Perut Anak Disalahkan, Bukan Sistemnya! Gubernur Luthfi Anggap 2.700 Siswa Keracunan Gara-Gara Tak Biasa Makan Spageti

- Penulis

Rabu, 8 Oktober 2025 - 08:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala BGN, Dadan Hindayana usai rapat koordinasi MBG bersama seluruh kepala daerah, ahli gizi, dan mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di GOR Jatidiri, Kota Semarang, Senin (6/10/2025).(KOMPAS.COM/Titis Anis Fauziyah)

Kepala BGN, Dadan Hindayana usai rapat koordinasi MBG bersama seluruh kepala daerah, ahli gizi, dan mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di GOR Jatidiri, Kota Semarang, Senin (6/10/2025).(KOMPAS.COM/Titis Anis Fauziyah)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Alih-alih menunjukkan empati terhadap ribuan anak yang jadi korban program Makan Bergizi Gratis (MBG), Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi justru melontarkan pernyataan yang bikin geleng kepala.

Ia menyebut 2.700 siswa yang keracunan di 15 kabupaten/kota di Jateng itu bukan karena kesalahan sistem, melainkan karena … perut mereka tak cocok dengan makanan baru.

Ya, Anda tidak salah baca. Menurut Luthfi, anak-anak yang terbiasa makan mi instan ternyata “kaget perutnya” saat disajikan menu MBG seperti spageti.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Sing biasane makan indomie dikasih spageti, ora cocok wetenge, jadi penyakit,” ujar Luthfi dengan enteng dalam rapat koordinasi MBG di GOR Jatidiri, Semarang, Senin (6/10/2025), seperti dilansir Kompas.com.

Pernyataan yang terdengar seperti lelucon pahit itu sontak memunculkan pertanyaan besar: benarkah masalah utama ada di perut anak-anak — atau justru di sistem penyelenggaraan MBG yang terburu-buru dan tak siap?

Baca Juga :  Dibalik Peresmian Kampung Pengawasan Partisipatif Desa Lingga, Ada Pesan Moral Wujudkan Pilkada Damai dan Bersih, Cek Di sini!

Dalam rapat itu, Luthfi memang sempat mengakui adanya kelemahan dari sisi higienitas, sanitasi, dan minimnya tenaga profesional di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Tapi alih-alih bicara soal tanggung jawab, yang muncul justru narasi “perut tak cocok makanan baru”.

Padahal, 2.700 anak bukan angka kecil. Jika peristiwa ini terjadi di dunia industri, bisa jadi sudah ada audit besar-besaran, bahkan mungkin permintaan maaf publik. Tapi di sini, jawabannya simpel: “ya mungkin perutnya belum biasa spageti.”

Tak berhenti di situ, Luthfi juga menegaskan bahwa program MBG tak boleh berhenti, meskipun telah menimbulkan ribuan korban keracunan.

“(MBG) tidak boleh berhenti, karena program ini wajib hukumnya,” tegasnya.

Kalimat yang terdengar seperti ultimatum, tanpa sedikit pun menyentuh soal rasa tanggung jawab terhadap korban.

Yang makin ironis, Luthfi sempat mengimbau agar kepala daerah dan ibu-ibu PKK ikut mengecek dapur MBG.

Baca Juga :  Bandara Ahmad Yani Semarang Dinobatkan sebagai Bandar Udara Sehat 2024: Sungguh?

Sebuah instruksi yang terdengar baik di permukaan, tapi juga menandakan: selama ini siapa yang mengawasi? Mengapa harus menunggu ribuan anak jatuh sakit dulu baru “disuruh cek dapur”?

Pernyataan Gubernur Luthfi ini memunculkan kesan bahwa pemerintah masih gagap membedakan antara tanggung jawab dan pembenaran.

Padahal, jika benar ada masalah sanitasi dan SDM di dapur MBG, seharusnya itulah yang jadi fokus evaluasi — bukan malah menyalahkan perut anak-anak miskin yang jadi sasaran program.

Bagi publik, komentar ini terasa seperti menabur garam di luka. Ribuan anak keracunan, tapi yang disoroti justru “perutnya belum terbiasa”.

Kalau logika seperti ini terus dipakai, jangan-jangan nanti kalau ada siswa jatuh sakit karena air kotor, jawabannya juga: “ya mungkin belum biasa minum air bersih.” Gubernur, masak gitu? (Red).

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wali Kota Semarang Resmikan TPU Pancasila Dukung FKUB Kota Semarang Jaga Toleransi Hingga Akhir Hayat
Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan: Menjaga Persatuan, Merawat Perdamaian
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Soal Geothermal, Bupati Semarang Tegas: Lanjut atau Tidak, Kewenangan Pusat
Gaji PPPK Mau Diambil Alih Pemerintah Pusat? Jateng Bisa Punya Napas Baru Rp2 Triliun
MUI Jateng Punya “Skuad” Baru: Banyak Profesor, Siap Jadi Cooling System di Tengah Dinamika Zaman
Demi Rp5,3 Triliun, Perut Gunung Ungaran Mau Dibongkar: Dapat Listrik atau Cuma Lubang?
Berita ini 20 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:18 WIB

Wali Kota Semarang Resmikan TPU Pancasila Dukung FKUB Kota Semarang Jaga Toleransi Hingga Akhir Hayat

Minggu, 13 September 2026 - 15:36 WIB

Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan: Menjaga Persatuan, Merawat Perdamaian

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Kamis, 10 September 2026 - 15:15 WIB

FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!

Senin, 7 September 2026 - 20:18 WIB

Soal Geothermal, Bupati Semarang Tegas: Lanjut atau Tidak, Kewenangan Pusat

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB