Jalan Meang Sekotong: “Potret Buram Infrastruktur dan Keputusan yang Tak Kunjung Diambil”

- Penulis

Sabtu, 1 Februari 2025 - 09:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Al Muhaemin, Ketua Umum HMI Komisariat Medica Farma Husada 2025

Al Muhaemin, Ketua Umum HMI Komisariat Medica Farma Husada 2025

Oleh: Al Muhaemin *)

SUARAMUDA, SEMARANG — Kasus seorang ibu hamil yang harus ditandu sejauh 10 kilometer di Dusun Meang, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, kembali menegaskan betapa buruknya kondisi infrastruktur di daerah tersebut.

Bukan hanya sekali, insiden serupa telah terjadi berulang kali, namun hingga kini belum ada langkah konkret dari pemerintah daerah untuk memperbaikinya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketua Komisi IV DPRD Provinsi NTB, Hamdan Kasim, telah mendesak Pemerintah Kabupaten Lombok Barat untuk segera melakukan audit dan menjadikan perbaikan jalan di Dusun Meang sebagai prioritas.

Sayangnya, alasan klasik seperti keterbatasan anggaran terus menjadi tameng bagi lambannya tindakan.

Jika keterbatasan anggaran memang menjadi kendala utama, mengapa hingga kini belum ada upaya serius untuk melobi pemerintah pusat demi mendapatkan Dana Alokasi Khusus (DAK) atau sumber pendanaan lain?

Sementara pemerintah daerah terus berdebat soal anggaran, masyarakat setempat harus terus berjuang dengan kondisi jalan yang nyaris tidak layak disebut infrastruktur.

Jalan yang rusak parah tidak hanya menghambat akses ekonomi, tetapi juga membahayakan nyawa, terutama dalam keadaan darurat seperti kasus ibu hamil yang ditandu tersebut.

Baca Juga :  Pentingnya Parenting Orang Tua Terhadap Perilaku Anak

Dari aspek kesehatan, kondisi jalan yang buruk sangat berisiko bagi masyarakat, terutama ibu hamil, lansia, dan pasien dengan kondisi darurat lainnya.

Waktu yang seharusnya digunakan untuk memberikan pertolongan medis justru terbuang sia-sia karena sulitnya akses ke fasilitas kesehatan.

Dalam keadaan seperti ini, keterlambatan mendapatkan layanan kesehatan bisa berujung pada komplikasi yang fatal, bahkan kematian.

Tidak hanya itu, masyarakat yang tinggal di daerah terpencil juga kesulitan mendapatkan pemeriksaan kesehatan secara rutin, yang pada akhirnya meningkatkan risiko penyakit kronis tidak terdeteksi lebih awal.

Infrastruktur yang memadai bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga berkaitan erat dengan hak dasar setiap warga negara untuk mendapatkan layanan kesehatan yang layak.

Lebih jauh, kondisi ini mencerminkan ketimpangan dalam pembangunan. Daerah yang jauh dari pusat kekuasaan sering kali luput dari perhatian, padahal mereka memiliki hak yang sama untuk mendapatkan fasilitas dasar yang layak.

Bagaimana bisa kita berbicara tentang kemajuan daerah jika akses transportasi saja masih menjadi hambatan besar bagi warga?

Baca Juga :  Paradoks FOMO: Mesin Kecemasan di Balik Keputusan Konsumen

Tak hanya itu, buruknya kondisi jalan juga memperlambat pertumbuhan ekonomi lokal. Petani kesulitan mengangkut hasil panen, pedagang terhambat dalam distribusi barang, dan anak-anak harus bertaruh nyawa hanya untuk bisa sampai ke sekolah.

Ini bukan sekadar isu infrastruktur, tetapi juga persoalan sosial dan ekonomi yang membutuhkan solusi menyeluruh.

Ironisnya, peristiwa ini baru mendapatkan perhatian setelah viral di media sosial. Ini menggambarkan betapa kebijakan publik sering kali baru bergerak ketika ada tekanan besar dari publik.

Apakah harus ada korban jiwa terlebih dahulu agar pemerintah benar-benar bertindak?

Sebagai bagian dari pelayanan dasar, akses infrastruktur yang layak seharusnya menjadi tanggung jawab utama pemerintah, bukan sekadar janji politik atau agenda yang terus ditunda.

Jalan Meang Sekotong adalah bukti nyata bagaimana kelalaian pemerintah dapat berdampak langsung pada kesejahteraan dan keselamatan warganya.

Kini, bola ada di tangan pemangku kebijakan: apakah mereka akan terus beralasan, atau akhirnya memilih untuk bertindak?

*) Al Muhaemin, Ketua Umum HMI Komisariat Medica Farma Husada 2025

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Pasar Tidak Pernah Benar-Benar Bebas: Memahami Monopoli hingga Oligopsoni dalam Realitas Ekonomi Indonesia
Rencana Aksi Kendal: Menyuarakan Aspirasi atau Mengusung Kepentingan Politik?
Berita ini 5 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital

Minggu, 21 Juni 2026 - 01:16 WIB

Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian

Berita Terbaru