Sejarah Dualisme PPP: Dari Reformasi Sampai Sekarang

- Penulis

Senin, 29 September 2025 - 08:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Buat yang ngikutin politik pasca-Reformasi, drama internal PPP itu udah kayak sinetron panjang. Sejak 2000-an, partai berlambang Ka’bah ini sering banget pecah jadi dua kubu.

  • 2014–2016: PPP kehebohan besar waktu kubu Suryadharma Ali berseteru dengan elite lain yang nggak sepakat sama keputusan politiknya. Hasilnya? Muncul dua klaim ketua umum, muktamar tandingan, sampai rame-rame gugat ke PTUN.
  • Polanya berulang: setiap ada konflik, biasanya muncul dua hal — muktamar tandingan plus rebutan legalitas di Kemenkumham. Nanti berlanjut ke PTUN, kadang sampai MA. Intinya, siapa yang diakui negara, dialah yang dianggap “sah”.
  • Efek domino: kader di daerah bingung, mesin partai jadi macet, dan suara PPP di pemilu pun cenderung jeblok.

Beberapa riset bahkan nunjukkin konflik internal ini jadi faktor utama PPP susah banget konsolidasi dan bersaing dengan partai Islam lain. Singkatnya, dualisme PPP bukan hal baru. Itu kayak pola lama yang terus terulang.

Kasus Muktamar X: Drama Lama Versi Terbaru

Dua calon ketua umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) saling klaim sebagai ketua umum terpilih meski baru masuk hari pertama Muktamar X, Sabtu (27/9) di Ancol, Jakarta Utara. Mereka adalah Muhammad Mardiono dan Agus Suparmanto.

Awalnya, pimpinan sidang Amir Uskara mengumumkan Mardiono sebagai ketua umum terpilih. Pasalnya, hanya dia satu-satunya calon yang hadir dengan dukungan 1.304 muktamirin pemilik hak suara.

Tapi nggak lama, kubu Agus juga teriak kemenangan, bahkan sampai gelar tasyakuran dan bentuk tim formatur.

Kalau ngikutin sejarah, besar kemungkinan drama ini akan lanjut ke tahap berikut:

Pendaftaran ke Kemenkumham — siapa yang lebih dulu dan lebih kuat bawa dokumen, biasanya lebih unggul.

Sengketa hukum di PTUN — kalau ada kubu yang nggak puas, siap-siap sidang panjang.

Efek ke daerah — kader di bawah sering bingung, “Saya harus loyal ke siapa, nih?”

Kalau nggak segera damai, bisa-bisa PPP masuk lagi ke siklus lama: dualisme berkepanjangan yang bikin partai makin lemah di pemilu.

Kenapa Ini Penting Buat Publik?

Baca Juga :  Mahasiswa Gugat DPR: Rakyat Harus Bisa Pecat Wakilnya di DPR, Titik!

Mungkin ada yang mikir, “Ah, ribut internal partai, buat apa dipikirin?” Tapi jangan salah. Konflik PPP ini punya efek ke banyak hal:

  1. Konsolidasi politik Islam: PPP sebenarnya punya basis kuat dari kalangan tradisional Islam. Tapi kalau terus pecah, suara itu bisa lari ke partai lain.
  2. Kesehatan demokrasi: partai yang nggak solid bakal susah jalankan fungsi politiknya, dari rekrutmen kader sampai pendidikan politik.
  3. Elektabilitas: kalau partai terbelah, jangan heran kalau suaranya makin kecil di pemilu.

Penutup

Drama dualisme PPP kayaknya belum akan berhenti di Muktamar X ini. Dari era Suryadharma Ali sampai sekarang, pola konfliknya selalu sama: muktamar tandingan, klaim legitimasi, rebutan legalitas di Kemenkumham, dan ujung-ujungnya jadi tontonan publik.

Yang jelas, kalau konflik ini nggak segera selesai, PPP berpotensi makin ditinggal pemilih.

Padahal, partai ini punya sejarah panjang sebagai rumah politik umat Islam sejak zaman Orde Baru. Sayang banget kalau energi mereka terus habis hanya buat ribut di dalam rumah sendiri. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
GCI dan Masa Depan Hubungan Indonesia–Tiongkok Dibahas di Jakarta
Berita ini 13 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 22:54 WIB

Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB