SUARAMUDA, SEMARANG – Masyarakat Jawa memiliki satu tradisi unik yang digelar tepat sepekan Hari Raya Idul Fitri pada 1 Syawal, yaitu Lebaran Ketupat.
Perayaan Lebaran Ketupat diperingati pada Senin, 7 April 2025, bertepatan dengan 8 Syawal.
Lebaran Ketupat ini menjadi bagian penting dari budaya masyarakat Jawa, terutama karena maknanya yang dalam dan sejarahnya yang erat dengan proses penyebaran Islam di Nusantara.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berawal dari Sejarah Wali Songo
Dilansir Kompas.com, Minggu (6/4/2025) tradisi Lebaran Ketupat diyakini bermula dari masa Wali Songo, khususnya dari sosok Sunan Kalijaga.
Melansir laman banten.nu.or.id, Sunan Kalijaga memperkenalkan ketupat sebagai simbol perayaan Lebaran pada masa Kesultanan Demak yang dipimpin Raden Patah.
Pada masa itu, Sunan Kalijaga memanfaatkan tradisi lokal seperti slametan untuk menyebarkan ajaran Islam.
Ketupat dijadikan media dakwah untuk mengenalkan konsep syukur, silaturahmi, dan sedekah dalam suasana yang akrab dan merakyat.
Menurut budayawan Zastrouw Al-Ngatawi, tradisi kupatan yang muncul pada era Wali Songo adalah hasil adaptasi dari budaya Nusantara yang kemudian dikemas dalam nuansa Islam.
“Kupatan itu bagian dari Islamisasi budaya lokal. Lewat makanan dan kebersamaan, Islam disebarkan dengan pendekatan kultural,” ujarnya sebagaimana dikutip dari nu.or.id.
Makna dan Simbol Lebaran Ketupat
Ketupat bukan sekadar makanan khas saat lebaran. Makanan dari beras yang dibungkus janur (daun kelapa muda) ini memiliki simbolisme yang kuat dalam budaya Jawa dan Islam.
Dikutip dari Kompas.com, terdapat 3 simbol yang kuat mengenai makna dirayakannya Lebaran Ketupat sebagai berikut.
1. Simbol Penyucian Diri
Dalam tradisi masyarakat Jawa, ketupat melambangkan penyucian diri setelah menjalani puasa sebulan penuh di bulan Ramadan.
Struktur ketupat yang padat dan dibungkus rapat menggambarkan hati dan diri manusia yang kembali bersih dari dosa.
Proses puasa yang penuh perjuangan dianggap sebagai sarana untuk membersihkan batin, dan ketupat menjadi simbolisasi dari keberhasilan tersebut.
2. Makna dari Proses Pembuatannya
Lebih dari sekadar makanan, proses membuat ketupat juga memiliki nilai filosofis.
Pengisian beras ke dalam anyaman daun kelapa kemudian dimasak hingga matang menggambarkan pentingnya mengisi hidup dengan hal-hal baik dan berkualitas.
Selain itu, penggunaan janur melambangkan harapan agar kehidupan dipenuhi kesejukan, kesegaran, dan kerukunan antarmanusia.
3. Lambang Kemenangan
Layaknya Idul Fitri yang disebut sebagai hari kemenangan, Lebaran Ketupat juga menjadi perayaan atas keberhasilan menaklukkan hawa nafsu dan menahan diri selama Ramadhan.
Ketupat yang disajikan bersama opor ayam, sambal goreng ati, dan hidangan khas lainnya menjadi simbol kebersamaan keluarga dan rasa syukur atas capaian spiritual tersebut.
Lantas bagaimana masyarakat Jawa merayakan Lebaran Ketupat?
Lebaran Ketupat yang jatuh H plus 7 Idul Fitri umumnya menandai berakhirnya masa lebaran. Lebaran ketupat dimaknai sebagai penutup dari lebaran syawal, dan dimulainya babak kehidupan baru paska Idul Fitri.
Dalam pantauan redaksi, umumya masyarakat pesisir Jawa bagian utara seperti Jepara, Pati, Kudus dan Rembang merayakan Lebaran Ketupat dengan saling berbagi ketupat.
Ketupat yang telah matang biasanya dibagikan kepada tetangga, kerabat, atau masyarakat sekitar sebagai bentuk sedekah dan wujud rasa syukur.
Meski begitu, pada pagi harinya masyarakat berkumpul di mushala atau masjid untuk doa bersama dengan menbawa ketupat lengkap dengan sayur serta ‘lepet’.
Usai doa bersama, mereka kemudian menyantap bersama-sama hidangan yang dibawanya. Baru, setelah ritual itu berakhir, mereka merayakannya dengan liburan syawalan.
Sebagian ada yang bermain ke pantai, gunung, atau ke suatu tempat bareng keluarga, teman komunitas atau dengan warga sekampung. (Red)













Komentar