki tantangan. Pada banyak tempat ia dikritik oleh pihak-pihak yang menyakini jika masjid ataupun mushalla hanya bisa dan boleh dijadikan tempat ritual ibadah tanpa ada unsur tambahan duniawi.

Ini menjadi tantangan ke depan, bagaimana pendekatan model seperti ini berkelanjutan dilakukan pasca bulan ramadhan. Disaat orang-orang kembali sibuk dengan aktivitasnya apakah mampu untuk terus dilanjutkan dan dikembangkan agar menjadi model yang menarik?

Harapan saya, pendekatan dengan model seperti ini tidak hanya dilihat secara parsial saja. Kita mesti melihat pendekatan seperti ini secara lebih holistik.

Melihatnya dengan satu kebenaran saja, dapat menutup peluang kebermanfaat yang lebih besar. Jangan sampai kreativitas sosial yang sudah berkembang luar biasa ini redup akibat ego dan pemahaman yang sempit dalam cara beribadah.

Terakhir, saya berpesan agar kreativitas sosial ini dirawat serta dijaga semangatnya. Ditumbuhkan kecintaanya, diberikan ruang kepercayaan dan kesempatan.

Karena, melalui ramadhan dan dalam momentum Nuzulul Quran ini kita dapat berkejasama untuk saling bukan saing, untuk asuh bukah asah, untuk peluk pada persoalan pelik dalam mensyiarkan kemudahan beragama dan beribadah dalam Islam. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 17 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB