Pembukaan Lahan Pertanian di Hutan Pulau Sumbawa dan Dampaknya terhadap Kehidupan Masyarakat

- Penulis

Senin, 27 Januari 2025 - 06:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Al Muhaemin, Mahasiswa S1 Kesehatan Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar

Al Muhaemin, Mahasiswa S1 Kesehatan Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar

Oleh: Al Muhaemin *)

SUARAMUDA, SEMARANG – Pembukaan lahan pertanian di kawasan hutan Pulau Sumbawa, yang mencakup wilayah Sumbawa sampai ujung Timur NTB di Bima, telah menjadi fenomena yang terus berkembang seiring dengan kebutuhan akan peningkatan produksi pangan dan pendapatan ekonomi masyarakat.

Meskipun dampak langsungnya dapat dirasakan dalam peningkatan hasil pertanian, dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat sangat signifikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kegiatan pembukaan lahan yang tidak terencana dengan baik dapat menyebabkan kerusakan ekosistem yang merugikan baik bagi alam maupun manusia.

Dampak Pembukaan Lahan

Hutan-hutan di Sumbawa dan Bima merupakan tempat tinggal bagi banyak spesies flora dan fauna yang sangat berharga. Ketika lahan dibuka untuk pertanian, habitat alami bagi satwa langka dan tumbuhan endemik akan hilang.

Degradasi hutan ini menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati yang sangat mempengaruhi keberlanjutan ekosistem lokal. Masyarakat yang sebelumnya bergantung pada hasil hutan seperti kayu bakar, obat-obatan alami, dan bahan pangan non-tanam, maka ke depan akan semakin kehilangan akses terhadap sumber daya tersebut.

Dampak atas pembukaan lahan antara lain, pertama; peningkatan risiko bencana alam. Pembukaan lahan tanpa mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan akan menyebabkan penggundulan hutan, sementara hutan sangat penting dalam mengatur pola air, menjaga kesuburan tanah, serta mencegah bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan kebakaran hutan.

Di daerah-daerah seperti Kecamatan Lunyuk di Sumbawa dan Kecamatan Woha di Bima, erosi dan longsor menjadi ancaman nyata yang kerap terjadi ketika musim hujan datang. Banjir tidak hanya merusak lahan pertanian, tetapi juga infrastruktur dan rumah-rumah warga, yang pada gilirannya merusak tatanan sosial-ekonomi masyarakat.

Kedua; terjadinya perubahan iklim lokal. Proses pembukaan lahan juga berkontribusi pada pelepasan karbon yang tersimpan dalam tanah dan vegetasi, yang berperan dalam memperburuk perubahan iklim. Di tingkat lokal, suhu udara meningkat, kualitas udara menurun, dan ketersediaan air bersih menjadi masalah besar.

Baca Juga :  Paradoks Menyakitkan Publikasi Ilmiah: Dari Idealisme Keterbukaan ke Kapitalisme Pengetahuan

Perubahan iklim lokal ini mengganggu pola pertanian tradisional dan berdampak pada ketahanan pangan masyarakat. Kekeringan dan perubahan pola curah hujan semakin mengancam keberlanjutan pertanian di daerah pesisir Sumbawa, yang secara langsung berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat.

Ketiga; degradasi tanah dan penurunan produktivitas pertanian. Praktik pertanian yang tidak ramah lingkungan, seperti tebang dan bakar, menyebabkan kerusakan pada struktur tanah. Ketika tanah kehilangan kesuburan, maka hasil pertanian menjadi tidak optimal.

Degradasi tanah ini memaksa masyarakat untuk membuka lebih banyak lahan di kawasan hutan, menciptakan siklus kerusakan yang sulit dihentikan. Dalam jangka panjang, tanah yang terdegradasi akan menjadi tidak produktif dan tidak dapat digunakan untuk pertanian.

Keeempat; terjadinya ketimpangan sosial dan hilangnya mata pencaharian warga. Dalam konteks ini, hutan juga merupakan sumber penghidupan bagi banyak masyarakat adat yang tinggal di sekitar hutan. Maka, jika dilakukan pembukaan lahan pertanian tanpa melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan justru akan menyebabkan ketimpangan sosial.

Masyarakat adat yang bergantung pada hutan sebagai sumber kayu, obat-obatan, dan pangan alami, kini semakin terpinggirkan. Selain itu, konflik antara mereka yang membuka lahan dan mereka yang ingin melestarikan hutan semakin sering terjadi, menciptakan ketegangan sosial yang mengganggu keharmonisan hidup.

Pendekatan dalam Penanganan

Salah satu solusi untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mendukung keberlanjutan pertanian adalah dengan menerapkan sistem agroforestri, yaitu memadukan pertanian dengan tanaman pohon yang memiliki nilai ekonomi dan ekologis.

Pendekatan ini dapat meningkatkan keberagaman hayati, memperbaiki kualitas tanah, dan mengurangi risiko erosi. Dengan agroforestri, masyarakat dapat tetap memenuhi kebutuhan pangan tanpa harus merusak hutan secara besar-besaran.

Pemerintah dan masyarakat juga dapat bekerja sama dalam program rehabilitasi hutan yang telah rusak. Penanaman pohon-pohon lokal dan program penghijauan dapat memperbaiki ekosistem yang hilang dan meningkatkan kualitas tanah.

Di samping itu, praktik pengelolaan tanah yang lebih baik, seperti penggunaan teknik konservasi tanah, dapat mengurangi erosi dan menjaga kesuburan tanah, mendukung keberlanjutan pertanian jangka panjang.

Baca Juga :  Ketika Kebenaran Terkikis Hoaks: Masihkah Perpustakaan Menjadi Benteng Terakhir Akal Sehat Kita?

Upaya lain yang dapat dilakukan yakni dengan melakukan peningkatan infrastruktur pertanian yang ramah lingkungan, seperti sistem irigasi yang efisien dan penggunaan pupuk organik, dapat membantu meningkatkan hasil pertanian tanpa perlu membuka lebih banyak lahan.

Teknologi pertanian yang lebih canggih, seperti penggunaan pestisida alami atau teknik pertanian presisi, juga dapat mengurangi ketergantungan pada lahan baru dan mengurangi kerusakan lingkungan.

Pendidikan tentang pentingnya menjaga kelestarian alam serta pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan juga harus diberikan kepada masyarakat, terutama mereka para petani.

Penyuluhan tentang metode pertanian yang lebih ramah lingkungan dan manfaat jangka panjang dari keberlanjutan ekologis dapat membantu masyarakat memahami bahwa melestarikan hutan dan tanah adalah investasi untuk masa depan mereka. Penyuluhan juga dapat menciptakan kesadaran kolektif dalam menjaga keseimbangan alam.

Pemerintah, penting pula melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan terkait pengelolaan lahan dan hutan. Dengan memberikan peran aktif kepada masyarakat lokal dalam konservasi alam dan pemberdayaan ekonomi berbasis lingkungan, kita bisa mencapai keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian alam. Pengelolaan berbasis komunitas juga akan mengurangi potensi konflik sosial antara kelompok yang memiliki kepentingan berbeda.

Pembukaan lahan pertanian di hutan Sumbawa dan Bima memang memberikan manfaat ekonomi jangka pendek, tetapi dampak negatif terhadap lingkungan dan kehidupan sosial semakin terasa. Kerusakan ekosistem, peningkatan bencana alam, dan penurunan kualitas hidup masyarakat menunjukkan bahwa pendekatan pembangunan yang berkelanjutan sangat diperlukan.

Solusi yang ditawarkan, seperti agroforestri, rehabilitasi hutan, penggunaan teknologi pertanian ramah lingkungan, serta peningkatan kesadaran masyarakat, dapat menjadi langkah penting dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian alam. Dengan langkah-langkah ini, kita dapat memastikan bahwa keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat tetap terjaga untuk generasi mendatang. (Red)

Oleh: Al Muhaemin, Mahasiswa S1 Kesehatan Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Pasar Tidak Pernah Benar-Benar Bebas: Memahami Monopoli hingga Oligopsoni dalam Realitas Ekonomi Indonesia
Rencana Aksi Kendal: Menyuarakan Aspirasi atau Mengusung Kepentingan Politik?
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital

Minggu, 21 Juni 2026 - 01:16 WIB

Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian

Berita Terbaru