Kecerdasan Buatan (AI) dalam Masa Depan Pendidikan Indonesia: Antara Harapan dan Jurang

- Penulis

Selasa, 2 September 2025 - 21:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Navita Sari*)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) saat ini telah merambah hampir semua sektor kehidupan, tak terkecuali pendidikan.

Pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan Indonesia merupakan langkah krusial untuk mempercepat pemerataan akses, meningkatkan kualitas pembelajaran, dan mempersiapkan generasi muda menghadapi era digital.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, hanya terhalang tembok tipis, potensi besar ini juga menuntut adanya tantangan yang besar pula agar tidak menciptakan kesenjangan baru dan menggantikan peran manusia dalam proses pendidikan.

AI membawa potensi besar untuk memperluas akses pendidikan. Platform belajar berbasis AI yang mampu menyesuaikan materi sesuai kebutuhan siswa, seperti ChatGPT, Bard, Gemini, Copilot, dan teknologi serupa bisa berfungsi sebagai “asisten belajar” yang siap sedia 24 jam, menjawab pertanyaan, menjelaskan ulang konsep sulit, hingga membantu guru menyiapkan bahan ajar.

AI, terutama generative AI (GenAI), telah digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti pembelajaran, penilaian mata kuliah, maupun pencarian referensi.

Menurut laporan detik.com (2024), Anggota Dewan Eksekutif Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Tinggi (BAN-PT) Indonesia, Prof Chan T Basaruddin menyatakan bahwa AI sudah digunakan untuk berbagai kebutuhan di sektor pendidikan.

Baca Juga :  Perpustakaan Digital Sebuah Gengsi atau Suatu Keharusan?

AI sendiri telah membantu mahasiswa untuk lebih memahami sesuatu.Penelitian UNESCO (2022) juga menyebutkan bahwa pemanfaatan AI dalam pendidikan dapat meningkatkan motivasi serta hasil akademik bila diterapkan dengan tepat.

Di sisi lain, AI juga dapat mengurangi beban para guru. Selama ini, banyak waktu guru tersita untuk mengoreksi ujian, menyiapkan laporan, atau menyusun materi.

Padahal, waktu tersebut bisa lebih bermanfaat untuk interaksi langsung dengan siswa. Aplikasi AI kini mampu memeriksa jawaban esai, menyusun laporan perkembangan siswa, bahkan memberi rekomendasi metode pengajaran.

Namun, disisi lain, potensi AI bisa menjadi pisau bermata dua. Jika tidak diatur dengan baik, AI akan mempercepat timbulnya jurang digital baru.

Siswa yang memiliki akses ke internet dan perangkat canggih akan semakin maju, sementara mereka yang tidak memiliki akses akan semakin tertinggal. Hal ini berpotensi menimbulkan kesenjangan pendidikan.

Selain itu, ketergantungan pada jawaban instan juga berpotensi melemahkan kemampuan berpikir kritis siswa. Jika siswa terbiasa hanya mengetik pertanyaan dan menerima jawaban langsung dari sistem AI, maka proses pencarian, analisis, dan refleksi bisa berkurang.

Baca Juga :  Negara dalam Darurat Konstitusi

Adanya risiko siswa menjadi pasif dan sekadar menerima jawaban tanpa memahami konteksnya. Padahal, keterampilan berpikir kritis inilah yang seharusnya dilatih dalam proses belajar.

Dalam jangka panjang, hal ini bisa menurunkan kualitas generasi muda yang diharapkan mampu menghadapi tantangan kompleks di masa depan.

Masa depan pendidikan Indonesia ditentukan oleh bagaimana kita mengelola teknologi ini.

Jika diarahkan dengan tepat, AI bisa meningkatkan kualitas belajar siswa dan membantu guru dalam konteks pendidikan.

Namun, jika dibiarkan tanpa kendali, ia berpotensi menimbulkan ketimpangan dan mengurangi peran manusia dalam pendidikan.

Karena itu, mari kita pastikan AI hadir sebagai pendamping yang memperkuat peran guru dan siswa bukan penguasa yang mengambil alih proses belajar mengajar.

Dengan aturan yang tepat, AI dapat menjadi jembatan menuju pendidikan Indonesia yang lebih berkualitas untuk semua. (Red)

*) Navita Sari, peminat isu pendidikan, anak usia dini, dan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, mahasiswa Prodi Pendidikan Guru PAUD (PGPAUD), Universitas Negeri Yogyakarta

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 14 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB