Euforia Berakhirnya Darurat Sampah vs Realitas Ekologis Mataram

- Penulis

Minggu, 7 Desember 2025 - 16:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: M. Arvid Lars, Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Universitas islam Negeri Mataram

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Statemen tentang Mataram “bebas darurat sampah” adalah pencapaian administratif tapi sebenarnya bukan suatu jaminan bahwa masalah lingkungan telah tuntas. Kita jangan sampai terlena akan label ini.

Sebab, produksi sampah harian di Mataram masih sangat besar. Catatan terbaru menunjukkan bahwa kota ini memproduksi sekitar 200 ton sampah per hari, dengan TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) hanya mampu mengolah sebagian kecil dari total itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sejumlah kanal dan sungai di Mataram tetap rawan tergenang ketika musim hujan, meskipun status darurat sampah dicabut. Sebagian besar penyebab banjir bukan hanya curah hujan ekstrem, tapi juga pendangkalan sungai dan penyumbatan drainase akibat sampah dan endapan.

Pencabutan status darurat bisa jadi menciptakan rasa aman ‘semu’ di kalangan masyarakat. Padahal, tanpa kebijakan pengelolaan lingkungan komprehensif dan perubahan perilaku publik, risiko banjir, genangan, dan polusi tetap nyata.

Kenyamanan Kota vs Kepentingan Lingkungan Jangka Panjang

Baca Juga :  Pemimpin Dipercaya, Bukan Ditakuti: Belajar dari Filosofi Ma’at

Mataram dewasa ini sedang dalam fase pembangunan infrastruktur, pemukiman, dan fasilitas publik. Tapi di tengah percepatan itu, ada kecenderungan tata ruang dan pengelolaan lingkungan seakan “diabaikan”.

Menurut organisasi lingkungan lokal, banyak sungai dan aliran air di Mataram yang sudah menyempit. Sebagian bahkan dibangun di tepi sungai tanpa penataan tata ruang yang jelas.

Kalau pola ini terus terulang pembangunan vs lingkungan maka “kota bersih” hanya akan menjadi jargon belaka. Di sisi lain, bencana lingkungan, terutama saat hujan atau musim pasang laut, bisa jadi akan lebih sering terjadi.

Peran Warga: Dari Konsumen Pasif Menjadi Pelaku Aktif

Pemerintah bisa (dan harus) memperbaiki sistem TPST, drainase, pengerukan sungai, dan sebagainya. Tapi tanpa kesadaran warga, semua itu bisa jadi sia-sia.

Untuk itu, kita perlu memperhatikan beberapa hal antara lain: pertama, budaya reduce–reuse–recycle (kurangi, gunakan ulang, daur ulang).

Kedua, tidak membuang sampah ke sungai atau saluran air karena itu penyebab utama luapan saat hujan. Ketiga, terlibat aktif dalam komunitas kebersihan dan lingkungan bukan menunggu instruksi pemerintah.

Baca Juga :  Prada Lucky Chepril Saputra Namo dan Ujian Kedasaran Institusi: Saat Militer Membunuh Kepercayaan Publik

Waktunya Evaluasi: “Bebas Status Darurat” Bukan Akhir

Kalau kita benar-benar peduli, Kota Mataram yang “bebas status darurat” harus dijadikan awal, bukan akhir. Artinya, pemerintah daerah perlu menetapkan target lingkungan jangka panjang dan bukan hanya reaktif terhadap masalah.

Warga Mataram juga harus mengubah pola hidup supaya sampah, banjir, dan polusi tidak terus jadi ancaman setiap musim hujan atau pasang laut.

Tak hanya itu, media dan generasi muda bisa mengawal kebijakan dengan memberi kritik, pengawasan, dan turut serta dalam aksi lingkungan.

Penutup: Mataram Butuh Komitmen Lingkungan, Bukan Sekadar Label

Mataram bisa bangga telah keluar dari status darurat sampah tapi kita jangan berhenti sampai di situ. Kebersihan, ketahanan lingkungan, dan kualitas hidup butuh kerja keras bersama.

Kalau kita hanya puas dengan simbol administratif, tanpa aksi nyata maka suatu saat, “darurat” bisa datang kembali. Dan mungkin lebih besar karena bukan hanya soal sampah, tetapi keselamatan warga, lingkungan, dan masa depan bersama. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 14 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB