Memaknai Urgensi Belajar Sepanjang Hayat

- Penulis

Kamis, 12 Desember 2024 - 17:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi belajar sepanjang hayat/ sumber; pinterest

Ilustrasi belajar sepanjang hayat/ sumber; pinterest

SUARAMUDA, SEMARANG — Pendidikan sering kali dianggap sebagai proses formal yang berlangsung di dalam ruang kelas, dimulai Taman Kanak-kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT). Namun, seiring perkembangan zaman, pandangan ini mulai bergeser.

Pendidikan tidak lagi terbatas pada bangku sekolah. Konsep ‘Life Long Learning’ atau belajar sepanjang hayat menjadi semakin relevan, terutama di dunia yang terus berubah ini.

Belajar Sepanjang Hayat

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Belajar sepanjang hayat adalah proses pembelajaran yang berkelanjutan dan berlangsung sepanjang hidup seseorang. Ini mencakup pembelajaran formal, nonformal, dan informal.

Pembelajaran formal dapat dimaknai sebagai pendidikan yang diperoleh melalui sistem sekolah, seperti sekolah dasar, menengah, atau perguruan tinggi. Sedangkan pembelajaran nonformal, pendidikan yang mencakup kursus, pelatihan, atau seminar yang dilakukan di luar sistem pendidikan formal.

Adapun pembelajaran informal terjadi secara alami dalam kehidupan sehari-hari, seperti belajar dari pengalaman, membaca buku, atau berdiskusi dengan orang lain.

Dalam konteks ini, belajar sepanjang hayat tidak hanya berfokus pada penguasaan pengetahuan akademik, tetapi juga pengembangan keterampilan, nilai, sikap yang relevan dengan kehidupan dan pekerjaan.

Muh. Harvin (2020) menjelaskan konsep pendidikan sepanjang hayat, yang diantaranya berupa kegiatan-kegiatan pendidikan dianggap sebagai suatu keseluruhan. Ia menyebutkan, seluruh sektor pendidikan merupakan suatu sistem yang terpadu.

Konsep ini harus disesuaikan dengan kenyataan serta kebutuhan masyarakat yang bersangkutan. Sebab, suatu masyarakat yang telah maju akan memiliki kebutuhan yang berbeda dengan masyarakat yang belum maju.

Ilustrasi belajar sepanjang hayat/ sumber; pinterest

Penulis mengidentifikasi urgensi belajar sepanjang hayat bagi generasi muda saat ini. Pertama, adanya gejala perubahan teknologi yang pesat. Perkembangan teknologi yang begitu cepat telah mengubah cara kita hidup dan bekerja.

Baca Juga :  MBG dan Ujian Kepemimpinan: Antara Janji Kesejahteraan dan Realitas Implementasi

Pekerjaan yang ada beberapa tahun lalu mungkin sudah tergantikan oleh teknologi baru, sementara pekerjaan baru terus bermunculan. Hal ini menuntut individu untuk terus belajar agar dapat beradaptasi dengan perubahan.

Misalnya, di bidang teknologi informasi, seorang profesional perlu terus memperbarui keterampilannya karena alat dan bahasa pemrograman selalu berkembang.

Kedua, adanya upaya peningkatan kesejahteraan pribadi. Jadi, di sini, belajar tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup seseorang.

Misalnya, mempelajari keterampilan seperti memasak, berkebun, atau bermain alat musik dapat meningkatkan kebahagiaan dan keseimbangan hidup. Selain itu, belajar juga memberikan rasa pencapaian dan tujuan, yang penting bagi kesehatan mental.

Ketiga, adanya tuntutan kebutuhan dunia kerja. Menjadi wajar, di era globalisasi ini kompetensi kerja tidak lagi diukur dari gelar pendidikan formal. Kini, justru banyak perusahaan yang mencari karyawan dengan keterampilan spesifik yang relevan dengan pekerjaan, seperti kemampuan analitis, komunikasi, atau penguasaan teknologi tertentu.

Tentu, hal ini mendorong individu untuk terus belajar melalui pelatihan atau sertifikasi tambahan. Tujuannya tak lain agar dirinya menjadi lebih kompeten, serta mampu bersaing dengan sumberdaya manusia lainnya.

Keempat upaya mendukung perkembangan masyarakat. Ketika lebih banyak orang menerapkan prinsip belajar sepanjang hayat, masyarakat secara keseluruhan akan lebih inovatif dan adaptif.

Orang-orang yang terdidik dan terus belajar cenderung memiliki wawasan yang luas, mampu menyelesaikan masalah dengan baik, dan berkontribusi pada kemajuan sosial.

Kelima, usia bukan halangan untuk belajar. Banyak orang yang berfikir bahwa belajar hanya untuk anak-anak atau remaja.

Padahal, belajar sepanjang hayat memungkinkan seseorang untuk tumbuh dan berkembang disetiap tahap kehidupan. Misalnya, seseorang yang pensiun dapat mempelajari hobi baru, memulai bisnis kecil, atau bahkan melanjutkan pendidikan formal.

Baca Juga :  Mampukah Banteng Menjaga Kandangnya di Jawa Tengah?

Lantas, bagaimana penerapan penerapan belajar sepanjang hayat?

Kita sepakati, bahwa pendidikan sesungguhnya bukan hanya berlangsung di bangku sekolah. Pendidikan akan mulai segera setelah anak lahir dan akan berlangsung sampai manusia meninggal dunia, sepanjang ia mampu menerima pengaruh-pengaruh.

Oleh karena itu, proses pendidikan akan berlangsung dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Maka belajar sepanjang hayat dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.

1. Membaca secara rutin. Membaca adalah salah satu cara termudah untuk terus belajar. Buku, artikel, atau jurnal dapat membuka wawasan baru dan memperluas pengetahuan Anda.

2. Mengikuti kursus atau pelatihan. Kursus online atau pelatihan langsung kini tersedia diberbagai bidang. Platform Coursera, Udemy, dan Skillshare menyediakan akses ke ribuan kursus dengan biaya yang terjangkau, bahkan gratis.

3. Mencatat dan merefleksi diri. Membuat catatan harian tentang pengalaman sehari-hari dapat membantu Anda mengevaluasi apa yang telah dipelajari. Refleksi diri adalah cara yang efektif untuk memperkuat pembelajaran informal.

Kita yakin, bahwa dengan melaksanakan konsep ‘Life Long Learning’ kita akan menjadi sumberdaya yang siap menghadapi tantangan dan era persaingan global. Setidaknya, kita akan mampu meningkatkan adaptasi diri serta mampu menjaga kesehatan mental dengan baik.

Dan yang lebih penting, koneksi sosial akan lebih mudah dibangun dalam rangka menunjang karir yang ebih cemerlang. Sisi lainnya, kita bahkan mampu memberikan rasa kepuasan diri. (Red)

*) Penulis: Isnaya Nur Hayati, mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
*) Artikel ini ditulis dan disusun untuk kepentingan tugas kuliah

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Pasar Tidak Pernah Benar-Benar Bebas: Memahami Monopoli hingga Oligopsoni dalam Realitas Ekonomi Indonesia
Rencana Aksi Kendal: Menyuarakan Aspirasi atau Mengusung Kepentingan Politik?
Berita ini 3 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital

Minggu, 21 Juni 2026 - 01:16 WIB

Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian

Berita Terbaru