Oleh: Kaisar Adam, Mahasiswa Pascasarjana Uhamka Jakarta
SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Nuzulul Quran. Sudah tidak asing terdengar oleh umat muslim—terlebih mereka yang sedang menjalankan ibadah puasa ramadhan.
Bulan ramadhan sendiri menjadi fasilitas yang diberikan oleh Allah Swt kepada umat islam untuk dapat meningkatkan ibadah dan kerja-kerja kebaikan lainnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Banyak orang menjadikan ramadhan sebagai wahana pendidikan spiritual guna menjadi hamba yang sebaik-baiknya di mata Allah Swt. Oleh karena itu ramadhan mempunyai daya tarik sendiri yang menjadikan bulan ini sangat berbeda dengan bulan yang lainnya.
Tidak hanya sebatas pada kewajiban berpuasa selama satu hari penuh, ramadhan banyak memberikan efek kebaikan dan perubahan pada banyak orang.
Selama bulan ramadhan, umat muslim di seluruh dunia melaksanakan ibadah puasa sebagai mana yang sudah Allah Swt perintahkan dalam surah Al Baqarah ayat 183.
Allah Swt memerintahkan umat Islam agar menjalankan ibadah puasa dengan tujuan agar manusia dapat menyadari hubungan manusia dengan Tuhannya, menyadari manusia sebagai makhluk yang terbatas, hingga pada titik akhir mencapai derajat ketakwaan.
Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah Swt tidak mempunyai kekuasaan atas pahala, derajat takwa, dosa bahkan surga dan neraka. Ia merupakan seorang yang lemah tapi acapkali menjadi makhluk yang lupa diri.
Pada kehidupan saat ini yang penuh dengan gemerlap dan kebisingan seringkali manusia terlena hingga tidak sadar ia diciptakan dengan tujuan beribadah.
Pada saat ramadhan sudah memasuki hari ke tujuh belas, umat Islam merayakan peringatan nuzulul Qur’an, yaitu malam diturunkannya Al Quran kepada nabi Muhammad Saw melalui Malaikat Jibril.
Mulai malam tujuh belas ini, umat Islam jauh lebih banyak memanjatkan doa dan harapan hidup dengan tujuan menjadi manusia yang baik. Tak khayal,.kita akan lebih banyak menemukan praktik ibadah di masjid ataupun mushalla.
Jakarta sebagai wajah kota modern dan berkemajuan tak ketinggalan ikut serta memperingati peristiwa Nuzulul Quran.
Hal ini banyak terlihat dan terdengar pada banner pinggir jalan, ceramah ramadhan hingga peringatan yang dikemas dengan gaya sekarang seperti konser amal, football charity, ataupun gerakan care no worries.
Ini dapat menjadi titik harapan bahwa untuk dapat berbuat baik bisa dalam bentuk apapun, bisa dalam waktu kapanpun.
Perkembangan bentuk kebaikan yang bermunculan seiring dengan ramadhan mampu menumbuhkan kreativitas sosial yang menarik untuk dipahami lebih dalam.
Kreativitas sosial yang menjamur di banyak tempat ataupun tempat ibadah sekalipun membuka pandangan jauh lebih luas mengenai keluwesan model beribadah.
Hal ini tercermin dengan banyak anak muda yang tertarik untuk ikut urun ide, tenaga dan pikiran agar dapat memperbaharui ataupun menduplikasi kreativitas sosial serupa.
Jika dipandang melalui kaca mata sosial keagamaan, kemunculan kreativitas sosial di bulan ramadhan menjadi pendekatan yang luar biasa efektif dalam mengajak orang agar kembali ke masjid ataupun mushalla untuk beribadah dengan modelnya.
Pendekatan seperti ini menawarkan pengalaman yang berbeda. Bayangkan saja, masjid atau mushalla yang sangat erat dengan kata “suci” di dalamnya berisi kegiatan konser amal, kompetisi game online bahkan saat ini terdapat tempat penitipan anak (daycare) secara gratis atau yang lebih menariknya menyulap aula masjid menjadi coffe shop gratis.
Pendeketan model seperti ini bukan tidak memiliki tantangan. Pada banyak tempat ia dikritik oleh pihak-pihak yang menyakini jika masjid ataupun mushalla hanya bisa dan boleh dijadikan tempat ritual ibadah tanpa ada unsur tambahan duniawi.
Ini menjadi tantangan ke depan, bagaimana pendekatan model seperti ini berkelanjutan dilakukan pasca bulan ramadhan. Disaat orang-orang kembali sibuk dengan aktivitasnya apakah mampu untuk terus dilanjutkan dan dikembangkan agar menjadi model yang menarik?
Harapan saya, pendekatan dengan model seperti ini tidak hanya dilihat secara parsial saja. Kita mesti melihat pendekatan seperti ini secara lebih holistik.
Melihatnya dengan satu kebenaran saja, dapat menutup peluang kebermanfaat yang lebih besar. Jangan sampai kreativitas sosial yang sudah berkembang luar biasa ini redup akibat ego dan pemahaman yang sempit dalam cara beribadah.
Terakhir, saya berpesan agar kreativitas sosial ini dirawat serta dijaga semangatnya. Ditumbuhkan kecintaanya, diberikan ruang kepercayaan dan kesempatan.
Karena, melalui ramadhan dan dalam momentum Nuzulul Quran ini kita dapat berkejasama untuk saling bukan saing, untuk asuh bukah asah, untuk peluk pada persoalan pelik dalam mensyiarkan kemudahan beragama dan beribadah dalam Islam. (Red)













Komentar