SUARAMUDA.NET, SUNGAI GERINGGING — Para pemuda yang tergabung dalam Suger Peduli kembali turun ke lapangan untuk membantu masyarakat terdampak banjir bandang, longsor, dan galodo di Sumatera Barat.
Di berbagai titik bencana, mereka mendatangi rumah-rumah warga, menyusuri jalan berlumpur, hingga menembus rute yang mengalami buka-tutup akibat longsor susulan.
Pendekatan door to door menjadi pilihan agar bantuan sampai secara langsung tanpa menimbulkan kerumunan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu lokasi pertama yang didatangi adalah sebuah pondok pesantren di Kecamatan Sungai Geringging yang terdampak longsor.
Dari sana, bantuan diperluas ke kecamatan lain seperti 2×11 Kayu Tanam, Lubuk Alung, Batang Anai, IV Koto Aur Malintang, dan Sungai Limau.
Pada awal Desember, tim juga bergerak menuju wilayah Agam, yakni Nagari Salareh Aie Timur di Kecamatan Palembayan serta Nagari Sungai Batang di Kecamatan Tanjung Raya, meski akses sulit karena hujan dan material longsor yang masih menutupi sebagian jalan.
Di sela penyaluran logistik, Suger Peduli turut menyerahkan uang duka kepada keluarga warga Sungai Geringging yang menjadi korban galodo di kawasan Jembatan Kembar Padang Panjang.
Penyerahan dilakukan secara langsung sebagai bentuk dukungan moral bagi keluarga yang ditinggalkan.
Aksi lapangan tersebut merupakan hasil dari penggalangan dana yang dibuka pada 30 November hingga 5 Desember 2025. Dari periode resmi pengumpulan, diperoleh Rp 49.230.000.
Namun partisipasi masyarakat tidak berhenti di situ. Donasi tetap mengalir meski masa penggalangan telah berakhir hingga total mencapai Rp 50.821.000.
Dana ini sepenuhnya disalurkan untuk korban bencana di berbagai wilayah Sumatera Barat.
Keberagaman latar belakang para pemuda yang terlibat menjadi kekuatan utama gerakan ini.
“Relawan Suger Peduli berasal dari latar yang berbeda-beda, tetapi semuanya menyatu di lapangan. Itu yang membuat asesmen dan distribusi jauh lebih efektif,” ujar Abdurrahman Ahady.
Relawan lainnya, M. Ilham, juga menyampaikan apresiasi atas dukungan masyarakat.
“Kami hanya menjadi perantara. Donaturlah yang membuat gerakan ini berjalan. Semoga setiap rupiah menjadi ladang pahala.”
Koordinator kegiatan, Raditya Tomi, menegaskan bahwa Suger Peduli tidak hanya bergerak ketika bencana terjadi.
“Move to Impact bukan hanya tentang respon cepat, tetapi juga menanamkan budaya solidaritas jangka panjang di kalangan pemuda,” jelasnya. (AA)













Komentar