Ketika Ketua PBNU Berbicara Komunisme dan Civil Society

- Penulis

Minggu, 8 Desember 2024 - 22:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua PBNU H Ulil Abshar Abdalla saat menjadi narasumber di Muktamar Ilmu Pengetahuan ke 2. Sabtu, 7/12/2024

Ketua PBNU H Ulil Abshar Abdalla saat menjadi narasumber di Muktamar Ilmu Pengetahuan ke 2. Sabtu, 7/12/2024

Surakarta, SUARAMUDA
Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PWNU Jawa Tengah sukses menyelenggarakan Muktamar Ilmu Pengetahuan ke-2 di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta pada Sabtu-Minggu, 7-8 Desember 2024.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini menghadirkan sejumlah narasumber ternama, salah satunya adalah Ketua PBNU, KH Ulil Abshar Abdalla, yang akrab disapa Gus Ulil.

Dalam sesi plenary bertajuk “Menengok Kembali Basis Epistemologi NU sebagai Civil Society”, Gus Ulil mengulas perjalanan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai elemen masyarakat sipil (civil society).

Ia menghubungkan konsep ini dengan pengalaman sejarah serta relevansinya di era modern.

“Pada 1980-an, teori civil society dimaknai sebagai kekuatan yang, jika tidak melawan pemerintah, setidaknya menjadi oposisi atau penyeimbang kekuasaan. Pengalaman Eropa Timur, seperti perlawanan terhadap rezim komunis di Polandia dan Cekoslovakia, menjadi inspirasi besar bagi aktivis di Indonesia saat itu, termasuk aktivis NU,” ungkap Gus Ulil.

Ia juga menyebut nama Václav Havel, tokoh oposisi pemerintahan komunis di Cekoslovakia yang kemudian menjadi presiden. Havel menulis buku The Power of the Powerless, yang menjadi bacaan wajib aktivis di Indonesia, termasuk Gus Ulil sendiri.

Civil Society dan Konteks NU di Indonesia
Gus Ulil menyoroti bagaimana teori civil society digunakan sebagai alat untuk melawan otoritarianisme, termasuk di era Orde Baru. Konsep ini juga relevan dengan perjuangan melawan kolonialisme di masa lampau.

Baca Juga :  Usai Nyoblos, Gus Yasin : Siapapun yang Menang, Insya Allah Pemenangnya Rakyat Jawa Tengah
Para narasumber dalam Muktamar Ilmu Pengetahuan ke 2 Tahun 2024

“Pada masa kolonial, komunisme menarik perhatian banyak tokoh Islam, seperti Kiai Misbah dari Solo. Bahkan, pemberontakan PKI tahun 1926 melibatkan beberapa ustaz dan tokoh Islam di Sumatera Barat. Bukan karena komunisme sesuai dengan kepercayaan agama mereka, tetapi karena ia menjadi alat teoritik yang dibutuhkan untuk melawan penjajahan,” jelas Gus Ulil, yang juga menantu KH Mustofa Bisri (Gus Mus).

Ia menambahkan bahwa civil society pada dasarnya adalah konsep dinamis yang digunakan sesuai konteks zamannya.

“Pada 1980-an, teori ini memberikan justifikasi bagi aktivis untuk melawan Orde Baru, sebagaimana komunisme menjadi teori perlawanan melawan kolonialisme pada 1920-an,” tandasnya.

Muktamar sebagai Ajang Refleksi
Muktamar Ilmu Pengetahuan ke-2 ini tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga momentum refleksi untuk menggali kembali peran NU sebagai kekuatan civil society dalam menghadapi tantangan zaman.

Ketua Lakpesdam NU Jawa Tengah, M Zainal Anwar, menekankan bahwa kehadiran para narasumber ini diharapkan mampu memberikan wawasan mendalam tentang potensi dan tantangan NU di era saat ini.

“Kami ingin acara ini menjadi pendorong lahirnya ide-ide besar yang relevan dalam menjawab tantangan zaman mendatang. Juga untuk menyelaraskan gerak dari Lakpesdam di berbagai kota dan kabupaten di Jawa Tengah,” ujar Zainal Anwar.

Baca Juga :  Berita Terbaru: Upah Minimum Provinsi (UMP) pada 2025 Naik 6,5%

Perhelatan Muktamar Ilmu Pengetahuan ke-2 tahun 2024 menghadirkan sejumlah tokoh ternama sebagai narasumber, di antaranya adalah Wakil Menteri Agama RI KH Romo Muhammad Syafi’i, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla, Ketua PBNU H Mohamad Syafi’ Alielha, Majelis Masyayikh PP Bumi Cendekia KH M Imam Aziz dan Yayasan LKIS KH Hairus Salim serta dimoderatori oleh Ali Formen dari Universitas Negeri Semarang (UNNES).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
GCI dan Masa Depan Hubungan Indonesia–Tiongkok Dibahas di Jakarta
Berita ini 10 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Kamis, 17 September 2026 - 08:45 WIB

DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB