Demokrasi, NU dan Tantangan Netralitas dalam Pilgub Jateng 2024

- Penulis

Selasa, 26 November 2024 - 21:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Nazlal Firdaus Kurniawan *)

SUARAMUDA, KOTA SEMARANG — Pemilihan umum sebagai inti dari demokrasi, merupakan sebuah proses yang menentukan arah pemerintahan dengan melibatkan partisipasi langsung warga negara.

Di tingkat lokal, seperti pemilihan kepala daerah (Pilkada), nilai demokrasi diuji pada kemampuan masyarakat untuk memilih pemimpin secara bebas, jujur, dan terbuka. Tanpa itu, demokrasi hanya menjadi istilah tanpa substansi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, demokrasi bukanlah sistem yang mudah. Prosesnya sering kali penuh ketegangan, membutuhkan pengorbanan dari semua pihak.

Demokrasi mengharuskan pemerintahan bertanggung jawab kepada rakyat, sesuatu yang hanya dapat dirasakan manfaatnya melalui waktu dan proses.

Kadar demokrasi suatu negara dapat diukur dari dua hal: peran rakyat dalam memilih pemimpin dan dalam menentukan kebijakan publik. Jika rakyat diberi kebebasan penuh dalam dua aspek tersebut, kadar demokrasi akan semakin tinggi.

Dalam konteks Pilgub 

Pilgub Jawa Tengah 2024, dua tokoh yang dekat dengan Nahdlatul Ulama (NU) mencuat dalam pertarungan wakil gubernur, yakni Hendrar Prihadi dan Taj Yasin.

Baca Juga :  Krisis Sampah di RSUD TC Hillers Maumere: Di Mana Penegakan Hukum Lingkungan?

Hendrar Prihadi, calon wakil gubernur nomor urut 1 yang berpasangan dengan Andika Perkasa, pernah tercatat sebagai Dewan Penasehat Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah masa khidmat 2017-2021.

Sedangkan Taj Yasin, calon wakil gubernur nomor urut 2 yang berpasangan dengan Ahmad Luthfi. Saat ini tercatat menjadi A’wan PBNU masa khidmat 2022-2027.

Mengutip NU Online Jateng, pernyataan Ketua PWNU Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin, menyoroti pentingnya pemimpin yang mencintai masyarakat Jawa Tengah.

Menurutnya, cinta pada masyarakat merupakan pondasi memahami dan memenuhi kebutuhan mereka. Sebaliknya, jika pemimpin berjarak dengan rakyat, ia sulit memahami aspirasi mereka.

Meski demikian, NU sebagai organisasi berkomitmen menjaga netralitas. Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaidullah Shodaqoh, juga menegaskan bahwa NU tidak terlibat dalam politik praktis, meskipun ada tokoh-tokoh NU yang maju dalam kontestasi.

Baca Juga :  Masjid Bersejarah NU Yang Berdiri Tahun 1835, di Plangisasi oleh LTM NU Jateng untuk Perkuat Identitas

“Kami memastikan NU secara resmi tetap netral. Adapun dukungan individu, itu hak pribadi masing-masing,” jelas Kiai Ubaid.

Netralitas NU di Pilgub Jawa Tengah bukan tanpa tantangan. Tokoh-tokoh berpengaruh yang dekat dengan NU kerap menjadi magnet dukungan, baik secara personal maupun komunitas.

Di satu sisi, ini menunjukkan daya tarik NU sebagai bagian dari masyarakat Jawa Tengah. Di sisi lain, hal ini menuntut NU untuk tetap berdiri di atas semua golongan, menjaga peran sebagai perekat di tengah masyarakat yang beragam.

Masyarakat Jawa Tengah tentu berharap Pilgub ini berlangsung aman, demokratis, dan menghasilkan pemimpin terbaik.

Sebagaimana diungkapkan Gus Rozin, tugas semua pihak adalah melihat manfaat dan mudarat dari setiap langkah yang diambil.

Pada akhirnya, demokrasi bukan hanya soal memilih pemimpin, tetapi memastikan bahwa setiap proses mencerminkan harapan dan kehendak rakyat.

Oleh: Nazlal Firdaus Kurniawan
Peneliti Alpha Institute

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita
Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum
Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata
Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal
Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital
Pengaruh Nilai Guna Marjinal terhadap Perilaku Konsumen dan Keputusan Pembelian
Ekonomi Digital dan Masa Depan Bisnis di Era E-Commerce
Pasar Tidak Pernah Benar-Benar Bebas: Memahami Monopoli hingga Oligopsoni dalam Realitas Ekonomi Indonesia
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:25 WIB

Ketika Jas Putih Ikut Berdarah, Kematian dr. Icha dan Cermin Buram Empati Kita

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:34 WIB

Giliran Bayar Tak Boleh Telat, Giliran Listrik Mati Disuruh Maklum

Selasa, 23 Juni 2026 - 22:23 WIB

Rupiah, Ekspor, dan Masa Depan Ekonomi Indonesia: Jangan Terjebak pada Angka Semata

Senin, 22 Juni 2026 - 17:22 WIB

Mencermati Dugaan Intervensi Politik di Balik Aksi Mahasiswa Kendal

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:34 WIB

Ruang Lingkup Ekonomi Manajerial dan Alat Pengambilan Keputusan di Era Digital

Berita Terbaru

KABAR NUSANTARA

Mengapa Sekjen dan Pengurus Partai Buruh Mundur Rame-rame?

Minggu, 28 Jun 2026 - 09:08 WIB

LINTAS AKADEMIKA

“Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat”

Minggu, 28 Jun 2026 - 08:47 WIB