Menyoal Ketidakadilan di Arena Olimpiade

- Penulis

Jumat, 7 Maret 2025 - 03:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Amy Maulana, Pengamat Center for Media Strategis - mediacenter.ru

Amy Maulana, Pengamat Center for Media Strategis - mediacenter.ru

Oleh: Amy Maulana *)

SUARAMUDA, SEMARANG — Dalam perhelatan olimpiade, setiap negara tentu menyiapkan atlet andalannya untuk bersaing di ajang prestisius tersebut. Dan setiap atlet, tentu memimpikan bisa tampil dan menjadi juara dalam event tersebut.

Namun kita menyaksikan bahwa berdasarkan data statistik Olimpiade beberapa tahun terakhir, negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan negara-negara Eropa Barat menjadi “raja” dalam perolehan medali.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sedangkan, negara-negara berkembang, terutama dari Afrika dan Asia, seringkali hanya berpartisipasi sebagai “pengembira” tanpa meraih prestasi yang signifikan.

Ketimpangan ini bukan hanya disebabkan oleh faktor bakat, tetapi lebih karena kesenjangan akses terhadap sumber daya olahraga.

Pelatihan atlet tingkat dunia memerlukan dana yang besar untuk pelatih profesional, fasilitas modern, dan kompetisi internasional.

Negara-negara berkembang sering kali tidak mampu membiayai hal ini. Banyak di antara negara berkembang mengalami kekurangan stadion, wahana kolam renang, atau trek atletik yang memadai. Hal ini membatasi potensi atlet untuk berkembang.

Yang lebih memprihatinkan lagi—dalam kondisi ekonomi yang sulit terutama di tengah inflasi global saat ini—banyak negara berkembang terpaksa memusatkan anggaran mereka pada sektor-sektor vital seperti kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur dasar.

Baca Juga :  Siapa Pemenang dari Perang Ukraina versus Rusia?

Akibatnya, sektor olahraga sering kali menjadi prioritas terakhir dalam alokasi dana nasional. Lantas dengan dana yang minim, atlet selalu dituntut untuk tampil maksimal, dituntut menjadi juara.

Sementara itu, negara maju memiliki fleksibilitas anggaran yang memungkinkan mereka untuk memberikan perhatian khusus pada pengembangan olahraga.

Dengan investasi besar dalam program pelatihan atletik dan penelitian teknologi olahraga, negara-negara ini akan terus mendominasi perolehan medali di setiap gelaran Olimpiade.

Peran Penting Komite Olimpiade Internasional

Ketimpangan ini sangat bertentangan dengan prinsip universalitas dasar dalam gerakan Olimpiade.

Komite Olimpiade Internasional (International Olympic Committee/ IOC) mendorong adanya persatuan bagi bangsa-bangsa di dunia tanpa memandang ras, ekonomi, dan politik dengan menyatakan bahwa olahraga bersifat mendunia.

Sayangnya, tanpa adanya usaha yang kongkret untuk memperbaiki ketidakadilan ini, prinsip tersebut selamanya akan menjadi sebuah slogan.

Belum adanya keadilan sosial bagi negara-negara demokrasi yang masih dalam taraf pembangunan juga berpengaruh kepada perbanyaknya pengharapan pada kompetisi Olimpiade.

Baca Juga :  Melampaui Bayang-bayang Pendidikan: Membangun Generasi Emas 2025 yang Berkarakter dan Berdaya Saing

Peserta dari negara-negara maju cenderung berpartisipasi, hal ini menambah monokornya daya saing dan semakin mengurangi pencapaian dunia internasional ke dalam lingkaran pasif.

Ketidakseimbangan yang ada antara negara maju dan negara berkembang di Olimpiade adalah masalah kritis yang memerlukan perhatian segera dari Komite Olimpiade Internasional/ IOC.

Jika tidak ditangani, ketidakseimbangan ini tidak hanya akan membahayakan prinsip universalitas yang merupakan esensi dari Gerakan Olimpiade, tetapi juga dapat merusak reputasi Olimpiade sebagai acara olahraga internasional yang bersifat global.

Komite Olimpiade Internasional/ IOC memiliki kewajiban moral dan strategis untuk memastikan bahwa setiap negara memiliki suara dan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan meraih prestasi di Olimpiade.

Dengan melakukan upaya nyata untuk memperbaiki ketidakseimbangan ini, IOC tidak hanya akan memperkuat nilai-nilai inti Olimpiade tetapi juga membangun dunia olahraga yang lebih adil dan inklusif untuk semua. (Red)

*) Amy Maulana, Pengamat Center for Media Strategis – mediacenter.ru

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 10 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB