Di Semarang: MBG Dihentikan Para Siswa Kegirangan!?

"Penghentian sementara operasional sejumlah dapur MBG di Jawa Tengah memunculkan beragam respons. Sejumlah penerima manfaat justru meminta program dievaluasi total karena persoalan kualitas makanan, ketepatan distribusi, hingga menu yang dinilai tidak sesuai kebutuhan anak dan balita."

- Penulis

Sabtu, 13 Juni 2026 - 08:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Program Makan Bergizi Gratis di sekolah dasar (foto: tempo.co)

Ilustrasi Program Makan Bergizi Gratis di sekolah dasar (foto: tempo.co)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Penghentian sementara operasional sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jawa Tengah memunculkan respons yang tak terduga.

Alih-alih kecewa, sejumlah penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) justru mengaku lega dan berharap pemerintah melakukan evaluasi besar-besaran sebelum program kembali berjalan.

Keluhan utama yang mencuat bukan soal penghentian layanan, melainkan kualitas makanan yang diterima. Mulai dari makanan yang sudah basi saat dikonsumsi, menu yang kurang disukai anak-anak, hingga distribusi yang tidak menentu menjadi alasan mengapa sebagian warga merasa program ini belum berjalan optimal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Alfia (29), warga Ungaran, mengaku penghentian sementara MBG tidak terlalu berpengaruh bagi keluarganya. Selama ini, makanan yang diterima sering kali tidak sempat dikonsumsi karena seluruh anggota keluarga beraktivitas di luar rumah.

“Senang aja, nggak ada makanan yang kebuang. Soalnya makanan dibagikan pagi, sementara kami kerja semua dan anak di daycare. Pulang sore, makanan sayurnya sudah basi,” ujarnya.

Menurut Alfia, beberapa menu yang diterima anaknya seperti tumis kol, kecambah, telur asin, hingga roti olahan kurang diminati. Akibatnya, banyak makanan yang akhirnya terbuang percuma.

Ia berharap apabila program MBG tetap dilanjutkan, pemerintah dapat menyusun menu yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan selera anak-anak.

Keluhan serupa juga datang dari Desi (29), warga lainnya yang selama ini menjadi penerima manfaat MBG untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita. Ia mengaku tidak terlalu keberatan dengan penghentian sementara program tersebut.

Baca Juga :  Muktamar Ilmu Pengetahuan Ke-2 PWNU Jateng: Momentum Perkuat Peran NU sebagai Civil Society

Menurutnya, salah satu persoalan terbesar adalah jadwal distribusi yang tidak konsisten. Makanan kadang datang pagi hari, namun tak jarang baru diterima menjelang sore.

“Kadang datangnya jam 09.00, jam 10.00, bahkan pernah jam 16.00 sore. Kalau lagi ada kegiatan atau anak tidur ya susah ngambilnya,” katanya.

Desi juga menilai menu yang diberikan sering kali lebih cocok untuk orang dewasa dibandingkan balita. Beberapa lauk yang diterima bahkan terlalu keras untuk dikonsumsi anak usia dini sehingga akhirnya dimakan orang tua atau dibuang.

“Kalau memang programnya tetap jalan, menunya harus disesuaikan sama penerimanya. Jangan sampai makanan akhirnya cuma dibuang percuma,” tegasnya.

Masukan serupa datang dari Nikma (29), warga Kabupaten Semarang yang anaknya juga menjadi penerima MBG kategori balita. Ia mengusulkan agar dapur penyedia makanan dipisahkan antara penerima anak sekolah dan kelompok balita maupun ibu hamil.

Menurut Nikma, kebutuhan gizi dan tekstur makanan balita tentu berbeda dengan anak usia sekolah. Karena itu, menu yang diberikan perlu disesuaikan agar benar-benar bisa dikonsumsi oleh sasaran penerima manfaat.

“Balita dapat ikan pindang yang teksturnya keras, akhirnya yang makan ibunya. Pernah juga dapat ayam ungkep yang belum bisa dimakan anak saya karena belum cukup lembut,” ungkapnya.

Di sisi lain, penghentian operasional sejumlah SPPG di Jawa Tengah ternyata bukan semata-mata karena persoalan administrasi pencairan dana.

Baca Juga :  DPD BKPRMI Kabupaten Kendal Adakan Workshop Kepemimpinan Pemuda: Mencetak Pemimpin Masa Depan Yang Berintegritas. Berikut Kata Disporapar Kendal

Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Semarang mengungkap bahwa banyak dapur MBG harus menghentikan operasional sementara karena Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) tidak memenuhi standar yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).

Kasubag Tata Usaha KPPG Semarang, Bagus Anindito, menjelaskan bahwa hasil pengawasan menemukan sejumlah SPPG memiliki sistem pengelolaan limbah yang buruk.

Bahkan ditemukan dapur yang membuang limbah langsung ke selokan tanpa proses penyaringan yang memadai.

Akibat temuan tersebut, Kedeputian Pemantauan dan Pengawasan (Tauwas) BGN memberikan sanksi penghentian sementara operasional hingga pengelola mampu memperbaiki fasilitas IPAL mereka.

Penutupan sementara ini diperkirakan berlangsung sekitar satu minggu atau sampai seluruh standar lingkungan yang ditetapkan terpenuhi.

Selain hasil inspeksi internal, laporan masyarakat terkait bau tidak sedap di sekitar dapur MBG juga menjadi salah satu dasar evaluasi.

Diketahui, KPPG Semarang membawahi lebih dari 2.400 SPPG yang tersebar di 20 kabupaten/kota di Jawa Tengah dengan hampir dua juta penerima manfaat.

Dari jumlah tersebut, sekitar seratus dapur dilaporkan sempat terkena penghentian operasional karena persoalan IPAL.

Kini, di tengah polemik penghentian layanan, suara dari para penerima manfaat menjadi catatan penting bagi pemerintah.

Mereka berharap program MBG tidak hanya berfokus pada distribusi makanan, tetapi juga memastikan kualitas, ketepatan sasaran, serta menu yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat. (Red)

Sumber Berita: detik.com

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Trans Jateng Akhirnya Masuk Batang! Mulai Ngebut 2028, Feeder Langsung Tembus KITB
Peresmian Gedung Balaputradewa Perkuat Fasilitas Pendidikan Institut Nalanda
Janji Manis Purbaya: Ekonomi Tumbuh Dekati 6 Persen
Korwil Ikadin Jateng Apresiasi Regenerasi Pengurus, Dorong Soliditas Organisasi dan Penegakan Hukum
MUSKERCAB Gerakan Pemuda Ansor Sukoharjo 2026: Perkuat Konsolidasi Organisasi, Wujudkan Gerakan Kader yang Adaptif dan Berdampak
Masyarakat Tak Yakin Kopdes Merah Putih Akan Mampu Berkembang?
Laili Abidah Jadikan Aspirasi Muslimat NU sebagai Dasar Perjuangkan Program Perempuan
MK Larang Dana Pendidikan Dipakai buat MBG, Tapi Berlaku Penuh Mulai 2028
Berita ini 28 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 5 Agustus 2026 - 12:18 WIB

Trans Jateng Akhirnya Masuk Batang! Mulai Ngebut 2028, Feeder Langsung Tembus KITB

Rabu, 5 Agustus 2026 - 11:59 WIB

Peresmian Gedung Balaputradewa Perkuat Fasilitas Pendidikan Institut Nalanda

Rabu, 5 Agustus 2026 - 09:27 WIB

Janji Manis Purbaya: Ekonomi Tumbuh Dekati 6 Persen

Selasa, 4 Agustus 2026 - 20:26 WIB

Korwil Ikadin Jateng Apresiasi Regenerasi Pengurus, Dorong Soliditas Organisasi dan Penegakan Hukum

Minggu, 2 Agustus 2026 - 22:49 WIB

MUSKERCAB Gerakan Pemuda Ansor Sukoharjo 2026: Perkuat Konsolidasi Organisasi, Wujudkan Gerakan Kader yang Adaptif dan Berdampak

Berita Terbaru

LINTAS AKADEMIKA

FISIP UIN Walisongo Gandeng Presiden ISWMAW Bahas Inovasi Lingkungan

Rabu, 5 Agu 2026 - 14:59 WIB

Menteri Keungan Purbaya Yudhi Sadewa (gambar: Antara, CNN Indonesia)

KABAR NUSANTARA

Janji Manis Purbaya: Ekonomi Tumbuh Dekati 6 Persen

Rabu, 5 Agu 2026 - 09:27 WIB