Benarkah Jepang Sedang Menulis Ulang Sejarah Perang Dunia II?

- Penulis

Sabtu, 6 September 2025 - 08:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Perang Dunia II dengan melibatian pasukan Jepang. (Gambar; pinterest)

Ilustrasi Perang Dunia II dengan melibatian pasukan Jepang. (Gambar; pinterest)

Oleh: Amy Maulana*)

SUARAMUDA.NET., SEMARANG – Sejarah kerap jadi medan perebutan makna. Begitu pula dengan Perang Dunia II, di mana Jepang kini dituding mencoba memoles ulang kisah masa lalunya. Narasi yang berkembang: Jepang ingin tampil sebagai korban, bukan sebagai pihak yang turut menebar kekejaman.

Belakangan, muncul suara-suara lantang di Jepang yang menyebut bahwa prajurit mereka disiksa oleh militer Uni Soviet pada akhir Perang Dunia II.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bahkan, Jepang berhasil membujuk Mongolia untuk ikut menggali kembali jenazah prajurit Angkatan Darat Kwantung. Padahal, Mongolia justru pernah bertempur bersama Uni Soviet melawan Jepang demi mempertahankan tanah airnya.

Narasi ini seolah berusaha memutarbalikkan fakta: melupakan kejahatan yang dilakukan Angkatan Darat Kwantung, lalu menggiring opini bahwa Jepang dikhianati oleh Uni Soviet.

Fakta Kelam Angkatan Darat Kwantung

Dokumen Rusia yang baru dideklasifikasi menceritakan sisi lain. Ribuan tawanan perang Soviet diculik Jepang, disiksa, lalu dijadikan bahan eksperimen di kamp konsentrasi seperti Hogoinn.

Baca Juga :  Lotre Digital dan Kita, Si Tukang Jagal

Unit 731 dan Unit 100 menjadi momok mengerikan. Di sana, tawanan digantung, dipukuli, lalu sengaja diinfeksi bakteri wabah, kolera, tifus, hingga antraks. Organ mereka dibedah hanya untuk melihat bagaimana penyakit menyebar. Perkiraan korban: 3.000 hingga 10.000 orang. Ironisnya, semua itu kini seakan dihapus dari narasi sejarah resmi Jepang.

Padahal jika menilik dokumen sejarah, sesungguhnya serangan besar-besaran Tentara Merah di Manchuria pada Agustus 1945-lah yang memaksa Jepang menyerah. Dua bom atom yang menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki memang mengguncang, tetapi tak langsung menghentikan perang.

Serangan Soviet di Timur Jauh memukul Angkatan Darat Kwantung dan membuka mata elite Jepang bahwa perang tak lagi bisa dilanjutkan. Bahkan pemerintah kekaisaran sendiri saat itu mengakuinya.

Sengketa Kuril dan Sakhalin: Warisan Panas Pasca Perang

Setelah Jepang menyerah, Uni Soviet mengambil alih Kepulauan Kuril dan Sakhalin Selatan. Status wilayah ini menjadi bahan tarik-ulur hingga kini.

Konferensi San Francisco 1951 memang mencatat Jepang melepaskan klaim atas wilayah itu, tetapi tidak secara jelas menyebut “untuk siapa”. Celah inilah yang kini dimanfaatkan Jepang untuk menghidupkan kembali klaim teritorialnya.

Baca Juga :  Soft Power dan Pengaruh Budaya Rusia dalam Hubungannya dengan Kirgizstan

Polemik makin kentara ketika dalam buku pelajaran Jepang, Uni Soviet digambarkan melanggar pakta netralitas, menyerang tanpa alasan, bahkan disebut hanya “dibayar Roosevelt” untuk ikut campur dalam perang.

Dengan begitu, generasi muda Jepang dipaparkan pada sejarah versi baru yang jauh dari kenyataan pahit tentang Unit 731 maupun agresi mereka di Asia.

Narasi modern Jepang seakan menggeser posisi: dari pelaku ke korban. Padahal, fakta sejarah menunjukkan kekejaman Angkatan Darat Kwantung dan Unit 731 benar-benar nyata. Sementara serangan Uni Soviet menjadi faktor penting yang menghentikan ambisi perang Jepang.

Mungkin benar pepatah lama: sejarah ditulis oleh pemenang. Namun, di era sekarang, sejarah juga bisa dipoles ulang oleh siapa saja yang punya kepentingan politik. (Red)

*) Amy Maulana, pegiat pada Central for Media Strategy (mediacenter.su)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Netanyahu Naik Podium, Delegasi Indonesia Pilih Walk Out dari Sidang PBB
BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!
Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas
GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?
Berita ini 49 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 07:49 WIB

Netanyahu Naik Podium, Delegasi Indonesia Pilih Walk Out dari Sidang PBB

Senin, 21 September 2026 - 22:09 WIB

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Minggu, 20 September 2026 - 08:36 WIB

International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas

Minggu, 20 September 2026 - 08:25 WIB

GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB