Jebakan Konsumerisme Dibalik Ungkapan “Self-Reward”

- Penulis

Sabtu, 28 Desember 2024 - 07:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Self-Reward/ ilustrasi: Pinterest

Self-Reward/ ilustrasi: Pinterest

SUARAMUDA, SEMARANG – Akhir tahun umumnya menjadi momen liburan yang dinanti-natikan. Tak jarang masyarakat menggunakan momen ini untuk mengunjungi pusat perbelanjaan mengingat banyaknya potongan harga akhir tahun.

Sebagian besar masyarakat mengasosiasikan momen akhir tahun sebagai kesempatan untuk berbelanja sekaligus bentuk apresiasi terhadap diri sendiri atas kerja keras selama satu tahun atau dikenal dengan self-reward.

Namun ungkapan self-reward acapkali diistilahkan sebagai bentuk aplikasi dari self-care. Padahal self-reward dan self-care pada dasarnya adalah dua hal yang berbeda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Self-reward merupakan istilah yang digunakan untuk memberikan apresiasi kepada diri sendiri atas pencapaian atau usaha yang telah dilakukan sebagai bentuk merawat kesehatan mental (self-care).

Walaupun saling berhubungan, aktivitas self-reward tidak bisa selalu disamakan sebagai bentuk dari self-care. Dan dewasa ini penggunaan self-reward seringkali dieksploitasi sebagai alat untuk menjustifikasi aktivitas konsumerisme, terutama oleh generasi muda.

Ketika hendak mau membeli sesuatu, generasi muda menggunakan istilah self-reward untuk membenarkan perbuatannya. Padahal, self-reward ini sebenarnya hanya didasari dengan keinginan atau desire yang tidak bersifat mendesak, bahkan di luar kebutuhan.

Jebakan lewat ungkapan self-reward

Umumnya, self-reward ini digunakan sebagai dalih untuk membeli barang-barang yang bersifat mewah. Alih-alih meningkatkan motivasi kerja, perilaku self-reward yang tidak terkontrol justru banyak menjebak generasi muda dalam budaya konsumerisme.

Generasi muda bersembunyi dibalik kata “self-reward” untuk membeli barang-barang mewah sehingga menambah beban pengeluaran yang sebenarnya tidak perlu.

Bukannya menyejahterakan, budaya self-reward yang tidak tepat malah mengakibatkan pemborosan berlebih dan secara jangka panjang berakibat pada kondisi finansial yang tidak stabil.

Dalam cakupan yang lebih luas, penyalahgunaan terminologi self-reward dalam kehidupan sehari-hari berakibat pada kebiasaan belanja yang buruk dan tidak terkontrol.

Self-Reward/ ilustrasi: Pinterest

Ditambah dengan kondisi finansial yang belum stabil pada generasi muda, aktivitas self–reward secara ekstrim dapat menjerat generasi muda dalam utang.

Baca Juga :  Plastik, Benda Ringan Pembawa Ancaman

“Iya gapapa, sekali-kali aja kok”, “Aku beli ini sebagai self-reward supaya lebih semangat bekerja”, begitulah kira-kira gambaran ungkapan yang sering digunakan generasi muda untuk membeli barang dengan alasan self-reward.

Sebenarnya sah-sah saja jika hendak melakukan self-reward. Rounak Sharma dalam emeritus.org menyampaikan pentignya self-reward dalam menjaga motivasi dan membangun fokus dalam bekerja. Secara ilmiah, aktivitas self-reward ini mampu meningkatkan produksi dopamin pada otak.

Dopamin sebagai neuro transmitter berperan menaikkan ‘mood’, menghasilkan rasa kebahagiaan, bahkan mempertajam resistensi memori. Peningkatan produksi dopamin ini pada akhirnya berperan dalam meningkatkan produktivitas dan motivasi kerja.

Apakah self-reward hanya bisa dilakukan dengan membeli barang saja?

Faktanya, Holly Connors dalam artikelnya mengatakan bahwa self-reward tidak melulu tentang menghadiahi diri dengan kemewahan.

Esensi utama dari self-reward adalah bagaimana seseorang individu mampu menjaga gaya hidup yang sehat dan seimbang. Milenial dan Gen-Z menjadi generasi yang dibesarkan dengan tekanan dan beban kerja yang tinggi.

Tuntutan-tuntutan ini memiliki kecenderungan untuk menciptakan budaya kerja yang ‘toxic’ sehingga membuat mereka sebagai kalangan yang rentan terhadap stres dan ‘burned out’.

Hal tersebutlah yang melatarbelakangi aktivitas self-reward dan self-care banyak digaungkan oleh para pemerhati kesehatan mental. Self-reward dapat dilakukan dengan banyak cara dengan menyesuaikan karakter diri.

Self-reward versi lain

Aktivitas self-reward yang sama belum tentu belum tentu memiliki dampak yang sama jika diterapkan ke orang yang berbeda. Beberapa bentuk self-reward dapat berupa hal-hal kecil yang meningkatkan kesenangan pribadi.

Selain menghadiahi diri dalam bentuk barang, kita bisa melakukan self-reward melalui aktivitas fisik atau kegiatan yang menyenangkan. Kegiatan ini bersifat personal dan menyesuaikan hobi yang dimiliki.

Baca Juga :  KUHP Baru Segera Berlaku, Revisi KUHAP Tak Kunjung Rampung: Ancaman Inkonsistensi dan Krisis Kepastian Hukum

Hal tersebut dapat berupa membaca buku, berolahraga, menonton film, atau bahkan sesederhana menyempatkan waktu untuk bermain game di ponsel.

Tidak selalu diasosiasikan dengan barang-barang mewah, kita bahkan dapat mengapresiasi diri kita dengan membeli makanan kesukaan kita seperti eskrim dan kue coklat.

Bagi beberapa orang, bentuk kegiatan self-reward yang efektif dapat berupa kegiatan sosial yang melibatkan banyak orang, seperti makan malam bersama keluarga dan bermain bersama teman.

Sebuah handout dari Bowdoin College Amerika Serikat, memberikan tips efektif apabila ingin menghadiahi diri dengan membeli barang agar tidak melenceng dari esensiself-reward yang sebenarnya. Dalam menghadiahi diri sendiri, mulailah dengan membuat list benda-benda yang diinginkan.

Melalui cara ini, kita akan lebih terarah untuk membeli barang yang benar-benar kita inginkan, bukan hanya membeli barang yang menarik ketika kita melintasi perbelanjaan. Strategi lain yang bisa kita lakukan adalah dengan menerapkan“rewards saving”.

Mulailah untuk menyisihkan uang setiap kali kita berhasil mengerjakan sesuatu, kemudian gunakanlah tabungan tersebut untuk membeli barang yang ada pada list keinginan kita sebagai bentuk self-reward. Hal ini mendorong terciptanya self-reward yang personal dan bermakna.

Self-reward pada intinya kembali kepada bagaimana usaha untuk menciptakan pola hidup yang seimbang dengan menyediakan waktu khusus untuk menyenangkan diri. Dari pada berfokus untuk menghadiahi diri dengan membeli barang mewah, gunakan kesempatan dari self-reward untuk mengenali dan meningkatkan kualitas diri.

Diperlukan kontrol diri yang baik dalam melakukan self-reward agar tidak terjebak pada aktivitas konsumerisme dan pemborosan. Jangan jadikan self-reward sebagai gaya hidup, melainkan bangun budaya self-reward yang positif dan produktif dengan menyesuaikan kemampuan dan kepribadian diri.

*) Penulis: Fiona Xaveria Yuniardi, mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Pasar Tidak Pernah Benar-Benar Bebas: Memahami Monopoli hingga Oligopsoni dalam Realitas Ekonomi Indonesia
Rencana Aksi Kendal: Menyuarakan Aspirasi atau Mengusung Kepentingan Politik?
Berita ini 0 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital

Minggu, 21 Juni 2026 - 01:16 WIB

Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian

Berita Terbaru