Dilema Garuda Indonesia di Tengah Kebijakan Harga Tiket Murah

- Penulis

Selasa, 7 Januari 2025 - 15:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Jovanca Lintang A.Y*)

SUARAMUDA, SEMARANG — Kebijakan pemerintah dalam upaya menurunkan harga tiket pesawat selama Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Nataru) menuai reaksi yang beragam.

Oleh pemerintah, langkah ini diambil untuk membantu masyarakat sekaligus meningkatkan sektor pariwisata. Namun di balik kebijakan tersebut, maskapai seperti Garuda Indonesia harus menanggung kerugian signifikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lantas timbul pertanyaan tentang efektivitas dan dampaknya dalam jangka panjang. Apakah kebijakan ini merupakan solusi yang ideal atau hanya menambah beban bagi industri penerbangan?

Penurunan harga tiket pesawat sebesar 10% selama Nataru bertujuan mendukung daya beli masyarakat di musim libur panjang. Meski terlihat menguntungkan bagi masyarakat, namun di sisi lain kebijakan ini justru menjadi tantangan besar bagi maskapai penerbangan.

Maskapai Garuda Indonesia mau tidak mau harus menghadapi kerugian besar. Perusahaan yang mencatat kerugian sebesar US$131,22 juta pada kuartal III 2024 kini harus bersiap kehilangan pendapatan lebih banyak akibat kebijakan ini.

Dilema Garuda Indonesia

Tapi apa boleh buat, penurunan harga tiket pesawat selama liburan akhir tahun ini merupakan langkah yang sejalan dengan arahan pemerintah untuk meningkatkan aksesibilitas transportasi udara.

Tiket yang lebih murah memang memungkinkan masyarakat untuk bepergian dan mendukung pemulihan ekonomi, khususnya di sektor pariwisata.

Baca Juga :  Strategi Komunikasi Kolaboratif antara Pemerintah dan UMKM: Meningkatkan Mutu Produk Lokal di Kabupaten Bekasi
Dilema Garuda Indonesia di tengah kebijakan harga tiket murah / gambar: pinterest

Pemerintah memperkirakan penghematan rata-rata sebesar Rp157.500 per tiket akan dirasakan masyarakat, dengan total penghematan mencapai Rp472,5 miliar selama masa liburan.

Namun, kebijakan ini tidak lepas dari kritik. Pengamat penerbangan, Alvin Lie, menyatakan bahwa kebijakan ini bersifat sementara dan hanya memindahkan beban kepada maskapai dan pengelola bandara.

Ia menyoroti bahwa diskon avtur sebesar 5% dan potongan biaya bandara hingga 50% tidak cukup untuk menutupi kerugian yang ditimbulkan.

Garuda Merugi?

Dengan kontribusi avtur mencapai 40% dari biaya operasional, diskon ini hanya mengurangi biaya sekitar 2%, sementara pendapatan maskapai bisa turun hingga 8%. Akibatnya, maskapai tetap menghadapi kerugian bersih sekitar 6%.

Dari sisi maskapai, Garuda Indonesia juga harus menghadapi dampak perubahan skema pembayaran sewa pesawat dari “pay by the hour” menjadi “fixed lease cost.”

Skema ini meningkatkan tekanan finansial di tengah upaya perusahaan untuk pulih dari krisis sebelumnya. Selain itu, beban biaya operasional yang terus naik, seperti biaya perawatan dan kebandaraudaraan, membuat maskapai semakin sulit untuk menutup kerugian. Namun, di sisi lain, kebijakan ini tetap membawa manfaat besar bagi masyarakat.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Wamildan Tsani Panjaitan, menyebut bahwa harga tiket yang lebih terjangkau berpotensi meningkatkan jumlah penumpang selama masa liburan.

Baca Juga :  Paradoks Pendidikan Tinggi: Ketika Mahasiswa Enggan Berdiskusi

Penurunan harga tiket juga diharapkan menjadi pendorong mobilitas masyarakat untuk berkumpul dengan keluarga saat liburan, sekaligus mendukung pemulihan ekonomi kreatif dan pariwisata.

Pun dengan Menteri BUMN Erick Thohir, menegaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari komitmen pemerintah untuk memberikan manfaat langsung kepada rakyat, meskipun harus mengorbankan pendapatan maskapai.

Evaluasi Mendatang

Pemerintah juga menyusun roadmap lima tahun untuk mengurangi fluktuasi harga tiket di momen-momen penting seperti Nataru dan Idul Fitri, yang sering memberatkan masyarakat.

Kebijakan penurunan harga tiket pesawat selama Nataru membawa manfaat besar bagi masyarakat, tetapi dampaknya terhadap keuangan maskapai seperti Garuda Indonesia perlu menjadi perhatian serius.

Di satu sisi, langkah ini mendukung mobilitas dan daya beli masyarakat, serta sektor pariwisata. Namun di sisi lain, maskapai harus menanggung kerugian signifikan yang berpotensi mengancam keberlanjutan bisnis mereka.

Untuk itu, diperlukan solusi jangka panjang yang lebih seimbang. Pemerintah perlu memperkuat kolaborasi dengan pihak maskapai, penyedia bahan bakar, dan pengelola bandara untuk menekan biaya operasional secara menyeluruh.

Langkah ini tidak hanya akan menjaga keberlanjutan bisnis maskapai, tetapi juga memastikan bahwa masyarakat tetap dapat menikmati transportasi udara dengan harga yang terjangkau di masa mendatang. (Red)

*) Jovanca Lintang A.Y., mahasiswa Administrasi Publik, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 40 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB