Menyelamatkan Bumi Jogja dari Hulu ke Hilir Lewat ECOnnect 2026

SUARAMUDA.NET, YOGYAKARTA — Kesadaran tentang keterkaitan ekologis antara hulu dan hilir masih sering terabaikan dalam upaya konservasi lingkungan.

Melalui program ECOnnect dengan tema Aksi Pemuda untuk Bumi Jogja, KOPHI Yogyakarta mencoba menjembatani pemahaman tersebut dengan mengajak 37 pemuda menelusuri Daerah Aliran Sungai (DAS) Kalo Kuning dari lereng Merapi hingga pesisir selatan.

Ketua umum KOPHI Yogyakarta, Rifka Agnes menjelaskan bahwa kegiatan ini terbagi dalam dua tahap.

“Tahap pertama Youth Climate Relay pada 1 Februari, di mana peserta mengunjungi tiga titik kritis aliran sungai. Tahap kedua Youth EcoAction Forum pada 8 Februari untuk merefleksikan pengalaman dan menyepakati temuan lapangan,” paparnya.

Di titik hulu, peserta mengamati kondisi mata air Umbul Lanang dan Umbul Wadon di Cangkringan yang masih terjaga namun mulai terancam alih fungsi lahan.

Di titik tengah, mereka belajar dari keberhasilan PAMSIMAS Dusun Karanglo dalam menyediakan akses air bersih, sekaligus mengidentifikasi sumber pencemar potensial.

Di titik hilir, peserta melihat langsung tantangan yang dihadapi ekosistem mangrove Baros, mulai dari sedimentasi, sampah kiriman, hingga abrasi.

“Yang paling membekas bagi peserta adalah melihat langsung bagaimana sampah dari hulu terbawa hingga ke pesisir dan mengganggu ekosistem mangrove. Ini pengalaman yang tidak bisa didapatkan hanya dari buku,” ungkap Agnes.

Beberapa peserta memberikan kesaksiannya. Rihhadatul dari UII mengaku kegiatan ini membuka wawasan.

“Jarang main di pantai sehingga kurang mengerti keadaan di Yogya. Setelah ikut kegiatan ECOnnect ini jadi lebih sadar dan tergerak untuk lebih aware dan peduli lingkungan.”

Sedangkan Kurniawan dari UGM menyoroti perlunya intervensi pemerintah. “Perjalanannya cukup menyenangkan dan memberikan pesan yang menarik. Prihatin dengan keadaan hulu karena hutan belum cukup menampung tadah hujan. Perlu peran pemerintah, belum adanya pengelolaan tambang yang terorganisir.”

Sebagai tindak lanjut, tim KOPHI Yogyakarta kini tengah menyusun EcoStory Book yang akan mendokumentasikan perjalanan, temuan, dan refleksi program.

Buku ini diharapkan menjadi media edukasi untuk mendorong kebijakan pengelolaan DAS yang lebih terpadu. Kolaborasi dengan TNGM, PAMSIMAS, dan Kelompok Tani Mangrove Baros juga akan terus diperkuat untuk program lanjutan. (Red)

Redaksi Suara Muda, Saatnya Semangat Kita, Spirit Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like