Serpihan Harapan untuk Palestina, Refleksi Hasil Sidang PBB

- Penulis

Selasa, 23 September 2025 - 13:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Ilustrasi/ gambar: Vector Stock)

(Ilustrasi/ gambar: Vector Stock)

Oleh: Badat Alauddin*)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Setelah lebih dari tiga dekade sejak Palestina mendeklarasikan kemerdekaannya pada tahun 1988, pengakuan resmi dari Inggris, Australia, dan Kanada pada hari Minggu menjadi momen penting dalam sejarah diplomasi global.

Ketiga negara ini bukan sekadar pemain biasa di panggung internasional; mereka adalah bagian dari blok Barat yang selama puluhan tahun menjadi sekutu erat Israel, bahkan ketika dunia menyaksikan penderitaan rakyat Gaza yang terus berlangsung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pengakuan ini bukan hanya soal simbolik. Ia mencerminkan perubahan sikap moral dan politik yang mungkin didorong oleh rasa bersalah kolektif atas kegagalan menghentikan kekerasan yang telah berlangsung lama.

Selama dua tahun terakhir, serangan brutal Israel terhadap Gaza telah menewaskan ribuan warga sipil, termasuk anak-anak, dan menghancurkan infrastruktur dasar. Dalam konteks ini, pengakuan terhadap Palestina menjadi semacam penebusan dosa — pengakuan atas ketidakadilan historis yang selama ini diabaikan.

Secara historis, Inggris memiliki tanggung jawab khusus atas konflik ini. Deklarasi Balfour tahun 1917, yang menjanjikan tanah Palestina kepada gerakan Zionis, menjadi titik awal dari rangkaian peristiwa yang berujung pada Nakba — pengusiran massal rakyat Palestina pada tahun 1948 — dan pembentukan negara Israel.

Baca Juga :  Self-Discovery di Dunia Maya: Teknologi dan Identitas

Maka, ketika Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan bahwa pengakuan ini bertujuan menghidupkan kembali solusi dua negara, publik berhak bertanya: apakah ini hanya retorika politik, atau benar-benar awal dari perubahan kebijakan yang nyata?

Sayangnya, realitas di lapangan menunjukkan bahwa Israel tidak berniat membiarkan negara Palestina berdiri. Pemerintah Netanyahu secara terbuka menolak solusi dua negara dan terus memperluas pemukiman ilegal di Tepi Barat, bahkan mencaplok wilayah tersebut secara de facto.

Dalam pernyataannya, Netanyahu menyebut pengakuan Palestina sebagai “hadiah untuk terorisme” — sebuah narasi yang menyesatkan dan mengabaikan akar konflik yang sebenarnya: penjajahan, pengusiran, dan pelanggaran hak asasi manusia.

Lebih dari 140 dari 193 negara anggota PBB telah mengakui Palestina sebagai negara merdeka. Namun, negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan beberapa negara Eropa masih menolak pengakuan tersebut.

Sikap ini tidak hanya melemahkan legitimasi perjuangan Palestina, tetapi juga memperkuat impunitas Israel dalam melakukan kekerasan terhadap warga sipil.

Baca Juga :  Kalkulasi Tersembunyi AS: Mengapa Amerika Berburu Pengaruh di Asia Tengah?

Pengakuan saja tidak cukup. Dunia internasional harus melangkah lebih jauh. Embargo senjata dan ekonomi terhadap Israel harus diberlakukan hingga mereka menyetujui gencatan senjata tanpa syarat dan menghentikan pembersihan etnis di Gaza.

Negara-negara Barat yang baru saja mengakui Palestina harus menunjukkan konsistensi moral dengan menekan Israel melalui jalur diplomatik dan ekonomi. Tanpa tekanan nyata, pengakuan ini akan menjadi sekadar gestur politik yang tidak berdampak.

Lebih dari itu, komunitas global harus menetapkan konsekuensi tegas jika Israel terus melanggar hukum internasional. Jika pencaplokan Tepi Barat dan pembantaian di Gaza berlanjut, maka sanksi berat — termasuk isolasi diplomatik dan pemutusan hubungan dagang — harus diberlakukan. Dunia tidak bisa lagi menutup mata terhadap penderitaan rakyat Palestina.

Pengakuan Palestina oleh Inggris, Australia, dan Kanada adalah langkah awal yang penting. Tapi untuk benar-benar mengubah arah sejarah, dunia harus berani bertindak. Karena tanpa keadilan, tidak akan ada perdamaian. (Red)

*) Badat Alauddin, Islamic International University Islamabad, Peneliti Pakistan Studies di GP Ansor Center

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Negara Sibuk Menjaga Perbatasan, Siapa yang Menjaga Pikiran Warganya?
Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita
Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:50 WIB

Ketika Negara Sibuk Menjaga Perbatasan, Siapa yang Menjaga Pikiran Warganya?

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:25 WIB

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB