Brutalisme Aparat, Jalan Menuju Reformasi Jilid II?

- Penulis

Sabtu, 30 Agustus 2025 - 08:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Busairi Yanto, aktivis HMI, mahasiswa asal Kepulauan Masalembu Kabupaten Sumenep Madura dan penstudi Akuntansi Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang

Busairi Yanto, aktivis HMI, mahasiswa asal Kepulauan Masalembu Kabupaten Sumenep Madura dan penstudi Akuntansi Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang

Oleh: Busairi Yanto*)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Potret pemerintah hari ini seolah menarik ulur emosi masyarakat. Masyarakat tak henti-hentinya dibuat geram oleh pemerintah, mulai dari cara komunikasi publik aparat pemerintah yang kacau balau dan asbun (asal bunyi) hingga pada kebijakan-kebijakannya yang diterapkan secara sembrono dan asal-asalan.

Belum selesai dengan polemik kebijakan pemblokiran rekening dan demo masyarakat pati, masyarakat kini dibuat tambah geram dengan isu kenaikan gaji dan tunjangan DPR di tengah ekonomi rakyat yang semakin melarat. Video anggota dewan yang berjoget-joget juga turut menambah kegusaran publik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tampaknya, Kegusaran masyarakat kini telah mencapai puncak dengan terbunuhnya seorang ojol (Affan Kurniawan) pada 28 Agustus 2025 lalu yang dilindas dengan sadis oleh kendaraan rantis milik Brimob.

Dalam video yang berdar banyak di media sosial, terlihat mobil rantis bertuliskan Brimob tampak melaju kencang menerobos massa demonstran yang tengah berhamburan. Mobil lapis baja itu lantas melindas seorang pengendara ojek online yang tengah berusaha lari dari kerumunan.

Kejadian ini tentunya membuat kita miris dan kesal akan gigantisme dan kebrutalan aparat, massa demonstran yang notabenenya tidak bersenjata dipukuli, ditangkap, ditembak gas air mata dan bahkan dilindas dengan kendaraan lapis baja. Padahal mereka hanya ingin menyampaikan aspirasi dan kekecewaannya terhadap keadaan yang tengah carut-marut di negeri ini.

Baca Juga :  Potret Pentingnya Literasi untuk Meningkatkan Pemahaman dan Daya Nalar Anak di Wilayah Pedalaman Papua

“Terbunuhnya” Affan Kurniawan ini bagi saya akan memicu kemarahan besar masyarakat khususnya para demonstran, aktivis hingga tukang ojol itu sendiri. Kejadian ini tentunya akan memicu lebih banyak aksi dengan massa yang jauh lebih besar.

Berkaca dari Sejarah

Kita bisa melihat dalam peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru selain dipicu oleh faktor utama Gerakan 30 September, juga dipercepat oleh kematian Arif Rahman Hakim dan Zubaedah yang terbunuh oleh tembakan pasukan Tjakrabirawa pada aksi demonstrasi tanggal 24 Februari 1966.

Peristiwa ini kemudian menjadi pemicu demonstrasi besar-besaran mahasiswa menuntut dibubarkannya PKI dan dirombaknya kabinet, sehingga mempercepat jatuhnya kekuasaan Presiden Soekarno.

Begitupun dalam peralihan dari Orde Baru ke era Reformasi, peristiwa Trisakti pada 12 Mei 1998 yang berujung pada terbunuhnya empat mahasiswa Trisakti yakni Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Hendriawan Sie dan Hery Hartanto menjadi titik klimaks yang mendorong mahasiswa untuk melakukan demonstrasi secara besar-besaran menuntut reformasi total dan turunnya Suharto dari kursi presiden.

Perlu diingat dibalik kedua peristiwa tersebut sebetulnya sudah lama terpendam kekesalan dan emosi masyarat terhadap pemerintah.

Hari ini pun demikian, masyarakat sudah lama dibuat geram dan muak oleh pemerintah, ada kekecewaan dan emosi yang lama terpendam, mulai dari pejabat publik yang asbun, kenaikan pajak, pemblokiran rekening, penyitaan tanah rakyat hingga DPR yang menghambur-hamburkan uang sembari berjoget-joget.

Baca Juga :  Di Tengah Gempuran Digital, Mengapa Perpustakaan Masih Relevan?

Berbagai persoalan ini sepertinya akan menjadi penyulut dari lahirnnya demontrasi yang jauh lebih besar.

Dan terbukti dalam waktu kurang dari 24 jam, gelombang demostrasi sudah terjadi hampir diseluruh kota-kota besar di Indonesia, mulai dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Malang hingga Makassar.

Chaos pun tak dapat dihindari, massa yang sudah tesulut emosi menjadi anarkis dan melakukan banyak pengrusakan. Mulai dari pembakaran motor dan beberapa fasilitas umum seperti yang terjadi di Surabaya dan Semarang hingga yang terparah seperti yang terjadi di Makassar, massa aksi membakar gedung DPR-nya.

Meminjam istilah Syamsuddin Haris, pengamat politik Badan Riset Dan Inovasi Nasional (BRIN), Affan “martir dari kekuasaan yang congkak”. Affan Kurniawan telah menjadi martir dari kekuasaan yang congkak dan aparat biadab.

Mari kita lihat nanti akankah peristiwa terbunuhnya Affan ini akan menjadi martir yang mempersatukan berbagai lapisan masyarakat dan akan memicu Reformasi Jillid II?

Dan mungkinkah masyarakat mampu menstabilkan kembali kapal bangsa yang tengah terombang-ambing dan diombang-ambingkan ini. (Red)

*) Busairi Yanto, aktivis HMI, mahasiswa asal Kepulauan Masalembu Kabupaten Sumenep Madura dan penstudi Akuntansi Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 14 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB