Prada Lucky, Nyawa Muda yang Terhenti di Barak Nagekeo (Part 1)

- Penulis

Selasa, 12 Agustus 2025 - 07:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Prada Lucky Namo (23), prajurit TNI di NTT akhirnya meninggal dunia setelah dirawat secara intensif selama empat hari di rumah sakit usai diduga mendapat penganiayaan berat dari seniornya. (Liputan6.com/ Ola Keda)

Prada Lucky Namo (23), prajurit TNI di NTT akhirnya meninggal dunia setelah dirawat secara intensif selama empat hari di rumah sakit usai diduga mendapat penganiayaan berat dari seniornya. (Liputan6.com/ Ola Keda)

Oleh: Yohanes Soares*)

SUARAMUDA.NET, FLORES — Pagi itu, Jumat (8/8/2025), suara burung gereja di halaman rumah keluarga Namo tidak terdengar seperti biasa. Serma Christian Namo, ayah Prada Lucky, menerima telepon dari rekan sesama prajurit.

“Anakmu meninggal,” katanya singkat. Seakan waktu berhenti. Lucky, prajurit muda yang baru enam bulan lalu bersumpah setia pada negara, kini pulang dalam peti berbalut bendera.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kronologi Berdarah
Judul: Jejak Waktu Kematian Prada Lucky
• 6 Agustus 2025 – Prada Lucky menjalani latihan rutin di barak Yonif 843 Nagekeo. Saksi menyebut ada hukuman fisik dari senior.
• 7 Agustus 2025 pagi – Lucky mengeluh sakit ke rekan sebarak. Mengaku dipukul dan dicambuk.
• 7 Agustus 2025 malam – Kondisi Lucky menurun, sempat pingsan.
• 8 Agustus 2025 pukul 06.00 WITA – Ditemukan tidak bernyawa.
• 8 Agustus 2025 sore – Kabar resmi ke keluarga, penyebab awal disebut “sakit mendadak”.
• 9 Agustus 2025 – Bocoran laporan internal menyebut indikasi penganiayaan.
• 10 Agustus 2025 – Empat prajurit senior ditangkap.

Baca Juga :  Hari Pangan Sedunia: Menjaga Rasa, Tradisi, dan Kearifan Lokal (Studi pada Daerah NTT dan Sulawesi Utara)

Peta Lokasi Batalyon
• Titik Lokasi: Yonif 843 di Kabupaten Nagekeo, Flores, NTT.
• Keterangan: Berjarak ±5 km dari pusat kota Mbay, dikelilingi area latihan terbuka dan perumahan dinas.
• Fitur penting: Area asrama di sisi timur batalyon, tempat dugaan penganiayaan terjadi.

Suara Keluarga
“Kalau ini dibiarkan, akan ada Lucky-Lucky lain yang mati tanpa suara,” ujar Serma Christian Namo, tegas.

Ia meminta hukuman setimpal, bahkan hukuman mati bagi para pelaku. Baginya, ini bukan semata pembalasan, tapi upaya menghentikan lingkar kekerasan di tubuh TNI.

Pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie mengingatkan, kekerasan dalam bentuk perpeloncoan berlebihan masih membenih di tubuh militer. “Loyalitas tidak dibangun dari rasa takut, tapi dari rasa hormat,” ujarnya.

Sejumlah mantan prajurit yang dihubungi mengaku tradisi kekerasan di masa pelatihan memang sudah berkurang dibanding era 1990-an, namun kasus Lucky menunjukkan masih ada kantong-kantong pelanggaran.

Transparansi yang Diuji
TNI menahan empat prajurit senior yang diduga terlibat. Namun, publik menuntut proses hukum yang transparan. Bocoran laporan internal yang menyebut adanya pemukulan berulang menjadi bukti awal kuat.

Baca Juga :  Penguatan Kewarganegaraan bagi Generasi Muda

“Korban menerima pukulan dan cambukan lebih dari sekali oleh personel senior di asrama, sehari sebelum ditemukan meninggal dunia.”

Peluang Perubahan Sistemik
Kasus ini seharusnya menjadi momentum reformasi internal:
• Mekanisme Pengaduan Independen: Laporan bisa diajukan langsung oleh prajurit tanpa melalui rantai komando.
• Pelatihan Anti-Kekerasan: Wajib bagi semua prajurit senior.
• Protokol Zero-Tolerance: Hukuman tegas dan publik bagi pelaku.

Penutup
Di pemakaman Lucky, dentum salvo pengormatan tak mampu menutupi isak ibunya yang memeluk erat peti. Di balik kesedihan itu, ada pesan yang bergema: kekerasan bukan jalan pembentukan karakter. Bagi TNI, mengusut kasus ini secara tuntas adalah bukan hanya kewajiban hukum, tetapi juga moral. (Red)

*) Yohanes Soares, aktivis sosial dan peneliti kebijakan pendidikan dan masyarakat daerah tertinggal; mahasiswa S3 Universitas Dr. Soetomo Surabaya

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Negara Sibuk Menjaga Perbatasan, Siapa yang Menjaga Pikiran Warganya?
Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita
Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:50 WIB

Ketika Negara Sibuk Menjaga Perbatasan, Siapa yang Menjaga Pikiran Warganya?

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:25 WIB

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB