Standar Ganda Transparansi: Mengapa Kita Lebih Curiga pada Desa?

- Penulis

Jumat, 19 Desember 2025 - 12:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Azis Ibnu Thufail, Pegiat Desa dan Taman Bacaan Masyarakat

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Kalau rajin scroll lini masa medsos, isu desa sekarang ini rasanya kayak sinetron striping: episodenya sama, judulnya aja yang berbeda.

Isinya? Korupsi kades, demo kades, desa ribut, desa bermasalah. Seolah-olah desa itu biang kerok, bukan korban sistem yang sering gonta-ganti aturan. Framing media digelar masif, rapi, dan konsisten: tanamkan satu pesan “desa tidak bisa dipercaya”.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tujuannya pelan tapi pasti terbaca: dorongan moral agar pusat “turun tangan” dan ups! mengambil alih Dana Desa. Netizen pun digiring jadi bemper kebijakan.

Cukup lempar satu berita viral, sisanya tinggal like, share, marah bersama. Kritik dianggap partisipasi, padahal sering cuma jadi bahan bakar legitimasi.

Baca Juga :  Optimalisasi Potensi Lokal Melalui Penguatan UMKM dan Dampaknya Terhadap Kinerja Ekonomi

Ironisnya, bagi pegiat desa yang paham ruh lahirnya UU Desa dengan asas rekognisi dan subsidiaritas desa itu subjek, bukan objek. Desa diakui, bukan dicurigai.

Desa diberi kewenangan, bukan sekadar disodori program. Tapi sekarang, narasinya dibalik: desa digambarkan tak becus dan selalu salah, lalu diselamatkan lewat sentralisasi.

Pertanyaannya, apakah penggiringan opini ini akan berujung pada revisi UU Desa? Atau lebih jauh lagi, menghapus Dana Desa pelan-pelan?

Supaya desa kembali jadi penonton, cukup jadi lokasi proyek, bukan pengambil keputusan. Desa tidak lagi merancang, hanya melaksanakan. Tidak berpikir, cukup patuh “siap laksanakan”.

Menariknya, saat pemerintah pusat mengambil alih program misalnya pembangunan gerai KDMP apakah ada yang seberani dan serajin media bertanya soal transparansi?

Baca Juga :  Negara dan Feminisme Institusional: Ketika Gender Mainstreaming Hanya Formalitas

Mana papan proyeknya? Anggarannya berapa? Speknya apa? Atau standar kritis itu hanya berlaku kalau yang membangun adalah desa?

Di desa, salah pasang paving langsung viral. Di pusat, proyek megah cukup diresmikan, lalu senyap. Kritik mendadak jadi tabu, transparansi jadi opsional. Mungkin karena desa harus selalu siap diperiksa, sementara pusat cukup dipercaya.

Akhirnya, kita patut bertanya: yang bermasalah desanya, atau cara kita memandang desa? Karena kalau terus begini, bukan tidak mungkin desa akan kehilangan kedaulatannya bukan karena korupsi, tapi karena opini yang sengaja dipelihara. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Guru Dituntut Profesional, Haknya Wajib Dibuktikan: Sorotan Kesejahteraan Pendidik dan Harapan di Ambang Pidato Kenegaraan 14 Agustus
Dilema Perkuliahan ‘Hybrid’: Ketika Efisiensi Anggaran Kampus Mengorbankan Hak Belajar Mahasiswa
Dihadapan Ormas Keagamaan se-Kota Semarang, Ketua FKUB: Persoalan Lingkungan dan Bencana Tanggung Jawab Bersama
Gemuruh Semangat di Sukoharjo, Ratusan Ksatria Penjaga Ulama Resmi Sandang Baret Kebesaran Banser
Semarak HUT RI ke-81, KBRI Tunis dan PPI Tunisia Gelar Merdeka Summer Run & Clean The City
Ilusi Kemajuan di Balik E-Parkir Berlangganan Kota Langsa
Muktamar XVI Tapak Suci Sukses, Ogan Ilir dan Perwil Mesir Dorong Kader Kuasai Bahasa Asing
Lulusan SMK Paling Banyak Menganggur, Kok Bisa?
Berita ini 4 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 20:20 WIB

Guru Dituntut Profesional, Haknya Wajib Dibuktikan: Sorotan Kesejahteraan Pendidik dan Harapan di Ambang Pidato Kenegaraan 14 Agustus

Jumat, 14 Agustus 2026 - 19:57 WIB

Dilema Perkuliahan ‘Hybrid’: Ketika Efisiensi Anggaran Kampus Mengorbankan Hak Belajar Mahasiswa

Jumat, 14 Agustus 2026 - 09:35 WIB

Dihadapan Ormas Keagamaan se-Kota Semarang, Ketua FKUB: Persoalan Lingkungan dan Bencana Tanggung Jawab Bersama

Selasa, 11 Agustus 2026 - 13:12 WIB

Gemuruh Semangat di Sukoharjo, Ratusan Ksatria Penjaga Ulama Resmi Sandang Baret Kebesaran Banser

Senin, 10 Agustus 2026 - 09:38 WIB

Semarak HUT RI ke-81, KBRI Tunis dan PPI Tunisia Gelar Merdeka Summer Run & Clean The City

Berita Terbaru

KILAS GLOBAL

Ratusan Diaspora Indonesia di Tunisia Semarakkan HUT RI ke-81

Minggu, 16 Agu 2026 - 13:10 WIB