SUARAMUDA.NET, DEMAK — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo Semarang bersama Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN 75, Nahnu Robid Jiwandono, menggelar pengajaran literasi sastra sebagai media penanaman karakter bagi siswa SD Negeri Pulosari, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Rabu (19/8/2026).
Kegiatan tersebut diikuti siswa-siswi kelas 4B dengan memanfaatkan puisi, pantun, dan cerita pendek sebagai media pembelajaran.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya mengenalkan literasi kepada siswa di tengah perkembangan zaman serba digital. Sastra digunakan sebagai media untuk menyampaikan nilai-nilai karakter melalui bentuk pembelajaran yang lebih beragam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
DPL KKN 75 UIN Walisongo Semarang, Nahnu Robid Jiwandono, mengatakan kegiatan literasi sastra bertujuan mengenalkan sastra kepada anak sekaligus menjadi media dalam penanaman karakter.
“Tujuan dari kegiatan literasi sastra ini sebenarnya sangat sederhana, yaitu mengenalkan sastra kepada anak-anak. Kenapa? Karena anak-anak zaman sekarang kan seringnya nonton film, nonton TV, nonton YouTube, dan lain sebagainya. Jadi tidak boleh lupa dengan yang namanya sastra,” ujar Nahnu.
Dalam pelaksanaannya, siswa kelas 4B mendapatkan pemaparan mengenai literasi dalam bentuk karya sastra. Materi yang diberikan meliputi puisi tentang ibu, pantun mengenai sopan santun, serta cerita pendek yang menjelaskan nilai tolong-menolong.
Penyampaian materi dilakukan dengan mengenalkan sastra sebagai bagian dari proses penanaman karakter. Melalui puisi, siswa diajak mengenal pesan yang berkaitan dengan ibu.
Sementara itu, pantun digunakan untuk menyampaikan nilai sopan santun. Cerita pendek kemudian menjadi media untuk mengenalkan sikap saling membantu.
Guru pendamping SD Negeri Pulosari, Ibu Hamidah, menilai kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi proses pembelajaran literasi di sekolah.
Ia mengatakan minat siswa terhadap kegiatan membaca secara konvensional masih menjadi tantangan sehingga diperlukan variasi dalam penyampaian materi.
“Selama mengajar, saya sendiri merasa pembelajaran terkadang monoton. Saya merupakan guru mata pelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam), sehingga metode seperti ini mungkin hanya bisa saya lakukan sekali atau dua kali. Dengan adanya inovasi melalui pantun, puisi, dan cerita, menurut saya sangat bermanfaat. Terlebih, kondisi literasi di sini masih kurang. Ketika siswa diminta membaca secara biasa, minat mereka masih rendah. Karena itu, adanya kegiatan seperti ini menjadi inovasi yang sangat membantu dan bermanfaat. Saya mengucapkan terima kasih sekali,” ungkap Ibu Hamidah.
Menurut Hamidah, kegiatan tersebut juga memberikan alternatif bagi guru dalam mengembangkan metode pembelajaran. Ia mengaku selama ini proses mengajar yang dilakukan terkadang berlangsung secara monoton, sehingga inovasi melalui sastra dapat menjadi salah satu pilihan.
Kegiatan literasi sastra tersebut diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan selama program KKN. Nahnu berharap pengenalan sastra dapat dilanjutkan oleh guru-guru kelas melalui kegiatan pembelajaran di sekolah.
“Harapannya, kegiatan literasi sastra ini tidak hanya dilakukan sekali dua kali, tetapi terus-menerus melalui guru-guru kelas. Jadi, guru-guru kelas memiliki tanggung jawab untuk mengenalkan sastra sebagai media atau sebagai cara atau metode untuk penanaman karakter-karakter yang baik bagi anak-anak, terutama anak SD,” kata Nahnu.
Melalui keberlanjutan kegiatan tersebut, puisi, pantun, dan cerita pendek dapat terus dimanfaatkan sebagai media pengenalan literasi sekaligus penanaman karakter bagi siswa sekolah dasar.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan variasi pembelajaran literasi yang dapat membantu siswa mengenal sastra dan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari. (Red)
Penulis : Silvana














Komentar