Dari Rusia untuk Indonesia: Resep Bertahan di Tengah Ancaman Perang Dunia III

- Penulis

Senin, 26 Januari 2026 - 08:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, JAKARTA — Ancaman Perang Dunia Ketiga bukan lagi sekadar teori konspirasi atau bahan diskusi elite global. Di tengah konflik geopolitik yang kian panas, Indonesia dituntut bersiap—bukan dengan memilih blok, melainkan dengan memperkuat diri sendiri.

Pesan itu mengemuka dalam webinar nasional Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Kota Depok, Sabtu malam (24/1/2026), yang mengangkat tema “Ancaman Perang Dunia Ketiga dan Peran Nahdlatul Ulama dalam Diplomasi Perdamaian Global.”

Salah satu pembicara kunci, Dr. Amy Maulana, S.Sos., M.Sos., pakar Indonesia–Rusia yang bermukim di Moskow, menyampaikan analisis strategis berbasis pengalaman langsung menghadapi dinamika global dari “jantung konflik” Eropa Timur.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Amy, panggilan akrabnya, saat ini menjabat sebagai Ketua PCINU Federasi Rusia dan Eropa Utara serta expert Indonesia–Rusia di ANO Center for Mediastrategi.

Rusia Bertahan di Bawah Sanksi: Mahal, Keras, tapi Efektif

Dalam paparannya, Amy membedah bagaimana Federasi Rusia mampu bertahan di bawah sanksi ekonomi paling keras dari negara-negara Barat pasca-invasi ke Ukraina. Menurutnya, ketahanan Rusia ditopang oleh empat strategi utama:

  1. Diversifikasi mitra ekonomi, terutama ke China, India, dan negara-negara Global South
  2. Penguatan kedaulatan moneter, dengan kontrol ketat terhadap nilai rubel
  3. Substitusi impor besar-besaran, khususnya di sektor teknologi dan manufaktur
  4. Diplomasi publik agresif, untuk membangun opini dan dukungan internasional non-Barat
Baca Juga :  TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium

“Kasus Rusia menunjukkan satu hal penting: ketahanan lahir dari kemandirian. Negara yang tidak tergantung pada satu blok atau satu teknologi akan lebih tahan guncangan,” tegas Amy.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa model ini mahal secara sosial dan ekonomi, serta membutuhkan kontrol negara yang kuat—sesuatu yang tidak sepenuhnya cocok dengan sistem demokrasi terbuka seperti Indonesia.

Pesan untuk Indonesia

Dari Rusia, Amy lalu mengarahkan sorotan ke Indonesia. Dengan nada lugas, ia mengkritik romantisme politik non-blok yang tidak dibarengi kesiapan nyata.

“Netralitas aktif itu harus jadi alat operasional, bukan sekadar jargon. Indonesia bisa jadi jembatan dialog global, tapi hanya jika fondasi dalam negerinya benar-benar kuat,” ujarnya.

Fondasi itu, menurut Amy, adalah kedaulatan pangan dan energi. Ia menilai ketergantungan Indonesia pada impor gandum, komponen elektronik, dan teknologi strategis sebagai titik lemah serius jika dunia masuk fase perang ekonomi atau blokade global.

Untuk menghadapi ancaman perang global—yang kini lebih bersifat hibrida—Amy mengajukan tiga langkah konkret:

Pertama, pemerintah harus segera melakukan audit kerentanan nasional guna memetakan ketergantungan kritis, mulai dari chip semikonduktor hingga bahan baku obat.

Baca Juga :  Pelantikan Pengurus PWNU, Mufid Rahmat: Pengurus Berasal dari Pengasuh Pesantren hingga Akademisi NU

Kedua, modernisasi pertahanan perlu difokuskan pada pengamanan wilayah maritim dan perlindungan infrastruktur digital, mengingat perang masa depan akan banyak terjadi di ruang siber. Ketiga, dan yang paling krusial, adalah pemanfaatan soft power.

NU dan Diplomasi Perdamaian Global

Di sinilah Nahdlatul Ulama mengambil peran strategis. Menurut Amy, jaringan PCINU dan organisasi keagamaan Indonesia di luar negeri adalah aset diplomasi non-formal yang sering diremehkan.

“PCINU dan ormas keagamaan kita adalah diplomat kaki tangan sekaligus sistem peringatan dini. Mereka bisa membangun jembatan kemanusiaan dan menyebarkan narasi perdamaian khas Indonesia saat diplomasi formal buntu,” jelasnya.

Menutup pemaparannya, Amy mengingatkan bahwa Perang Dunia III mungkin tidak datang dalam bentuk tank dan bom, melainkan perang siber, perang ekonomi, dan konflik proksi lintas kawasan.

“Kesiapan Indonesia bukan soal memilih siapa kawan dan siapa lawan, tapi soal kemampuan mandiri, menjaga stabilitas internal, dan memaksimalkan seluruh instrumen nasional—termasuk diplomasi keagamaan—demi perdamaian dunia,” tegasnya.

Webinar yang terbuka untuk umum ini menandai meningkatnya kesadaran masyarakat sipil akan pentingnya kesiapsiagaan nasional di tengah dunia yang makin tak pasti. (Red)

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tumpukan Sampah Menggunung di Bawah Jembatan Pasar Sugio, Warga Keluhkan Bau hingga Rawan Kebakaran
Madas Sedarah Soroti BPH Migas, Pertanyakan Ruang Suara DEM Madura
Jokowi Bikin Pernyataan Berani: “PSI Partai Baru, tapi Sudah Banyak yang Ketakutan”
Vonis Nadiem Makarim Turun Jadi 9 Tahun, Ini yang Berubah
Pidato di PBB, Sugiono Bawa Pesan Prabowo: Dunia Butuh Ketahanan dan Kerja Sama
Membedah Program Unggulan Sakola Kembara (Bimbel Gratis Masuk PTN)
Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Berita ini 12 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 12:23 WIB

Tumpukan Sampah Menggunung di Bawah Jembatan Pasar Sugio, Warga Keluhkan Bau hingga Rawan Kebakaran

Selasa, 29 September 2026 - 10:03 WIB

Madas Sedarah Soroti BPH Migas, Pertanyakan Ruang Suara DEM Madura

Senin, 28 September 2026 - 09:29 WIB

Jokowi Bikin Pernyataan Berani: “PSI Partai Baru, tapi Sudah Banyak yang Ketakutan”

Minggu, 27 September 2026 - 09:31 WIB

Pidato di PBB, Sugiono Bawa Pesan Prabowo: Dunia Butuh Ketahanan dan Kerja Sama

Minggu, 27 September 2026 - 09:20 WIB

Membedah Program Unggulan Sakola Kembara (Bimbel Gratis Masuk PTN)

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Madas Sedarah Soroti BPH Migas, Pertanyakan Ruang Suara DEM Madura

Selasa, 29 Sep 2026 - 10:03 WIB