SUARAMUDA.NET, UNGARAN — Gunung Ungaran selama ini punya pekerjaan yang cukup mulia: berdiri. Ia menjadi latar foto, jalur pendakian, sumber air, kawasan hijau, sekaligus pemandangan yang membuat warga Semarang dan sekitarnya merasa hidup masih punya sedikit estetika.
Tapi sebentar lagi, Gunung Ungaran punya kemungkinan mendapat pekerjaan tambahan. Dibor. Dan bukan satu-dua meter. Rencananya sekitar 1.900 hingga 2.200 meter ke dalam perut bumi. Tenang, belum sekarang.
Pengeboran eksplorasi baru ditargetkan dilakukan pada akhir 2028 atau awal 2029, setelah berbagai perizinan, kajian lingkungan, dan proses pelibatan masyarakat selesai.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lalu apa yang dicari? Bukan emas. Bukan minyak. Bukan juga harta karun peninggalan kerajaan. Yang dicari adalah panas bumi.
Kalau ketemu dan potensinya sesuai harapan, panas dari perut Gunung Ungaran itu akan diubah menjadi listrik. Dan nilai proyeknya? Sekitar Rp5,3 triliun.
Gunung Dibor, Listrik yang Diharapkan
Proyek panas bumi Gunung Ungaran diperkirakan memiliki potensi pembangkitan sekitar 55 megawatt (MW).
Wilayah kerja panas buminya mencapai sekitar 29.800 hektare dan diperkirakan bisa menyumbang sekitar 4–5 persen terhadap bauran energi baru terbarukan (EBT) Jawa Tengah.
Kalau semuanya berjalan mulus, pembangkit ditargetkan mulai beroperasi pada 2031. Listriknya kemudian direncanakan masuk ke jaringan interkoneksi Jawa, Madura, dan Bali.
Jadi, sederhananya adalah Gunungnya tetap di sini, panasnya diambil, listriknya jalan-jalan ke mana-mana. Lumayan. Gunung Ungaran akhirnya bisa ikut membayar tagihan listrik nasional.
Tapi Jangan Keburu Ambil Helm Proyek
Ada satu hal yang harus diluruskan. Judul “Gunung Ungaran bakal dibor 2.000 meter” memang terdengar seperti besok pagi alat berat langsung naik gunung. Tidak begitu ceritanya.
Pemerintah menegaskan bahwa izin awal bukan berarti proyek bisa langsung melakukan pengeboran. Masih ada KKPR, PPKH, Amdal, izin lingkungan, hingga public hearing yang melibatkan masyarakat, pemangku kepentingan, dan LSM.
Jadi sebelum bor turun 2 kilometer, dokumennya harus naik-turun dulu. Kalau perlu, mungkin lebih banyak map yang berpindah tangan daripada tanah yang berpindah.
Begitulah Indonesia. Mau menggali bumi, tetapi harus menggali administrasi dulu.
Rp5,3 Triliun: Panasnya di Bawah, Duitnya di Atas
Nilai investasi proyek ini sekitar US$300 juta atau kurang lebih Rp5,3 triliun. Angka yang cukup besar untuk membuat siapa pun mendadak tertarik menghitung.
Namun investasi sebesar itu tentu bukan jaminan Gunung Ungaran otomatis menjadi “mesin uang”. Sebab pengeboran eksplorasi justru dilakukan untuk membuktikan apakah potensi panas bumi yang diperkirakan benar-benar ada dan cukup ekonomis untuk dikembangkan.
Dengan kata lain, proyek ini masih berada pada fase: “Coba kita lihat dulu isinya.” Mirip buka parcel. Bedanya, parcel ini kedalamannya dua kilometer dan harga bukanya Rp5,3 triliun.
Kalau Berhasil, 55 MW Menanti
Jika hasil eksplorasi sesuai harapan, barulah pembangunan pembangkit dilanjutkan. Targetnya, PLTP Gunung Ungaran mulai memasuki commercial operation date (COD) pada 2031.
Listrik yang dihasilkan diharapkan memperkuat pasokan energi sekaligus meningkatkan penggunaan energi terbarukan di Jawa Tengah.
Saat ini bauran EBT Jawa Tengah disebut sudah mencapai 22,3 persen, melampaui target RUED 2025 sebesar 21,32 persen.
Artinya, panas bumi memang punya peluang besar menjadi salah satu tulang punggung transisi energi.
Tetapi ada satu kalimat yang harus selalu diingat: energi bersih tidak otomatis berarti prosesnya boleh mengabaikan lingkungan.
Jangan Sampai Gunung Jadi Sekadar “Lubang Investasi”
Di sinilah bagian paling pentingnya. Gunung Ungaran bukan sekadar angka dalam proposal investasi. Ada hutan, sumber air, ada masyarakat dan juga ekosistem.
Dan tentu ada warga yang akan hidup berdampingan dengan proyek tersebut jauh setelah konferensi pers selesai dan kamera wartawan dimatikan. Karena itu, public hearing bukan sekadar formalitas.
Masyarakat harus benar-benar mendapatkan informasi tentang di mana titik pengeboran, bagaimana dampaknya, apa mitigasinya, dan siapa yang bertanggung jawab jika terjadi persoalan.
Sebab kalau narasinya hanya: “Ada Rp5,3 triliun, ayo gas!” itu namanya bukan pembangunan berkelanjutan. Itu namanya terlalu bersemangat melihat angka di kalkulator.
Gunung Ungaran Boleh Dibor, Tapi Jangan Dibutakan oleh Investasi
Energi panas bumi memang menawarkan sesuatu yang sangat menarik: sumber energi yang relatif rendah karbon dan dapat memperkuat sistem kelistrikan.
Gunung Ungaran sendiri diperkirakan punya potensi 55 MW. Namun angka itu masih harus dibuktikan melalui eksplorasi.
Maka tantangannya bukan cuma bagaimana mengebor sedalam 2.000 meter. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana mengambil panas bumi tanpa membuat masalah baru di permukaan.
Karena pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan listrik yang menyala. Masyarakat juga membutuhkan air yang tetap mengalir, lingkungan yang tetap sehat, dan gunung yang tetap menjadi gunung.
Jadi, silakan cari panas di bawah Gunung Ungaran. Tapi jangan sampai karena mengejar panasnya uang, kita justru membuat bumi di atasnya kepanasan.
Sebab kalau listriknya nanti terang, tetapi lingkungannya gelap, pertanyaannya bukan lagi: “Berapa megawatt yang dihasilkan?” Melainkan: “Berapa harga yang harus dibayar?” (Red)













Komentar