Kita Ribut Soal Siapa Pahlawan, Tapi Lupa Jadi Pahlawan Itu Sendiri

- Penulis

Jumat, 7 November 2025 - 10:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Beberapa tokoh pahlawan nasional. (Gambar: pinterest)

Beberapa tokoh pahlawan nasional. (Gambar: pinterest)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Setiap 10 November, medsos penuh postingan “Selamat Hari Pahlawan” lengkap dengan foto Bung Tomo, Soekarno, dan kutipan heroik. Keren sih, tapi pernah nggak kamu mikir, apa cuma mereka yang layak disebut pahlawan?

Karena kalau dipikir-pikir, nggak semua pahlawan punya monumen. Ada juga yang cuma punya niat tulus, tekad kuat, dan keberanian buat bilang: “Aku nggak akan diem aja.”

Pahlawan Itu Bisa Siapa Aja

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bayangin masa perjuangan dulu: di balik tentara dan gerilyawan bersenjata, ada orang-orang desa yang nyiapin logistik, ibu-ibu yang sembunyiin pejuang di dapur, sampai anak kecil yang jadi kurir surat rahasia.

Mereka nggak terkenal, tapi mereka ada. Dan justru karena mereka, perjuangan bisa terus hidup.

Benedict Anderson, sejarawan terkenal, pernah bilang bahwa bangsa itu terbentuk karena “imajinasi kolektif” — rasa percaya bahwa kita berjuang bersama sebagai satu komunitas (Anderson, Imagined Communities, 1983).

Jadi, pahlawan sejati itu bukan soal siapa yang viral, tapi siapa yang nggak berhenti berbuat baik meski nggak disorot kamera.

Kepahlawanan Versi Islam: Nggak Cuma Perang, Tapi Niat

Dalam Islam, konsep pahlawan itu nggak selalu soal medan perang. Rasulullah SAW pernah bilang:

Baca Juga :  Ketika Makan Bergizi Gratis Kehilangan Kepercayaan Siswa

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.”
(HR. Ahmad, Thabrani, dan Daruquthni)

Artinya? Siapa pun yang memberi manfaat — sekecil apa pun — udah masuk dalam kategori pahlawan di mata Allah.

Kamu bantu teman yang lagi kesulitan? Kamu pahlawan. Kamu berani speak up soal keadilan? Kamu pahlawan.

Kamu nggak nyontek di ujian padahal semua orang nyontek? Yep, itu juga bentuk kecil dari kepahlawanan.

Dalam sejarah Islam, ada tokoh besar kayak Salahuddin Al-Ayyubi atau Khalid bin Walid, tapi Islam juga menghormati orang-orang biasa yang berjuang dengan niat ikhlas. Karena buat Islam, kemenangan sejati bukan di perang, tapi di hati.

Zaman Berubah, Medan Juang Ikut Bergeser

Sekarang kita nggak lagi berperang lawan penjajah berseragam, tapi masih ada banyak “penjajahan” lain: kemiskinan, kebodohan, korupsi, hoaks, dan ketidakadilan sosial.

Makanya, pahlawan zaman sekarang bisa siapa aja:

  • Relawan yang turun ke lokasi bencana
  • Anak muda yang kampanye soal lingkungan
  • Guru honorer yang tetap semangat meski gaji minim
  • Atau bahkan kamu, yang terus berusaha jujur dan peduli

Emile Durkheim, sosiolog klasik, bilang bahwa masyarakat sehat itu yang punya moral collective — semangat kebersamaan buat saling jaga (Durkheim, The Division of Labor in Society, 1893).

Baca Juga :  Indonesia Juara Piala AFF U-19 2024: Alhamdulillah, Selamat!

Nah, para pahlawan masa kini adalah mereka yang menjaga semangat itu tetap hidup.

Pahlawan Nggak Butuh Spotlight

Nggak semua pahlawan pakai seragam. Kadang, mereka pakai seragam sekolah, jaket ojol, atau celemek warung kopi.

Nggak semua pahlawan orasinya disiarkan TV. Kadang, mereka cuma bantu diam-diam, tanpa nama, tanpa pamrih.

KH. Hasyim Asy’ari pernah bilang: “Cinta tanah air adalah bagian dari iman.” (Hubbul wathan minal iman.)

Dan cinta itu bisa ditunjukkan dengan hal-hal kecil — kerja jujur, bantu sesama, nggak nyampah sembarangan, sampai rajin bayar pajak.

Karena kepahlawanan itu bukan tentang besar-kecilnya aksi, tapi ketulusan niat di baliknya.

Akhirnya, Kita Semua Punya Potensi Jadi Pahlawan

Jadi, pas kamu lihat tanggal 10 November di kalender, jangan cuma mikir soal parade dan upacara. Coba tanya ke diri sendiri: “Aku udah jadi pahlawan untuk siapa hari ini?”

Mungkin bukan pahlawan nasional. Tapi pahlawan buat keluarga, teman, komunitas, atau bahkan buat dirimu sendiri. Dan itu, percayalah, sudah lebih dari cukup! Lalu, mengapa pada meributkan gelar pahlawan? (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
Berita ini 8 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 22:54 WIB

Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB