Sentuhan Magis Pemuda Disabilitas Sukoharjo, Ubah Limbah Kertas Jadi Topeng Wayang Bernilai Ekonomi

- Penulis

Minggu, 31 Mei 2026 - 14:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA.NET, SUKOHARJO — Transformasi menakjubkan terjadi di Sanggar Inklusi Permata Hati, Desa Jatisobo, Kecamatan Polokarto. Setelah sukses menguasai teknik standardisasi pemilahan sampah pada pekan sebelumnya, seratus pemuda disabilitas kini unjuk gigi menyulap limbah kertas menjadi mahakarya seni bernilai tinggi.

Momen bersejarah ini terekam dalam “Workshop & Pelatihan Intensif Produksi Topeng Wayang Limbah Kertas” yang digelar oleh Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia (YAKABI) pada Sabtu (30/5/2026).

Kegiatan inti ini merupakan poros utama dari program kolosal “Pemanfaatan Limbah Kertas Menjadi Topeng Wayang Bernilai Ekonomi bagi Pemuda Disabilitas di Kabupaten Sukoharjo”.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Langkah pelestarian lingkungan berbasis inklusi ini didukung penuh oleh Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Kementerian Kehutanan Republik Indonesia melalui inisiatif Forestry and Other Land Use Norway’s Contribution 4.

Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia (YAKABI), Fadhel Moubharok Ibni Faisal, menegaskan bahwa pelatihan tahap kedua ini adalah fase pembuktian dari konsep ekonomi sirkular yang diusung oleh yayasan.

“Hari ini kita tidak lagi sebatas bicara tentang memilah sampah, tetapi langsung menciptakan produk nyata. Limbah kertas kusam yang pekan lalu disortir oleh teman-teman disabilitas, kini dihancurkan, diolah menjadi pulp (bubur kertas), dan dicetak menjadi topeng wayang. Ini adalah lompatan besar menuju kemandirian ekonomi yang ramah lingkungan sekaligus wujud nyata partisipasi kita dalam menurunkan emisi karbon,” ujar Fadhel.

Baca Juga :  Dari Limbah Jadi Cuan, Yayasan Kiblat Cetak Pemuda Disabilitas Sukoharjo Jadi Wirausahawan Seni Ekologis

Guna memastikan tingginya kualitas karya seni yang dihasilkan, YAKABI menghadirkan langsung maestro topeng wayang kertas kebanggaan Sukoharjo, Drs. Rus Hardjanto atau yang akrab disapa Mbah Jantit.

Ketua Omah Topeng Langdhawur ini dengan telaten mengajarkan teknik meracik bubur kertas dengan proporsi perekat yang pas, proses pencetakan pada purwarupa wajah wayang, hingga detail teknik pengeringan.

“Saya sangat terharu melihat semangat anak-anak ini. Membuat topeng wayang itu butuh penjiwaan, bukan sekadar menempel kertas. Teman-teman disabilitas di sini ternyata memiliki kepekaan rasa dan ketekunan yang luar biasa tangguh. Tangan-tangan mereka membuktikan bahwa keterbatasan fisik sama sekali bukan halangan untuk melestarikan tradisi seni Jawa sekaligus merawat bumi,” ungkap Mbah Jantit di sela-sela mendampingi peserta memoles cetakan topengnya.

Antusiasme luar biasa dari para peserta juga mendapat sorotan khusus dari Ketua Sanggar Inklusi Permata Hati, Listri Sedyaningsih. Ia melihat energi positif dan kegembiraan yang memenuhi seluruh ruangan sanggar.

“Kami sangat bangga Sanggar Permata Hati dapat menjadi rumah bagi kegiatan yang memberdayakan ini. Melihat anak-anak tertawa lepas sambil tangannya berlumur bubur kertas adalah kebahagiaan tersendiri. Ini bukan sekadar pelatihan wirausaha, tetapi ruang aman bagi mereka untuk berekspresi tanpa batas,” tuturnya.

Baca Juga :  Soal Kasus Pemerkosaan di Pesantren, MUI: Coreng Pesantren!

Lebih dari sekadar menciptakan produk berdaya jual, proses produksi topeng wayang ekologis ini rupanya membawa dampak positif bagi perkembangan fisik dan mental peserta.

Hal ini diuraikan oleh Suyanti, salah satu Pendamping Inklusi yang turut mengawal jalannya pendampingan dari awal hingga akhir acara.

“Proses meremas lembaran kertas, mengadon bubur, hingga menekan adonan secara perlahan ke dalam cetakan topeng ini secara tidak langsung menjadi terapi motorik halus yang sangat berharga bagi anak-anak disabilitas. Selain itu, kegiatan ini terbukti sangat melatih tingkat fokus, kesabaran, serta melesatkan rasa percaya diri mereka ketika melihat hasil cetakan tangannya berhasil terbentuk menjadi wujud wayang yang sempurna,” jelas Suyanti.

Usai pelatihan intensif ini, karya topeng wayang setengah jadi tersebut akan melalui proses pengeringan dan pewarnaan detail. Sebagai langkah paripurna, para peserta akan dibekali ilmu pemasaran dalam “Workshop Strategi Kewirausahaan Digital” pada pekan mendatang, sebelum akhirnya seluruh mahakarya mereka dipamerkan secara agung pada malam puncak Gelar Karya Seni Budaya Ekologis. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wali Kota Semarang Resmikan TPU Pancasila Dukung FKUB Kota Semarang Jaga Toleransi Hingga Akhir Hayat
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Staycation Seru di Montera Glamping Lembang
Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan: Menjaga Persatuan, Merawat Perdamaian
Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”
MTQ Nasional XXXI di Jateng Tuai Apresiasi, Malam Ta’aruf Bikin Semarang Makin Semarak
TEP UI Dorong Hilirisasi Pala Berbasis Riset Melalui Uji Laboratorium
FKUB Goes to School Sambangi SMA 12 Semarang: Saatnya Pelajar Jadi Penggerak Kerukunan!
Berita ini 16 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:18 WIB

Wali Kota Semarang Resmikan TPU Pancasila Dukung FKUB Kota Semarang Jaga Toleransi Hingga Akhir Hayat

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Rabu, 16 September 2026 - 18:44 WIB

Staycation Seru di Montera Glamping Lembang

Minggu, 13 September 2026 - 15:36 WIB

Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan: Menjaga Persatuan, Merawat Perdamaian

Sabtu, 12 September 2026 - 15:04 WIB

Chiko Silitonga Tuangkan Kisah Personal Lewat Single “Sementara atau Selamanya”

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB