Bubarkan DPR: Sekedar Narasi atau Kenyataan Politik?

- Penulis

Sabtu, 30 Agustus 2025 - 12:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Tangkapan layar anggota DPR saat berjoget usai sidang MPR (sumber: TikTok)

Tangkapan layar anggota DPR saat berjoget usai sidang MPR (sumber: TikTok)

Oleh: Krisna Wahyu Yanuar*)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Narasi “Bubarkan DPR RI” yang muncul sejak kasus pesta joget di Senayan bukan sekadar letupan spontan di media sosial, melainkan cerminan krisis kepercayaan publik terhadap lembaga legislatif.

Awalnya, momen joget itu hanyalah seremonial biasa dalam sebuah acara menyanyi. Namun framing media sosial bergerak cepat, mengaitkannya dengan naiknya tunjangan DPR.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Publik pun segera menangkap simbol: wakil rakyat menari di atas penderitaan rakyat, Inilah titik api yang digiring algoritma.

Kondisi objektif masyarakat saat ini adalah ekonomi yang kian berat. Harga kebutuhan pokok naik, daya beli menurun, sementara di sisi lain DPR justru menikmati “kenaikan tunjangan”.

Ketimpangan ini memicu rasa marah. Apa yang dilihat publik bukan sekadar joget, melainkan simbol kesenjangan—“kami lapar, kalian berpesta.”

Flexing dan Krisis Komunikasi

Narasi makin diperkuat oleh fenomena flexing pejabat, terutama Ahmad Sahroni yang kerap memamerkan kemewahan.

Disusul dengan krisis komunikasi politik: Hasan Nasbi dengan statement kontroversial, Sudewo dengan sikap elitis, hingga figur publik seperti Uya Kuya yang seolah melegitimasi gaya hidup pejabat. Alih-alih membangun empati, yang muncul justru jarak psikologis antara penguasa dan rakyat.

Baca Juga :  Mengintegritasikan Nilai-nilai Islam dalam Membangun Bisnis Syari’ah

Menariknya, framing tidak berhenti di DPR. Beberapa akun menggiring kamera ke wajah Gibran, seolah-olah ia tidak pro terhadap DPR.

Narasi ini strategis: memisahkan posisi eksekutif (Prabowo–Gibran) dari legislatif, sekaligus menyiapkan kanal baru bagi kekecewaan rakyat. Tidak lama kemudian muncul hashtag di Tiktok #BantuPrabowoBubarkanDPR Publik pun digiring untuk melihat “harapan” ada pada presiden, bukan parlemen.

Bahaya Bagi Demokrasi

Puncaknya, narasi itu menyeberang dari dunia maya ke dunia nyata. Demonstrasi 25 Agustus 2025 menjadi ruang artikulasi nyata dari kemarahan publik. Apa yang sebelumnya hanya hashtag kini menjelma menjadi gerakan massa.

Namun ada yang perlu diwaspadai. Narasi “Bubarkan DPR” memang terdengar populis, tetapi juga mengandung bahaya bagi demokrasi.

DPR—betapapun korup atau elitisnya—tetaplah lembaga yang menjadi penyeimbang kekuasaan eksekutif. Membubarkan DPR berarti membuka ruang otoritarianisme baru.

Tetapi, yang juga tidak bisa diabaikan: narasi ini lahir dari realitas. Ekonomi sulit, komunikasi pejabat buruk, flexing yang menyakitkan, hingga tunjangan jumbo DPR di tengah krisis. Dengan kata lain, DPR sendiri yang menyalakan bara ketidakpercayaan ini.

Baca Juga :  Implementasi Hak dan Kewajiban Warga Negara sebagai Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Apakah narasi “Bubarkan DPR” hanya amarah sesaat? Atau pertanda dalam bahwa rakyat mulai kehilangan kepercayaan pada sistem perwakilan?

Yang jelas, momen joget di Senayan bukanlah penyebab utama, hanya percikan. Bahan bakarnya sudah lama menumpuk: kesenjangan sosial, arogansi elit, dan politik yang gagal menyentuh rakyat.

Jika DPR tidak segera berbenah, jangan salahkan publik bila narasi ini terus bergema. Karena dalam imajinasi rakyat, bubarnya DPR mungkin justru dianggap awal dari lahirnya politik yang lebih jujur.

Perspektif akademis memberi kita dua bacaan yakni, narasi ini adalah ekspresi kekecewaan struktural rakyat yang rasional.

Namun ia juga bisa menjadi alat politik hegemonik, dipelihara untuk memperkuat legitimasi eksekutif dengan mengorbankan lembaga legislatif.

Dengan demikian, “Bubarkan DPR” adalah seruan yang ambigu: antara kritik sosial yang sah, dan instrumen politik yang berpotensi melemahkan demokrasi itu sendiri. (Red)

*) Krisna Wahyu Yanuar, Mahasiswa Peminat Isu Sosial Politik

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG
Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai
Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan
Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia
Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja
Palu Arit dan Bulan Bintang: Jalan Sunyi Sang Bolsyewik Mengawinkan Dua Poros Besar
Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Rasa Aman yang Harus Dijaga
Menjaga Gunung Ungaran, Menimbang Masa Depan Energi Kabupaten Semarang
Berita ini 16 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:50 WIB

Menghemat Anggaran, Menekan Food Waste: Kantin Sekolah adalah Jalan Tengah MBG

Jumat, 18 September 2026 - 18:53 WIB

Filosofi “Haha-Hihi” Purbaya: Belajar Tenang di Tengah Badai

Kamis, 17 September 2026 - 08:25 WIB

Membaca dan Memahami: Jalan Menuju Keselamatan

Kamis, 10 September 2026 - 07:34 WIB

Membaca Nalar Logis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 282/PUU-XXIII/2025: Lembaga Negara Tidak Memiliki Perasaan Seperti Manusia

Selasa, 8 September 2026 - 08:49 WIB

Profesionalisme: Seni Beradaptasi di Lingkungan Kerja

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB