Problem Pemerataan Pendidikan di Indonesia

- Penulis

Senin, 2 Desember 2024 - 12:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Nabila Putri Fanisha*)

SUARAMUDA, KOTA SEMARANG — Pendidikan adalah hal yang sangat penting untuk menunjang Indonesia menjadi negara yang lebih berkembang dan maju. Dan melalui sistem pendidikan yang baik, dapat menciptakan sumber daya manusia yang lebih unggul.

Oleh karenanya, pendidikan memiliki peran penting dalam membangun karakter individu menjadi pribadi yang lebih bijaksana dalam berbangsa dan bernegara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sayangnya, fakta yang terjadi di Indonesia adalah kurang meratanya pendidikan di seluruh pelosok seperti wilayah pedesaan, yang mengakibatkan Indonesia memiliki banyak pertimpangan pendidikan.

Beberapa faktor yang menjadi penyebab ketidakmerataan pendidikan di Indonesia secara umum yaitu :
1. Eksabilitas, yakni salah satu penyebab ketidakmerataannya; masih belum terjangkau oleh fasilitas pendidikan formal yang layak, kurangnya tenaga didik, serta infrastruktur yang kurang baik, menyebabkan enggannya guru yang ingin mengajar di sekolah tersebut.

2. Kualitas pengajaran.Walaupun sekolah tersebut memiliki fasilitas yang cukup baik namun jika tenaga didik yang mengajar kurang dalam pengajaran atau serta kurikulum yang digunakan tidak relevan dengan kurikulum yang sudah ditetapkan.

Baca Juga :  Menanti Realisasi Program Lingkungan Kepala Daerah Terpilih: Janji atau Sebatas Retorika?

Selain itu, keterbatasan dalam mengakses daerah tersebut menyebabkan penyaluran sarana pendukung seperti buku dan fasilitas belajar lainnya menjadi terhambat. Bahkan tak jarang fasilitas yang hendak diberikan tidak sampai ke daerah tersebut.

3. Kesetaraan gender. Kesenjangan yang selalu berubah tiap tahunnya pada jumlah anak perempuan dengan anak laki-laki. Sehingga seiring perkembangan waktu, kesadaran akan pentingnya pendidikan semakin dirasakan oleh masyarakat Indonesia.

4. Ketimpangan ekonomi. Banyaknya masyarakat yang mempunyai ekonomi yang rendah. Sekolah yang kualitasnya masih belum memadai menunjukan bahwa siswanya juga masih belum bisa mencukupi kebutuhan sekolahnya, seperti membeli peralatan sekolah tambahan yang menjadi salah satu masalah bagi masyarakat tersebut.

5. Cara berpikir. Cara berpikir adalah hal yang paling berdampak dalam permasalahan pertimpangan pendidikan di Indonesia. Walaupun sudah adanya fasilitas serta tenaga didik, jika banyak siswanya yang tidak mau belajar maka akan sangat berpengaruh pada kelangsungan pendidikan di Indonesia.

6. Kualitas sekolah. Sekolah di kota akan berbeda jauh dengan sekolah yang ada di desa, dan kekurangan fasilitas tersebut menyebabkan enggannya siswa unuk bersekolah di daerahnya sendiri dan lebih memilih untuk pindah ke kota.

Baca Juga :  Arah Baru Dana Desa: Antisipasi Perubahan Prioritas dan Mekanisme Pencairan Pasca Inpres 17/2025

Dengan demikian, Indonesia membutuhkan kerjasama antara masyarakat dengan pemerintah agar pendidikan bisa lebih merata dan saling bersaing dengan negara yang maju.

Tidak cukup di situ, masyarakat Indonesia juga harus mempunyai pemikiran dan kesadaran bahwa pendidikan itu sangatlah penting.

Maka beberapa hal yang dapat di lakulan yaitu menyediakan akses pendidikan yang merata, meningatkan kualitas pengajaran, program subsidi dan bantuan keuangan, monitoring dan evaluasi. (Red)

*) Nabila Putri Fanisha, sedang menempuh studi Pendidikan Matematika, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Prodi Pendidikan Matematika UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

**) Isi artikel dan pandangan penulis bukan mewakili redaksi suaramuda.net
***) Karena untuk keperluan pendidikan (penilaian) redaksi tak banyak melakukan editing baik dari segi diksi, bahasa dan/ kesesuaian dengan judul, sumber/ referensi dan lainnya

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 24 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB