SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Wangi durian dari Gunungpati bukan cuma bikin lapar, tapi juga siap jadi magnet wisata. Camat Gunungpati, Ali Ahmadi, pasang target gede: Festival Durian Gunungpati harus naik level dan masuk kalender wisata tahunan Kota Semarang.
Target ini bukan asal pasang. Festival durian dinilai mampu mengangkat Kelurahan Cepoko sebagai desa wisata sekaligus menggerakkan roda ekonomi warga, khususnya petani dan pelaku UMKM lokal.
Ali Ahmadi pun tak ragu memberi apresiasi atas suksesnya Festival Durian Gunungpati 2026. Menurutnya, kegiatan berbasis komunitas seperti ini wajib disinergikan dengan program pemerintah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami apresiasi dan dukung penuh. Meski digagas paguyuban, langsung kami kolaborasikan dengan program kecamatan,” ujar Ali Ahmadi usai penilaian kontes durian terunggul di Shelter Cepoko, Jumat (30/1/2026) lalu.
Biar makin solid, Kecamatan Gunungpati juga menggandeng sejumlah OPD, mulai dari Dinas Perdagangan, Dinas Pertanian, hingga Dinas Pariwisata. Khusus Dinas Pariwisata, fokusnya ikut meramaikan sisi hiburan selama festival.
Soal tantangan? Ada. Jadwal festival yang mepet dengan akhir masa panen sempat bikin waswas soal stok durian.
“Puncak panen biasanya pertengahan Januari. Tapi alhamdulillah, pedagang tetap antusias. Bahkan banyak yang datang dari luar daerah,” tambahnya.
Lomba Makan Durian Diserbu! 200 Pendaftar, Cuma 60 Lolos
Kemeriahan festival makin terasa dari lomba makan durian. Ketua Panitia Festival Durian Gunungpati 2026, Sutarjo, menyebut minat peserta membludak.
Dari 200 pendaftar, panitia hanya bisa menampung 60 peserta yang datang dari Semarang, Demak, Ungaran, hingga Kendal.
Tak cuma adu kuat makan, kontes durian terunggul juga jadi magnet utama. Total ada 16 varian durian yang dipamerkan dan dinilai:
- 10 varian lokal Gunungpati
- 6 varian luar daerah (Brongkol, Mijen, Ungaran, dan Kendal)
Sutarjo mengingatkan, festival ini bukan pendatang baru. Sejak 2014, Festival Durian Gunungpati sudah keliling lokasi—dari kawasan Goa Kreo Kandri, sentra oleh-oleh buah Cepoko, hingga titik-titik lain.
Bedanya di 2026, panitia memilih meniadakan kirab budaya demi menyesuaikan kondisi cuaca. Tapi soal antusiasme, tetap juara.
“Semoga festival ini membawa berkah bagi petani dan makin menguatkan ekonomi masyarakat Gunungpati,” pungkas Sutarjo. (Red)













Komentar