SUARAMUDA.NET, TUNIS — Jarak ribuan kilometer dari Indonesia ternyata tak mampu memudarkan rasa cinta tanah air. Hal itu terlihat dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Tunis, Tunisia, Senin (18/8/2026).
Masyarakat Indonesia yang tinggal di Tunisia, mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Pelajar Indonesia (PPI), serta jajaran Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tunis bersama-sama mengikuti rangkaian upacara pengibaran dan penurunan Sang Merah Putih.
Upacara yang digelar di lingkungan Wisma KBRI Tunis itu berlangsung khidmat. Sejak persiapan hingga prosesi pengibaran bendera, suasana kebangsaan begitu terasa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pengucapan teks Proklamasi, pembacaan Pancasila, pengibaran Sang Merah Putih, hingga lantunan lagu Indonesia Raya seolah membawa para peserta sejenak kembali ke tanah air.
Bukan sekadar seremoni, upacara tersebut menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para pahlawan sekaligus meneguhkan kembali semangat kebangsaan di tengah kehidupan sebagai diaspora.
Peringatan HUT ke-81 RI tahun ini mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.” Tema tersebut menjadi pengingat tentang cita-cita Indonesia untuk terus memperkuat kedaulatan sekaligus menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
Potong Tumpeng, Pesan Persatuan dari Tunis
Ada satu momen yang membuat rangkaian peringatan kemerdekaan kali ini semakin hangat, yakni pemotongan tumpeng.
Duta Besar RI untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi, bersama sang istri secara simbolis memotong tumpeng. Potongan tersebut kemudian diberikan kepada sejumlah perwakilan, di antaranya anggota Paskibra, Ketua BPC Kairouan Tunisia, mahasiswa teladan, serta staf terbaik KBRI Tunis dari Indonesia dan Tunisia.
Tradisi tersebut bukan sekadar seremoni. Pemotongan tumpeng menjadi simbol kerukunan masyarakat Indonesia di perantauan sekaligus bentuk apresiasi kepada mereka yang dinilai telah memberikan kontribusi terbaik dan ikut membawa nama Indonesia di kancah internasional.
Dalam kesempatan itu, Zuhairi mengingatkan bahwa kemerdekaan merupakan anugerah sekaligus hasil perjuangan panjang para pahlawan.
“Kita patut bersyukur atas apa yang telah para pahlawan kita korbankan untuk meraih kemerdekaan ini, karena atas perjuangan mereka kita bisa menjadi bangsa yang berdaulat, berdikari dalam menentukan arah ekonomi kita ke depan.”
Ia juga mengajak generasi muda Indonesia untuk tidak sekadar menjadi penonton dalam perjalanan bangsa.
“Saya mengingatkan kepada kalian, terkhususnya generasi muda, untuk selalu mengingat sejarah, menjaga perjuangan, serta mampu untuk bisa menjadi pihak yang turut membangun bangsa, dan bukan hanya menjadi penonton saja,” tegas Zuhairi.
Merah Putih Tetap Dekat, Meski Indonesia Jauh
Rangkaian peringatan kemudian ditutup dengan prosesi penurunan bendera pada sore hari. Sang Merah Putih diturunkan dengan penuh penghormatan dan kehati-hatian sebelum kembali disimpan.
Berakhirnya prosesi tersebut sekaligus menandai selesainya rangkaian utama peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Tunisia. Namun, bagi diaspora Indonesia, makna peringatan kemerdekaan tentu tidak berhenti ketika bendera diturunkan.
Jarak geografis dengan Indonesia justru menjadi pengingat bahwa identitas sebagai bangsa Indonesia tetap melekat, di mana pun kaki berpijak.
Kehadiran para pelajar dan mahasiswa Indonesia juga menunjukkan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga identitas kebangsaan. Mereka bukan hanya peserta upacara, tetapi juga menjadi representasi Indonesia di lingkungan internasional.
Dari Tunis, pesan kemerdekaan kembali digaungkan: Indonesia bukan sekadar wilayah yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Indonesia juga merupakan identitas yang hidup dalam diri setiap anak bangsa, termasuk mereka yang sedang belajar, bekerja, dan mengabdi jauh dari tanah air.
Semangat kemerdekaan pun tak ikut turun bersama Sang Merah Putih. Ia dibawa pulang oleh setiap peserta untuk diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari—dengan terus belajar, berkarya, menjaga persatuan, dan memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia. (Red)
Penulis : Muttaqin Hidayahtullah, mahasiswa Universite de Tunis El-Manar















Komentar