Berat Bos! Sri Mulyani Wanti-Wanti Kondisi Ekonomi Global 2025, Simak!

- Penulis

Selasa, 3 Desember 2024 - 05:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA, KOTA SEMARANG — Prediksi IMF menunjukkan pertumbuhan ekonomi dunia akan stagnan di kisaran 3,2% pada 2025.

Hal ini diungkapkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Annual International Forum of Economic Development and Public Policy (AIFED) ke-13 di Bali, Senin (2/12/2024).

“Hambatan ini akan menimbulkan kewaspadaan serta respons dari kami, Indonesia, sebagai ekonomi terbuka untuk terus berinteraksi dengan ekonomi global, baik melalui perdagangan dan investasi,” ujar Sri Mulyani.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia mengatakan, konflik geopolitik terus meningkat dan arah kebijakan moneter semakin kompleks. Mengenai suku bunga, gambaran tahun lalu menunjukkan tren suku bunga tinggi.

Baca Juga :  Guys, Begini Taktik China Kuasai Industri Penerbangan

“Namun, tahun ini, suku bunga bisa tinggi, rendah dan mungkin semakin tinggi atau bahkan sedikit menurun di beberapa wilayah, “tambahnya.

“Jadi keberagaman kebijakan moneter akan menciptakan lingkungan yang kompleks bagi kita semua,” katanya.

Lalu, Sri Mulyani mengatakan kebijakan fiskal masih belum terbebas dari Covid. Kendati pandemi sudah berakhir, tetapi efek ‘luka’ dari Covid masih menimbulkan konsekuensi besar.

Ongkos mengatasi Covid menjadi beban fiskal bagi banyak negara dan ini belum selesai atau mungkin belum dimulai, yakni dari sisi konsolidasi fiskal.

Baca Juga :  Kisah Menteri Keuangan Sri Mulyani Bareng Keluarga di Semarang: Joget Velocity, Tapi Malah Tak Bagi THR, Kenapa?

“Beban tersebut, beserta pertumbuhan ekonomi yang lambat akan menciptakan, beban yang cukup berat bagi ruang fiskal banyak negara berkembang,” ungkapnya.

Sementara itu, IMF dalam rilis World Economic Outlook (WEO) terbaru memperkirakan produk domestik bruto (PDB) global akan meningkat 3,2% tahun depan. Proyeksi ini lebih rendah 0,1 poin persentasi dari rilis WEO sebelumnya pada Juli 2024.

Menurutnya, ada risiko geopolitik, dengan potensi eskalasi konflik regional, yang dapat memengaruhi pasar komoditas.

Kemudian, ada peningkatan proteksionisme, kebijakan-kebijakan proteksionis, gangguan-gangguan dalam perdagangan yang juga dapat mempengaruhi aktivitas global. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
GCI dan Masa Depan Hubungan Indonesia–Tiongkok Dibahas di Jakarta
Berita ini 5 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 22:54 WIB

Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB