Korupsi Menghancurkan Rasa Keadilan Sosial?

- Penulis

Rabu, 19 Maret 2025 - 15:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Zerlina Zulaika, Mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Yogyakarta

Zerlina Zulaika, Mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Yogyakarta

Oleh: Zerlina Zulaika *)

SUARAMUDA, SEMARANG – Salah satu masalah besar yang harus dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah korupsi. Penyakit tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi dapat menghancurkan nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Pancasila sebagai dasar negara dan pedoman hidup bangsa Indonesia, memiliki nilai-nilai yang relevan terhadap kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Korupsi telah menghancurkan sila ke-5, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Sila ini menekankan pentingnya keadilan sosial dan kesetaraan bagi seluruh warga negara Indonesia.

Korupsi telah menjadi masalah yang sangat serius di Indonesia, dan telah menghancurkan keadilan sosial di Indonesia.

Dengan korupsi, sumber daya negara yang seharusnya digunakan untuk membangun masyarakat dan meningkatkan kualitas hidup rakyat, malah digunakan untuk kepentingan pribadi dan memperkaya diri sendiri daripada kepentingan sosial.

Ilustrasi Korupsi, sumber: pinterest

Orang yang korupsi tidak akan peduli dengan nasib orang lain, sehingga mereka akan melakukan apa saja untuk mencapai tujuan mereka.

Faktor Tindak Korupsi

Seseorang yang melakukan korupsi dikarenakan dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor dari dalam diri pelaku korupsi, sedangkan faktor eksternal lebih kepada lingkungan sekitar pelaku.

Baca Juga :  Memahami Makna Tahun Baru Rusia: Bukan Natal, Tapi Pesta Rakyat

Kedua faktor ini dapat kita hilangkan dari dalam diri kita apabila kita memiliki penguasaan diri dan juga tingkat pemahaman kita tentang korupsi.

Hal ini telah menyebabkan ketimpangan sosial dan ekonomi yang sangat besar di Indonesia. Rakyat miskin akan semakin miskin, sementara orang-orang kaya dan berkuasa semakin berkuasa.

Pelanggaran terhadap sila ke-5 juga telah menyebabkan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan lembaga-lembaga negara.

Rakyat merasa bahwa pemerintah dan lembaga-lembaga negara tidak lagi melayani kepentingan rakyat, melainkan hanya melayani kepentingan orang-orang yang kaya atau berkuasa.

Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya-upaya yang serius dan efektif untuk mengatasi korupsi dan memulihkan keadilan sosial di Indonesia.

Upaya Mengatasinya

Pemerintah dan lembaga-lembaga negara harus bekerja sama dengan masyarakat untuk mengembangkan sistem yang lebih transparan, akuntabel, dan adil.

Dalam hal ini, perlu dilakukan beberapa langkah strategis, seperti meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan negara, menguatkan lembaga-lembaga anti-korupsi, dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengawasan dan pengelolaan keuangan negara.

Baca Juga :  Menjawab Krisis Kepribadian Generasi Muda dengan Wawasan Pancasila

Optimalisasi pemberantasan tindak pidana korupsi merupakan solusi yang tepat dalam menyikapi maraknya perilaku korupsi.

Keberhasilan pemberantasan korupsi berdampak positif yang meluas bagi rakyat, bangsa dan negara. Karena korupsi menunjukkan pada berbuatan yang tidak jujur dan bersangkutan dengan uang.

Korupsi juga memberikan ancaman yang serius terhadap stabilitas dan keamanan yang dapat melemahkan lembaga-lembaga dan nilai-nilai demokrasi, nilai-nilai etika dan keadilan serta membahayakan pembangunan yang berkelanjutan dan penegakan supremasi hukum.

Dengan demikian, operasionalisasi pemberantasan korupsi sangat penting dilakukan secara komprehensif, integral, dan holistik.

Hal ini diharapkan dapat membangun masyarakat yang lebih adil, sejahtera, dan berintegritas. Serta memastikan bahwa nilai-nilai Pancasila tetap menjadi pedoman dan inspirasi bagi rakyat Indonesia.

*) Zerlina Zulaika, Mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Yogyakarta
**) Artikel ini disusun untuk memenuhi tugas perkuliahan
***) Isi dan pesan dalam artikel bukan menjadi pandangan redaksi

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 14 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB