Udang di Balik Batu: Membongkar Dosa Tambak Ilegal di Wera, Bima

- Penulis

Selasa, 5 Agustus 2025 - 18:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Mu Amal Farizal — Ketua BEM Universitas Bima Internasional (Unbim) 2025

Mu Amal Farizal — Ketua BEM Universitas Bima Internasional (Unbim) 2025

Oleh: Mu Amal Farizal*)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Di balik tenangnya pesisir Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, tersimpan luka yang kian menganga. Tambak udang ilegal menjamur tanpa kendali, membawa janji kesejahteraan namun justru melahirkan penderitaan.

Alih-alih menjadi berkah, kehadirannya kian nyata sebagai bencana sosial, ekonomi, dan juga lingkungan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hadirnya tambak udang ilegal di wilayah Wera telah merusak ekosistem pesisir secara masif. Mangrove yang selama ini menjadi benteng alami dari abrasi dan penyaring limbah kini ditebang demi kepentingan sesaat.

Akibatnya, kualitas air laut menurun drastis, biota perikanan terganggu, dan nelayan tradisional kehilangan hasil tangkapan.

Pun dengan limbah tambak yang dibuang sembarangan, justru mempercepat pencemaran, mengancam keberlangsungan laut Wera yang selama ini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga.

Baca Juga :  Menanamkan Rasa Kebangsaan di Era Digital: Mengapa Pendidikan Kewarganegaraan Tak Boleh Diabaikan?

Dampak Sosial

Fenomena tambak udang ilegal bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga menimbulkan ketegangan sosial. Banyak dari tambak tersebut berdiri tanpa izin resmi, mengabaikan aspirasi dan hak masyarakat sekitar.

Petani dan nelayan merasa, bahwa ruang hidup mereka direbut. Sementara, segelintir pihak menangguk keuntungan. Situasi ini memicu ketidakadilan dan potensi konflik horizontal yang mengancam keharmonisan sosial di Wera.

Potret tambak udang ilegal di Wera, Bima. (dok istimewa)

Ditinjau dari sisi ekonomi, tambak udang ilegal sama sekali tidak memberikan kontribusi nyata bagi daerah.

Tidak ada pajak yang masuk ke kas daerah, tidak ada program tanggung jawab sosial yang dijalankan, dan juga tidak ada jaminan keberlanjutan usaha.

Justru, jika kerusakan lingkungan semakin parah, biaya pemulihan akan ditanggung pemerintah dan masyarakat — jauh lebih besar daripada keuntungan yang dinikmati pemilik tambak ilegal.

Baca Juga :  Bergerak Bersama Diaspora: "Kereta Cepat Aswaja"

Harapan Rakyat

Masyarakat Wera tidak bisa terus-menerus menjadi korban. Pemerintah Daerah Kabupaten Bima dan aparat penegak hukum harus hadir dan bertindak tegas.

Penertiban dan penegakan hukum bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Regulasi yang jelas, pengawasan ketat, serta keberpihakan nyata kepada masyarakat pesisir harus segera diwujudkan.

Sebab, pembangunan yang mengabaikan aturan dan merampas hak rakyat, pada akhirnya bukanlah pembangunan, melainkan perampokan masa depan.

Sudah saatnya dosa tambak udang ilegal di Wera dibongkar dan dihentikan demi menyelamatkan laut, tanah, dan kehidupan generasi mendatang. (Red)

*) Penulis: Mu Amal Farizal — Ketua BEM Universitas Bima Internasional (Unbim) 2025

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Negara Sibuk Menjaga Perbatasan, Siapa yang Menjaga Pikiran Warganya?
Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita
Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Berita ini 4 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:50 WIB

Ketika Negara Sibuk Menjaga Perbatasan, Siapa yang Menjaga Pikiran Warganya?

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:25 WIB

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB