Demi Rp5,3 Triliun, Perut Gunung Ungaran Mau Dibongkar: Dapat Listrik atau Cuma Lubang?

Investasi jumbo Rp5,3 triliun membidik potensi panas bumi 55 MW. Namun sebelum mesin bor menembus perut Gunung Ungaran hingga 2 kilometer, proyek ini masih harus melewati sederet izin dan kajian lingkungan

- Penulis

Jumat, 28 Agustus 2026 - 07:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

POV: Gunung Ungaran. (sumber gambar: pinterest)

POV: Gunung Ungaran. (sumber gambar: pinterest)

SUARAMUDA.NET, UNGARAN — Gunung Ungaran selama ini punya pekerjaan yang cukup mulia: berdiri. Ia menjadi latar foto, jalur pendakian, sumber air, kawasan hijau, sekaligus pemandangan yang membuat warga Semarang dan sekitarnya merasa hidup masih punya sedikit estetika.

Tapi sebentar lagi, Gunung Ungaran punya kemungkinan mendapat pekerjaan tambahan. Dibor. Dan bukan satu-dua meter. Rencananya sekitar 1.900 hingga 2.200 meter ke dalam perut bumi. Tenang, belum sekarang.

Pengeboran eksplorasi baru ditargetkan dilakukan pada akhir 2028 atau awal 2029, setelah berbagai perizinan, kajian lingkungan, dan proses pelibatan masyarakat selesai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lalu apa yang dicari? Bukan emas. Bukan minyak. Bukan juga harta karun peninggalan kerajaan. Yang dicari adalah panas bumi.

Kalau ketemu dan potensinya sesuai harapan, panas dari perut Gunung Ungaran itu akan diubah menjadi listrik. Dan nilai proyeknya? Sekitar Rp5,3 triliun.

Gunung Dibor, Listrik yang Diharapkan

Proyek panas bumi Gunung Ungaran diperkirakan memiliki potensi pembangkitan sekitar 55 megawatt (MW).

Wilayah kerja panas buminya mencapai sekitar 29.800 hektare dan diperkirakan bisa menyumbang sekitar 4–5 persen terhadap bauran energi baru terbarukan (EBT) Jawa Tengah.

Kalau semuanya berjalan mulus, pembangkit ditargetkan mulai beroperasi pada 2031. Listriknya kemudian direncanakan masuk ke jaringan interkoneksi Jawa, Madura, dan Bali.

Jadi, sederhananya adalah Gunungnya tetap di sini, panasnya diambil, listriknya jalan-jalan ke mana-mana. Lumayan. Gunung Ungaran akhirnya bisa ikut membayar tagihan listrik nasional.

Tapi Jangan Keburu Ambil Helm Proyek

Ada satu hal yang harus diluruskan. Judul “Gunung Ungaran bakal dibor 2.000 meter” memang terdengar seperti besok pagi alat berat langsung naik gunung. Tidak begitu ceritanya.

Baca Juga :  Berkat Kolaborasi, Pemerintah Jabar Bersama Mahasiswa UPI Berhasil Urai Persoalan Sampah Rumah Tangga di Pangandaran

Pemerintah menegaskan bahwa izin awal bukan berarti proyek bisa langsung melakukan pengeboran. Masih ada KKPR, PPKH, Amdal, izin lingkungan, hingga public hearing yang melibatkan masyarakat, pemangku kepentingan, dan LSM.

Jadi sebelum bor turun 2 kilometer, dokumennya harus naik-turun dulu. Kalau perlu, mungkin lebih banyak map yang berpindah tangan daripada tanah yang berpindah.

Begitulah Indonesia. Mau menggali bumi, tetapi harus menggali administrasi dulu.

Rp5,3 Triliun: Panasnya di Bawah, Duitnya di Atas

Nilai investasi proyek ini sekitar US$300 juta atau kurang lebih Rp5,3 triliun. Angka yang cukup besar untuk membuat siapa pun mendadak tertarik menghitung.

Namun investasi sebesar itu tentu bukan jaminan Gunung Ungaran otomatis menjadi “mesin uang”. Sebab pengeboran eksplorasi justru dilakukan untuk membuktikan apakah potensi panas bumi yang diperkirakan benar-benar ada dan cukup ekonomis untuk dikembangkan.

Dengan kata lain, proyek ini masih berada pada fase: “Coba kita lihat dulu isinya.” Mirip buka parcel. Bedanya, parcel ini kedalamannya dua kilometer dan harga bukanya Rp5,3 triliun.

Kalau Berhasil, 55 MW Menanti

Jika hasil eksplorasi sesuai harapan, barulah pembangunan pembangkit dilanjutkan. Targetnya, PLTP Gunung Ungaran mulai memasuki commercial operation date (COD) pada 2031.

Listrik yang dihasilkan diharapkan memperkuat pasokan energi sekaligus meningkatkan penggunaan energi terbarukan di Jawa Tengah.

Saat ini bauran EBT Jawa Tengah disebut sudah mencapai 22,3 persen, melampaui target RUED 2025 sebesar 21,32 persen.

Artinya, panas bumi memang punya peluang besar menjadi salah satu tulang punggung transisi energi.

Tetapi ada satu kalimat yang harus selalu diingat: energi bersih tidak otomatis berarti prosesnya boleh mengabaikan lingkungan.

Baca Juga :  Korwil Ikadin Jateng Apresiasi Regenerasi Pengurus, Dorong Soliditas Organisasi dan Penegakan Hukum

Jangan Sampai Gunung Jadi Sekadar “Lubang Investasi”

Di sinilah bagian paling pentingnya. Gunung Ungaran bukan sekadar angka dalam proposal investasi. Ada hutan, sumber air, ada masyarakat dan juga ekosistem.

Dan tentu ada warga yang akan hidup berdampingan dengan proyek tersebut jauh setelah konferensi pers selesai dan kamera wartawan dimatikan. Karena itu, public hearing bukan sekadar formalitas.

Masyarakat harus benar-benar mendapatkan informasi tentang di mana titik pengeboran, bagaimana dampaknya, apa mitigasinya, dan siapa yang bertanggung jawab jika terjadi persoalan.

Sebab kalau narasinya hanya: “Ada Rp5,3 triliun, ayo gas!” itu namanya bukan pembangunan berkelanjutan. Itu namanya terlalu bersemangat melihat angka di kalkulator.

Gunung Ungaran Boleh Dibor, Tapi Jangan Dibutakan oleh Investasi

Energi panas bumi memang menawarkan sesuatu yang sangat menarik: sumber energi yang relatif rendah karbon dan dapat memperkuat sistem kelistrikan.

Gunung Ungaran sendiri diperkirakan punya potensi 55 MW. Namun angka itu masih harus dibuktikan melalui eksplorasi.

Maka tantangannya bukan cuma bagaimana mengebor sedalam 2.000 meter. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana mengambil panas bumi tanpa membuat masalah baru di permukaan.

Karena pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan listrik yang menyala. Masyarakat juga membutuhkan air yang tetap mengalir, lingkungan yang tetap sehat, dan gunung yang tetap menjadi gunung.

Jadi, silakan cari panas di bawah Gunung Ungaran. Tapi jangan sampai karena mengejar panasnya uang, kita justru membuat bumi di atasnya kepanasan.

Sebab kalau listriknya nanti terang, tetapi lingkungannya gelap, pertanyaannya bukan lagi: “Berapa megawatt yang dihasilkan?” Melainkan: “Berapa harga yang harus dibayar?” (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wali Kota Semarang Resmikan TPU Pancasila Dukung FKUB Kota Semarang Jaga Toleransi Hingga Akhir Hayat
Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan: Menjaga Persatuan, Merawat Perdamaian
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Soal Geothermal, Bupati Semarang Tegas: Lanjut atau Tidak, Kewenangan Pusat
Gaji PPPK Mau Diambil Alih Pemerintah Pusat? Jateng Bisa Punya Napas Baru Rp2 Triliun
MUI Jateng Punya “Skuad” Baru: Banyak Profesor, Siap Jadi Cooling System di Tengah Dinamika Zaman
Cetak Guru Penggerak Kerukunan, FKUB Kota Semarang Libatkan 90 Guru SMP
Berita ini 270 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:18 WIB

Wali Kota Semarang Resmikan TPU Pancasila Dukung FKUB Kota Semarang Jaga Toleransi Hingga Akhir Hayat

Minggu, 13 September 2026 - 15:36 WIB

Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan: Menjaga Persatuan, Merawat Perdamaian

Sabtu, 12 September 2026 - 11:54 WIB

MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak

Kamis, 10 September 2026 - 15:15 WIB

FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!

Senin, 7 September 2026 - 20:18 WIB

Soal Geothermal, Bupati Semarang Tegas: Lanjut atau Tidak, Kewenangan Pusat

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB