FOMO dan Kecanduan Eksistensi: Mengapa Kita Terlalu Peduli Dilihat Orang?

- Penulis

Senin, 8 September 2025 - 14:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

(Ilustrasi: freepik)

(Ilustrasi: freepik)

Oleh: Gorgonius Darsan*)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Di era media sosial, hidup seakan berubah menjadi sebuah pertunjukan. Hampir setiap saat orang sibuk mengabadikan momen, membagikan cerita, hingga memamerkan pencapaian.

Seolah tanpa itu semua, keberadaan mereka tidak sah atau kurang bernilai. Fenomena ini tidak lepas dari dua hal: FOMO (fear of missing out) dan apa yang bisa disebut sebagai “kecanduan eksistensi”, yakni kebutuhan konstan untuk dilihat, diakui, dan dikomentari orang lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

FOMO: Ketakutan Akan Tertinggal

FOMO membuat kita terus-menerus memantau kehidupan orang lain, lalu membandingkannya dengan hidup sendiri.

Saat melihat teman atau kerabat pergi liburan, membeli barang mewah, atau tampil bahagia, kita merasa hidup kita membosankan dan tertinggal.

Padahal, yang mereka tampilkan seringkali hanyalah potongan kebahagiaan—bukan gambaran utuh keseharian mereka.

Masalahnya, FOMO tidak hanya mengikis rasa syukur, tetapi juga mendorong kita bertindak bukan karena keinginan tulus, melainkan karena takut terlihat ketinggalan zaman.

Baca Juga :  Esensi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di Era Digital

Akhirnya, hidup kita lebih banyak diatur oleh “apa kata orang” ketimbang oleh kebutuhan dan keinginan sejati.

Kecanduan Eksistensi: Validasi dari Orang Lain

Selain FOMO, masyarakat modern juga terjebak dalam kecanduan eksistensi. “Like”, komentar, dan jumlah share di media sosial sering dijadikan ukuran harga diri.

Tidak jarang, orang rela menghabiskan waktu berjam-jam mengedit foto, menulis caption yang terkesan mendalam, atau bahkan memalsukan gaya hidup hanya demi pengakuan dari orang lain.

Ketika kebahagiaan sepenuhnya bergantung pada reaksi orang lain, kita justru kehilangan kendali atas diri sendiri.

Lalu muncul kegelisahan: Apa yang orang pikirkan tentang aku? Kenapa postinganku sepi “like”? Haruskah aku ikut tren agar tidak dibilang kudet?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini kemudian membuat kita semakin terikat pada panggung semu media sosial.

Jalan Keluar: Menjadi Pemain Utama dalam Hidup Sendiri

Untuk keluar dari jerat ini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama, sadari bahwa media sosial bukanlah realitas utuh. Yang ditampilkan hanyalah highlight momen terbaik, bukan keseluruhan hidup.

Baca Juga :  Ketika Perempuan Dibungkam "Standar Ganda"

Kedua, fokus pada makna, bukan penampilan. Lakukan sesuatu karena memang kamu menikmatinya, bukan demi pujian. Ketiga, batasi penggunaan media sosial. Sesekali lakukan “detoks” digital. Hidup tetap berharga walau tidak selalu diunggah.

Keempat, temukan validasi dari diri sendiri. Bangun rasa percaya diri dari pencapaian nyata, hubungan yang sehat, atau kepuasan sederhana atas apa yang sudah dimiliki.

FOMO dan kecanduan eksistensi adalah produk dunia yang terlalu terhubung secara digital, namun kerap terputus secara emosional.

Kita sering lupa bahwa hidup bukanlah pertunjukan, dan nilai diri tidak diukur dari jumlah penonton atau seberapa sering dilihat orang.

Mungkin sudah saatnya berhenti menjadi pemeran tambahan dalam hidup orang lain, dan mulai menjadi pemeran utama dalam hidup sendiri—tanpa panggung, tanpa “like”, tanpa audiens. (Red)

*) Gorgonius Darsan, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika, Unika St. Paulus Ruteng

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita
Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Pasar Tidak Pernah Benar-Benar Bebas: Memahami Monopoli hingga Oligopsoni dalam Realitas Ekonomi Indonesia
Berita ini 4 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:25 WIB

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital

Berita Terbaru

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB