Dekonstruksi Nilai di Era Modern dan Relevansi Sistem Pendidikan Pesantren

- Penulis

Kamis, 16 Oktober 2025 - 08:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mohammad Ridhan Alhafidz, mahasiswa pada International Islamic University, Islamabad, Pakistan

Mohammad Ridhan Alhafidz, mahasiswa pada International Islamic University, Islamabad, Pakistan

Oleh: Mohammad Ridhan Alhafidz*)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Arus modernitas membawa dampak besar terhadap pola hidup masyarakat global, termasuk Indonesia. Kemajuan teknologi informasi dan derasnya arus budaya populer Barat telah menciptakan pergeseran nilai sosial dan keagamaan di kalangan remaja.

Fenomena ini menjadi salah satu faktor munculnya dekonstruksi nilai, yakni proses pelepasan diri dari nilai lama yang dianggap usang dan menggantinya dengan nilai baru yang dinilai lebih “modern” dan relevan dengan zaman.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perkembangan teknologi digital memungkinkan informasi lintas budaya menyebar dengan sangat cepat. Budaya Barat yang ditandai dengan kebebasan berekspresi dan gaya hidup individualistik kini menjadi rujukan bagi sebagian besar generasi muda Indonesia.

Pengaruh ini tampak dari tren berpakaian yang semakin terbuka, gaya komunikasi yang bebas, serta menurunnya penghargaan terhadap norma sosial dan nilai-nilai keagamaan.

Fenomena tersebut tidak lepas dari lemahnya filter budaya dan kurangnya pendidikan karakter yang berlandaskan nilai spiritual.

Baca Juga :  Kinerja Fiskal Daerah dan Langkah Menata Ulang Kebijakan Pariwisata Pekanbaru

Dekonstruksi nilai agama dan moral tampak pada meningkatnya perilaku permisif terhadap pelanggaran etika sosial, seperti pergaulan bebas dan rendahnya empati sosial.

Hal ini menunjukkan bahwa proses modernisasi, jika tidak diimbangi dengan pembentukan moral yang kuat, dapat mengikis identitas dan karakter bangsa.

Salah satu faktor yang mempercepat perubahan nilai di kalangan anak dan remaja adalah penggunaan teknologi digital tanpa pengawasan.

Pola asuh yang menjadikan gawai sebagai alat hiburan utama sering kali membuat anak kurang terlibat dalam interaksi sosial yang bernilai edukatif dan religius. Akibatnya, pendidikan moral dan agama tidak tertanam secara optimal.

Dalam konteks ini, pendidikan tidak hanya bertanggung jawab pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan kepribadian. Model pendidikan yang mengintegrasikan aspek intelektual, spiritual, dan sosial menjadi semakin relevan untuk menjawab tantangan dekonstruksi nilai di era modern.

Sistem Pendidikan Pesantren sebagai Alternatif Solusi

Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara pengetahuan umum dan nilai-nilai moral-religius.

Baca Juga :  Tragedi Irene Sokoy dan Retaknya Sistem Kesehatan Kita

Sistem pendidikan pesantren menekankan kedisiplinan, kemandirian, serta pengawasan intensif terhadap peserta didik selama 24 jam.

Selain itu, pembiasaan ibadah dan interaksi sosial berbasis nilai-nilai Islam menjadikan lingkungan pesantren sebagai wadah efektif pembentukan karakter.

Kehidupan santri yang sederhana, teratur, dan berlandaskan etika Islam mampu menumbuhkan ketahanan moral di tengah arus globalisasi budaya.

Karena itu, sistem pendidikan pesantren dapat menjadi model pendidikan karakter yang relevan untuk diterapkan lebih luas di era digital.

Modernitas tidak harus dimaknai sebagai ancaman terhadap nilai agama dan moralitas. Justru, ia dapat menjadi ruang bagi lahirnya adaptasi nilai-nilai keagamaan yang kontekstual dengan zaman.

Pendidikan pesantren, dengan sistem pengawasan dan pembinaan moral yang kuat, dapat berperan sebagai penyeimbang dalam menghadapi dekonstruksi nilai di tengah derasnya arus budaya global. (Red)

*) Mohammad Ridhan Alhafidz, mahasiswa pada International Islamic University, Islamabad, Pakistan

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 4 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB