SUARAMUDA.NET., SEMARANG — Suhu politik Jawa Tengah mendadak naik satu level setelah Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, lantang menyebut Jateng sebagai “kandang gajah” saat membuka Rakorwil PSI Jawa Tengah di Solo, Kamis (8/1).
Pernyataan itu langsung jadi bahan perbincangan, bukan hanya karena ambisi PSI yang makin besar, tapi juga karena wilayah tersebut selama ini dikenal luas sebagai kandang banteng, basis utama PDIP.
PSI Geber Mesin Dini, Target Tinggi Bikin Alis Terangkat
Dalam pidatonya, Kaesang menyebut PSI sudah bersiap menuju Pemilu 2029 dengan target agresif: 17 kursi DPRD Provinsi dan minimal 100 fraksi terisi di kabupaten/kota.
Saat ini, PSI baru mengantongi 12 kursi di tingkat provinsi—angka yang menurut Kaesang masih “terlalu kecil” untuk ukuran Jawa Tengah.
Ia juga menyoroti Solo sebagai contoh sukses PSI. Dari satu kursi pada pemilu sebelumnya, kini menjadi lima, bahkan berhasil menempatkan kader di kursi pimpinan DPRD dan posisi Wakil Wali Kota.
Kaesang menekankan pentingnya kerja para Ketua DPC sebagai ujung tombak. “Kami di pusat nggak ada artinya tanpa kerja Bapak Ibu di lapangan,” ujarnya, sembari kembali menyampaikan ambisi PSI “mengisi kandang gajah”.
PDIP Tak Terpancing: Hasto Ingatkan PSI bahwa yang Menentukan adalah Rakyat
Tidak butuh waktu lama, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto merespons. Namun bukan dengan nada marah atau defensif—justru dengan kalimat datar yang menohok.
“Pemilu masih panjang. Rakyat yang menentukan, yang punya kedaulatan,” ujar Hasto dalam konferensi pers HUT ke-53 PDIP di Beach City International Stadium, Sabtu (10/1).
Alih-alih ikut adu jargon soal “kandang”, Hasto menekankan bahwa PDIP sedang fokus pada otokritik internal, memperkuat ideologi, dan memastikan kesiapsiagaan partai dalam urusan kemanusiaan, termasuk penanganan bencana.
“PDI Perjuangan bergerak maksimum demi kemanusiaan, tanpa melihat mereka memilih siapa,” tegasnya.
Nada Hasto jelas: PDIP memilih bekerja, bukan berteriak.
PDIP Kunci Barisan: Jateng Masih Kandang Banteng?
Meski santai menghadapi klaim PSI, PDIP tetap melakukan konsolidasi besar. Konferda PDIP Jawa Tengah sudah menetapkan Dolfie Othniel Frederic Palit sebagai Ketua DPD 2025–2030.
Dolfie, yang bukan putra daerah Jateng tetapi politisi senior PDIP, dipercaya memimpin basis banteng yang selama ini menjadi lumbung suara nasional.
Jajaran pengurus baru semakin komplet dengan hadirnya Sumanto sebagai Sekretaris dan Kaisar Kiasa Kasih Said Putra sebagai Bendahara—nama muda dari keluarga politik Jatim.
Konferda yang berlangsung 27–28 Desember itu juga dihadiri jajaran elite PDIP mulai Megawati Soekarnoputri, Puan Maharani, hingga Pinka Haprani yang juga masuk dalam struktur sebagai Wakil Ketua.
PSI Makin Nyaring, PDIP Makin Anteng — Siapa Akan Menang di 2029?
Di satu sisi, PSI tampil agresif, penuh gaya, dan percaya diri dengan slogan-slogan baru. Di sisi lain, PDIP memilih tetap pada gaya klasiknya: tenang, tertata, dan bertumpu pada jaringan struktural yang sudah puluhan tahun mengakar.
PSI boleh teriak soal “kandang gajah”, tapi angka di lapangan, pengalaman struktural, dan konsolidasi internal masih jadi pekerjaan rumah besar.
Apakah PSI benar-benar siap menantang PDIP di Jateng? Atau justru hanya memanaskan panggung tanpa kekuatan riil? Yang jelas, seperti kata Hasto: “Rakyat yang menentukan.”
(Red)