Menyoal Koleksi Pernyataan ‘Nyelekit ala Elite’

- Penulis

Rabu, 27 Agustus 2025 - 20:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Di negeri ini, kita tidak kekurangan orang pintar. Yang kita kekurangan adalah pemimpin dan pejabat yang bisa berbicara dengan hati.

Kalau soal koleksi pernyataan, pejabat kita lebih mirip tukang lawak ludruk—bedanya, kalau tukang lawak dibayar buat bikin suasana cair, pejabat dibayar mahal justru malah bikin rakyat nyesel sudah bayar pajak.

Menteri Kesehatan, misalnya. Ia pernah bilang, orang yang gajinya 15 juta lebih sehat dan lebih pintar daripada yang gajinya 5 juta. Kalimat yang terdengar logis—kalau hanya dilihat dari sisi statistik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tapi terasa menampar. Karena jutaan orang Indonesia bekerja dari pagi hingga larut malam, dan tetap hidup di angka UMR. Apakah mereka bodoh? Atau justru sistem yang gagal memberi jalan naik kelas?

Ada juga Nusron Wahid. Ia bilang, tanah nganggur bisa dikuasai negara. “Emangnya mbahmu bisa bikin tanah?” katanya. Kalimat ini mungkin dimaksudkan tegas, tapi rasanya lebih mirip ancaman debt collector ketimbang ucapan pejabat.

Menjadi sangat kasar ketika menyentuh rakyat kecil. Apalagi ketika rakyat masih melihat jutaan hektar sawit, atau laut yang dipagar dan diurug, tidak pernah tersentuh oleh kalimat seperti itu.

Baca Juga :  Ayah, Datanglah Hari Itu

Sri Mulyani, yang katanya menteri keuangan kelas dunia, juga punya kalimat yang akan terus diingat: guru adalah beban negara. Betul, mungkin dalam kerangka APBN, guru adalah pos besar. Tapi menyebut guru sebagai “beban”, terdengar ironis.

Guru adalah orang yang mencetak masa depan. Sementara pejabat, yang gaji dan fasilitasnya jauh lebih besar daripada guru, segala tetek bengek hidupnya dibiayai negara, sampai napasnya pun ditanggung negara, kok nggak pernah disebut beban? Padahal merekalah beban termahal yang pernah dimiliki republik ini.

Ada lagi Ahmad Syahroni. Wakil rakyat—tapi entah rakyat yang mana— dengan enteng bilang: orang yang demo minta DPR dibubarkan adalah orang paling tolol sedunia.

Padahal, DPR ada karena rakyat memilih. Kalau rakyat yang memilih itu “tolol”, maka kualitas hasil pilihannya seperti apa? Bukankah itu artinya DPR sendiri sedang bercermin?

Di tingkat lokal, kita punya Bupati Pati, Sudewo. Ia bilang, kalau rakyat tidak setuju dengan kenaikan PBB 250 persen, silakan demo.

“Jangankan lima ribu, lima puluh ribu pun saya tidak gentar.” Wah, mantap jiwa. Kayak jagoan film koboi. Bedanya, kalau di film, jagoan itu membela rakyat. Kalau ini, jagoannya malah nantangin rakyat.

Baca Juga :  Muhammadiyah "Tidak Lucu", Justru Seriusan Malah Bikin Bangga!

Dan tentu saja, ada Luhut Binsar Panjaitan. Pejabat segala urusan, komentator tetap Indonesia. Baru-baru ini menyuguhkan tembang kontroversial: kritik jelek terhadap pemerintah, katanya, mestinya langsung digusur: “Kalau kritik terus jelek, ya angkat kaki saja dari Indonesia.”

Sulit membayangkan, dalam alam demokrasi, kritik yang dianggap jelek justru disuruh minggir—bukan didengar. Logikanya: yang membayar gaji pejabat ini siapa?

Rangkaian kalimat semacam itu membalik cermin: bukan rakyat yang sedang diuji, tapi negara ini sedang diuji oleh sikap pemimpin dan pejabatnya.

Kalau ada Guinness World Record untuk pernyataan pejabat yang paling membuat rakyat geleng kepala, Indonesia mungkin langganan juara.

Bukan sekali dua kali, tapi setiap tahun. Kata orang bijak, ucapan adalah cermin jiwa. Kalau kita melihat koleksi pernyataan pejabat negeri ini, jiwa mereka tampak jelas: penuh keyakinan, penuh percaya diri.

Tapi entah mengapa, keyakinan itu lebih sering melukai daripada menenangkan. Yang tersisa di hati rakyat bukan tawa lega, tapi getir—mirip beli beras mahal sambil dengar pejabat bilang inflasi terkendali. (*)

Ali Achmadi, praktisi pendidikan, pemerhati masalah sosial, tinggal di Pati

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita
Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Pasar Tidak Pernah Benar-Benar Bebas: Memahami Monopoli hingga Oligopsoni dalam Realitas Ekonomi Indonesia
Berita ini 1 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:25 WIB

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB