SUARAMUDA.NET, KEPANJEN, MALANG — Di antara deru napas dan riuhnya atmosfer kompetisi di Kejuaraan Kickboxing Piala Bupati Malang, 20-21 Desember 2025 kemarin, terselip sebuah narasi tentang keteguhan hati.
Di atas matras, berdiri Mohammad Yusron Hasani—atau yang akrab disapa Hasan—seorang pria berusia 33 tahun yang baru saja menuntaskan janji pada dirinya sendiri: untuk tidak pernah menyerah pada usia.
Dua tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menepi dari dunia kompetisi. Bagi banyak atlet, vakum selama itu sering kali menjadi titik akhir.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Yusron sendiri mengaku sempat didera keraguan. Tubuh yang tidak lagi se-eksplosif dulu dan predikat “senior” yang kini melekat pada namanya menjadi tantangan mental yang nyata. Namun, bagi Hasan, panggilan dari dalam arena adalah suara yang tak pernah bisa ia bungkam.
Membangun Kembali dari Nol
Memutuskan untuk kembali berarti siap untuk “berdarah-darah” lagi. Di bawah bimbingan Coach Arens Tiger King MMA dan memakai nama Dojo Katsuge, Hasan memulai perjalanannya dari titik nol. Ia tidak memposisikan dirinya sebagai juara lama, melainkan sebagai murid yang haus akan ilmu.
Fokus utamanya adalah membedah ulang teknik creative form. Dengan dasar Karate yang kuat, ia menghidupkan kembali setiap kuda-kuda (dachi).
Ia percaya bahwa dalam creative form, keindahan bukan hanya soal kecepatan, tapi soal jiwa yang ada dalam setiap gerakan dasar.
“Kuda-kuda dasar itu harus benar-benar hidup ketika dimasukkan ke dalam combo,” jelasnya. Melalui latihan intensif di Tiger King Camp, ia mengasah kembali koordinasi tubuhnya yang sempat tumpul.
Emas yang Bermakna Lebih dari Sekadar Medali
Puncaknya, di Kepanjen akhir pekan lalu, keraguan itu sirna. Meski harus bersaing dengan tenaga-tenaga muda, kematangan teknik dan ketenangan Hasan membawanya meraih Juara 1 dan Medali Emas.
Namun, saat medali itu dikalungkan, Hasan tidak lantas berpuas diri. Baginya, kemenangan ini adalah pengingat akan PR besar yang masih menanti, terutama soal speed nunchaku yang ingin ia pertajam lagi bersama komunitas INC Mojokerto.
Bukan Tentang Pembuktian, Tapi Gaya Hidup
Kembalinya Hasan ke arena adalah sebuah pesan kuat bagi dunia olahraga amatir maupun profesional.
Baginya, kompetisi di usia kepala tiga bukan lagi tentang menunjukkan siapa yang terkuat kepada orang lain.
“Ini tentang lifestyle untuk diri sendiri—bahwa semangat belajar, berlatih, dan bertumbuh tidak pernah mengenal kata tua,” pungkasnya.
Kisah Hasan di Piala Bupati Malang 2025 adalah pengingat bagi kita semua: bahwa selama api di dalam dada masih menyala, arena akan selalu menjadi tempat bagi mereka yang berani mencoba. (Red)













Komentar