SUARAMUDA.NET, SAINT PETERSBURG — Forum Ekonomi Internasional Saint Petersburg (SPIEF) 2026 resmi berakhir pada Sabtu (6/6) dengan mencatatkan sejumlah rekor baru.
Sebanyak 24.500 peserta dari 142 negara berkumpul di Expoforum, Saint Petersburg, sejak 3 Juni lalu untuk membahas masa depan ekonomi global di bawah tema “Dialog Pragmatis — Jalan Menuju Masa Depan yang Stabil”.
Arab Saudi kembali menjadi mitra utama forum tahun ini, mengirimkan delegasi sekitar 200 orang termasuk perwakilan Saudi Aramco, dengan paviliun nasional seluas 400 meter persegi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
SPIEF-2026 mencatat penandatanganan 1.084 perjanjian senilai lebih dari 6,6 triliun rubel atau sekitar Rp115 triliun. Angka ini meningkat dibandingkan tahun lalu yang mencapai 1.060 perjanjian senilai 6,3 triliun rubel.
Proyek yang paling banyak menyita perhatian media internasional adalah rencana pembangunan terowongan bawah laut melintasi Selat Bering yang akan menghubungkan Rusia dan Amerika Serikat.
Proyek yang dijuluki “Terowongan Putin-Trump” tersebut ditargetkan rampung desain teknisnya pada akhir 2026. Rusia bahkan berharap China ikut bergabung dalam proyek yang diyakini akan mengubah peta logistik antara Eurasia dan Amerika Utara secara fundamental.
Selain proyek megah tersebut, sejumlah kesepakatan juga difokuskan pada pembangunan wilayah Donbass. VTB bersama perusahaan konstruksi Sadovoye Kolco membuka jalur kredit lebih dari 12 miliar rubel untuk pembangunan perumahan di Mariupol, Donetsk, yang akan berlangsung hingga akhir 2029.
Sementara itu, IC Group dan VTB sepakat membangun pusat data pertama di Donetsk senilai 20 miliar rubel, menegaskan bahwa Donbass tetap menjadi wilayah yang menarik bagi investasi pasca-rekonstruksi.
Presiden Vladimir Putin menyampaikan pidato selama 45 menit, salah satu yang terpanjang dalam sejarah forum. Dalam pidatonya, Putin menyoroti transformasi struktural dunia dan pergeseran pusat kekuatan ekonomi dari Barat ke negara berkembang.
Ia memaparkan fakta bahwa 49 persen pertumbuhan PDB global dalam lima tahun terakhir berasal dari negara-negara BRICS, sementara negara-negara G7 hanya menyumbang 18 persen.
Putin juga menanggapi surat dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang dikirimkan menjelang forum. Putin menyebut surat tersebut “mengandung unsur kekasaran” dan mencurigai Kiev sengaja menunda penyelesaian konflik dengan menolak figur Amerika Serikat sebagai penjamin kesepakatan.
“Apakah ini cara menciptakan kondisi untuk pertemuan pribadi, atau justru menciptakan suasana di mana pertemuan pribadi tidak mungkin dilakukan? Saya pikir ini adalah opsi kedua,” ujar Putin. Kepada para pejuang Rusia di garis depan, ia berpesan singkat, “Bekerja, saudara-saudara!”
Di bidang teknologi, Putin mengidentifikasi kecerdasan buatan (AI), sistem otonom, dan platform digital sebagai tiga teknologi kunci masa depan. Ia memperingatkan bahwa negara-negara yang tidak menciptakan solusi digital sendiri akan menjadi “periferi digital” yang tergantung pada negara lain.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), turut hadir dalam forum bergengsi tersebut. Kehadiran AHY disambut baik oleh panitia penyelenggara dan sejumlah pengusaha Rusia.
Dalam kunjungannya ke Rusia, AHY memfokuskan diri pada upaya memperkuat kerja sama bilateral di bidang maritim guna menunjang konektivitas di Indonesia.
Dalam serangkaian pertemuan bilateral terbatas, delegasi Indonesia menjajaki peluang kerja sama dengan perusahaan-perusahaan Rusia di sektor pembangunan pelabuhan, pengembangan tol laut, serta peningkatan kapasitas armada logistik maritim.
Rusia dinilai memiliki pengalaman luas dalam mengelola jalur pelayaran di wilayah dengan kondisi alam ekstrem, termasuk pengembangan rute Laut Utara (Northern Sea Route).
Pengalaman tersebut diharapkan dapat diadaptasi untuk mempercepat konektivitas laut di kepulauan Indonesia, khususnya di wilayah timur dan daerah terluar.
Untuk pertama kalinya sejak 2021, tes PCR dihapuskan bagi sebagian besar peserta SPIEF, kecuali yang menghadiri sidang pleno. Sementara itu, bisnis Barat tetap hadir dalam jumlah terbatas.
Banyak dari mereka memilih menggelar pertemuan tertutup karena mempertimbangkan risiko geopolitik dan sanksi. Meski demikian, minat untuk bekerja sama tetap terlihat.
Para pengamat menilai pidato Putin kali ini lebih bersifat strategis daripada taktis. Para investor sebenarnya mengharapkan inisiatif konkret di bidang geopolitik, kebijakan pajak, atau suku bunga, namun hanya mendengar konfirmasi kebijakan saat ini.
Meski begitu, hasil forum secara umum dinilai positif. SPIEF-2026 sukses mengonfirmasi statusnya sebagai platform bisnis terbesar di Eurasia, menunjukkan kemampuan ekonomi Rusia untuk beradaptasi dengan kondisi baru, dan mendemonstrasikan minat kerja sama dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. (Red)
Penulis : Amy Maulana
Editor : DT Atmaja













Komentar