Edupreneurship, Langkah Ciptakan Kompetensi dan Tumbuhkan Jiwa Wirausaha di Sekolah Kejuruan

- Penulis

Minggu, 25 Mei 2025 - 08:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Alex Arida, Mahasiswa Program Magister Pendidikan Guru Vokasi,  Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Alex Arida, Mahasiswa Program Magister Pendidikan Guru Vokasi, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Oleh: Alex Arida *)

SUARAMUDA, SEMARANG — Muhammad Syauqillah (2022) memberikan batasan, edupreneurship adalah prinsip-prinsip kewirausahaan yang harus dilakukan untuk meningkatkan dan merubah sistem pendidikan.

Edupreneurship ini tidak hanya membahas tentang penciptaan bisnis dalam pendidikan, tetapi juga tentang semangat inovatif dan kewirausahaan yang mendalam untuk menciptakan perubahan positif dalam dunia pendidikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dengan melibatkan semua aspek ini, edupreneurship berkontribusi pada pembentukan masa depan pendidikan yang lebih dinamis, relevan, dan inklusif.

Menurut Ihwan Alim (2009), edupreneurship merupakan bagian dari entrepreneurship yang unik di bidang pendidikan.

Entrepreneurship itu sendiri adalah usaha kreatif atau inovatif dengan melihat atau menciptakan peluang dan merealisasikannya menjadi sesuatu yang memiliki nilai tambah baik dari segi ekonomi, sosial, dan lainnya.

Pada masing-masing bidang, entrepreneurship memiliki istilah masing-masig. Entrepreneurship di bidang sosial disebut sosiopreneurship.

Di bidang edukasi disebut edupreneurship, lalu di internal perusahaan disebut interpreneurship. Sesangkan di bidang bisnis teknologi disebut teknopreneurship.

Pengembangan di Sekolah

Endang Mulyatiningasih, dkk., (2014) mengemukaan bahwa konsep edupreneurship menekankan pada usaha kreatif dan inovatif yang dilakukan sekolah untuk meningkatkan prestasi sekolah dan menambah income.

Berdasarkan konsep di atas, edupreneurship merupakan badan usaha yang dikembangkan dan di manajemen langusng oleh sekolah yang bertujuan untuk meningkatkan prestasi—termasuk meningkatkan kompetensi siswa dan itu bisa menjadi tambahan income buat warga sekolah.

Eduprenuership ini juga bisa dikembangan melalui teaching factory atau bisnis centre yang berada di sekolah.

Dari pemahaman di atas, eduprenuership adalah entrepreneurship dalam pendidikan yang dilakukan untuk merubah pendidikan menjadi lebih baik.

Eduprenuership tidak hanya membahas tentang penciptaan bisnis melainkan lebih ke pada usaha kreatif dan inovatif dalam dunia pendidikan.

Sedangkan eduprenuership sendiri menjadi bagian dari entrepreneurship dan dimanajemen langsung oleh sekolah.

Konsep Eduprenuership di Sekolah Kejuruan

Eduprenuership ini bisa dikembangan melalui teaching factory dan business center yang berada di sekolah. Pertama, Teaching Factory, yaitu konsep pembelajaran kontekstual dengan mendekatkan siswa pada situasi kerja yang sesungguhnya.

Teaching Factory merupakan suatu konsep pendidikan yang memadukan teori dengan praktik industri nyata, dengan tujuan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan siswa dalam bidang tertentu.

Dalam Teaching Factory, siswa dapat belajar dan bekerja dalam lingkungan yang mirip dengan industri nyata, sehingga mereka dapat memperoleh pengalaman yang lebih nyata dan relevan.

Baca Juga :  Fenomena Purbaya: Kejujuran di Tengah Negara yang Tersesat Arah

Teaching Factory memiliki beberapa karakteristik, seperti:
1. Lingkungan industri nyata: Teaching Factory memiliki lingkungan yang mirip dengan industri nyata, sehingga siswa dapat belajar dan bekerja dalam kondisi yang sama dengan industri.

2. Peralatan dan teknologi industri: Teaching Factory dilengkapi dengan peralatan dan teknologi industri yang terkini, sehingga siswa dapat belajar dan bekerja dengan menggunakan peralatan yang sama dengan industri.

3. Proyek berbasis industri: Siswa dapat mengerjakan proyek yang berbasis industri, sehingga mereka dapat memperoleh pengalaman yang nyata dan relevan.

4. Kerja sama dengan industri: Teaching Factory dapat bekerja sama dengan industri untuk memperoleh dukungan dan sumber daya, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman yang lebih nyata dan relevan.

Dengan demikian, Teaching Factory dapat membantu siswa memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menjadi profesional yang kompeten dan siap kerja.

Adapun pelaksanaan Teaching Factory di sekolah dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:
1. Pembangunan fasilitas: Sekolah dapat membangun fasilitas yang mirip dengan industri nyata, seperti laboratorium atau workshop yang dilengkapi dengan peralatan dan teknologi industri.

2. Pengembangan kurikulum: Sekolah dapat mengembangkan kurikulum yang berbasis industri, sehingga siswa dapat belajar dan bekerja dalam lingkungan yang mirip dengan industri nyata.

3. Kerja sama dengan industri: Sekolah dapat bekerja sama dengan industri untuk memperoleh dukungan dan sumber daya, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman yang nyata dan relevan.

4. Proyek berbasis industri: Siswa dapat mengerjakan proyek yang berbasis industri, sehingga mereka dapat memperoleh pengalaman yang nyata dan relevan.

5. Pembimbingan oleh guru dan industri: Siswa dapat dibimbing oleh guru dan profesional industri, sehingga mereka dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan.

6. Penggunaan teknologi: Sekolah dapat menggunakan teknologi untuk meningkatkan pembelajaran dan kerja siswa, seperti menggunakan software dan peralatan industri.

7. Evaluasi dan penilaian: Sekolah dapat melakukan evaluasi dan penilaian terhadap pelaksanaan Teaching Factory, sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan kerja siswa.

Dengan demikian, pelaksanaan Teaching Factory di sekolah dapat membantu siswa memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menjadi profesional yang kompeten dan siap kerja.

Baca Juga :  Natal dan Peran Andil Sang Ibu

Kedua, Business Centre, yakni pusat kegiatan bisnis atau pusat kegiatan ekonomi yang bertujuan mencari keuntungan. Nama lain dari business centre adalah unit produksi yang berada di sekolah.

Seperti kantin yang dikelola sekolah, koperasi yang menyediakan ATK di sekolah, dan lain-lain. Adapun, pelaksanaan bussines centre meliputi beberapa hal:

1. Pembentukan tim bisnis: Siswa dapat dibentuk menjadi tim bisnis yang terdiri dari beberapa orang, sehingga mereka dapat bekerja sama dalam mengembangkan bisnis.

2. Pengembangan ide bisnis: Siswa dapat mengembangkan ide bisnis yang inovatif dan kreatif, sehingga mereka dapat memahami bagaimana bisnis dapat berjalan.

3. Pembuatan rencana bisnis: Siswa dapat membuat rencana bisnis yang mencakup strategi pemasaran, keuangan, dan operasional.

4. Pengembangan produk atau jasa: Siswa dapat mengembangkan produk atau jasa yang dapat dijual atau dipasarkan.

5. Pemasaran dan promosi: Siswa dapat melakukan pemasaran dan promosi produk atau jasa mereka, sehingga mereka dapat memahami bagaimana meningkatkan penjualan.

6. Manajemen keuangan: Siswa dapat memahami bagaimana mengelola keuangan bisnis, termasuk pengelolaan biaya, pendapatan, dan laba.

7. Evaluasi dan perbaikan: Siswa dapat melakukan evaluasi terhadap bisnis mereka dan melakukan perbaikan untuk meningkatkan kualitas dan kinerja bisnis.

Edupreneurship Solusi Pendapatan Sekolah

Edupreneurship bisa menjadi sebuah solusi untuk sekolah dalam meningkatkan prestasi dan juga income (pendapatan) warga sekolah. Prestasi sekolah dimulai dari kompetennya siswa dalam sekolah tersebut.

Semakin banyak siswa yang kompeten di sekolah, artinya sekolah tersebut sukses dalam mendidik siswanya.

Tentunya hal ini lambat laun sekolah akan mendapatkan apresiasi baik dari masyarakat, terjalinnya kerjasama dengan DUDI yang semakin banyak, maupun juga apresiasi dari dinas pendidikan itu sendiri.

Dengan modal kepercayaan dari masyarakat dan DUDI itulah sekolah akan mengalami kemajuan sampai pada sekolah unggul.

Melaluu praktik eduprenuership di sekolah, para siswa sudah terbiasa dengan upaya-upaya entrepreneurship di sekolahnya masing-masing. Dengan begitu, nalar kewirausahaan akan tumbuh dalam diti mereka.

Endingnya, kelak, setelah lulus mereka akan lebih adaptif baik dalam bidang wirausaha maupun bidang kerja di sektor keahlian yang mereka pelajari selama di sekolah. (Red)

*) Alex Arida, Mahasiswa Program Magister Pendidikan Guru Vokasi, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Negara Sibuk Menjaga Perbatasan, Siapa yang Menjaga Pikiran Warganya?
Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita
Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Berita ini 5 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:50 WIB

Ketika Negara Sibuk Menjaga Perbatasan, Siapa yang Menjaga Pikiran Warganya?

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:25 WIB

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB