Aksi 28 Agustus: Saat Rakyat Minta Dialog, Negara Menjawab dengan Gas dan Peluru Karet

- Penulis

Sabtu, 30 Agustus 2025 - 13:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

POV: aksi demonstrasi 25 Agustus. (Tangkapan layar dari video euronews)

POV: aksi demonstrasi 25 Agustus. (Tangkapan layar dari video euronews)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Ada yang getir dari aksi 28 Agustus 2025. Ribuan buruh memenuhi jalanan Jakarta, menyuarakan tuntutan yang sederhana tapi fundamental: hapus outsourcing, naikkan upah minimum, dan sederhanakan pajak agar rakyat kecil tidak terus jadi tumbal.

Namun, alih-alih ruang dialog, yang mereka terima justru gas air mata, water cannon, dan teror aparat bersenjata lengkap. Apakah ini wajah demokrasi yang kita banggakan?

Kita patut bertanya, mengapa negara lebih sigap mengerahkan pasukan daripada menurunkan negosiator? Mengapa suara rakyat yang jelas-jelas konstitusional selalu dicurigai, dianggap ancaman, lalu dipukul mundur dengan cara represif?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Negara tampak paranoid pada warganya sendiri. Dan tragedi pun lahir. Seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, tewas terlindas kendaraan taktis Brimob.

Ia bukan buruh yang berorasi, bukan mahasiswa yang melempar botol. Ia hanyalah rakyat kecil yang kebetulan berada di pusaran konflik. Nyawa rakyat kembali jadi collateral damage atas kegagapan negara mengelola demokrasi.

Baca Juga :  Muhammadiyah Sumatera Selatan Gelar Bimtek dan ToT Agen–Verifikator SatuMu, Perkuat Ekosistem Digital Persyarikatan

Kekerasan ini memperlihatkan pola lama yang terus diulang. Ketika rakyat bicara, negara menutup telinga. Ketika rakyat bersuara lebih keras, negara menutup jalan.

Dan ketika rakyat menolak diam, negara mengerahkan kekuatan bersenjata. Demokrasi berubah jadi monumen retoris yang hanya indah di pidato, tetapi rapuh di lapangan.

Tuntutan buruh sebenarnya jelas, terukur, dan realistis. Mereka tidak bicara soal revolusi politik, melainkan perut. Mereka bicara soal gaji yang tidak cukup untuk membayar kontrakan, soal outsourcing yang membuat pekerja hanya jadi roda sekali pakai, soal pajak yang lebih berat di pundak rakyat kecil ketimbang elit korporasi.

Bukankah ini seharusnya jadi prioritas negara? Ironisnya, Presiden saat itu justru menghadiri acara lain, seolah demonstrasi puluhan ribu rakyat di depan DPR hanyalah lalu lintas biasa yang bisa diatasi dengan rekayasa jalan. Ini bukan sekadar kelalaian protokoler. Ini sinyal bahwa negara makin jauh dari denyut rakyatnya.

Kita tahu, aksi ini akan segera diberi label: anarkis, ditunggangi, meresahkan. Itu narasi klasik yang selalu dipakai untuk mendeligitimasi gerakan rakyat. Padahal, kekerasan justru dipicu oleh aparat yang gagal menjaga aksi tetap damai. Menyalahkan buruh dan mahasiswa tanpa mengakui represi aparat hanyalah cara licik untuk cuci tangan.

Baca Juga :  Soal Kaldera Toba yang Terancam Dicoret UNESCO, Sutarto: Mau Anak Cucu Kita Cuma Tahu dari Buku Sejarah?

Pertanyaan mendasar: sampai kapan negara membangun demokrasi dengan gas air mata? Sampai kapan nyawa rakyat dianggap murah? Jika pemerintah terus menutup mata, maka aksi 28 Agustus bukanlah akhir, melainkan permulaan.

Buruh, mahasiswa, dan rakyat kecil akan kembali turun ke jalan, karena perut tidak bisa dipaksa kompromi. Dan ketika rakyat semakin tidak percaya pada negara, maka yang runtuh bukan sekadar legitimasi pemerintah, melainkan fondasi demokrasi itu sendiri.

Aksi 28 Agustus adalah ujian. Apakah kita punya pemimpin yang berani mendengar, atau sekadar penguasa yang hanya tahu menekan? Satu hal pasti: demokrasi tidak bisa hidup di negara yang lebih cepat menembakkan gas daripada membuka dialog. (Red)

Penulis: Yohanes Soares

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Masyarakat Tak Yakin Kopdes Merah Putih Akan Mampu Berkembang?
Laili Abidah Jadikan Aspirasi Muslimat NU sebagai Dasar Perjuangkan Program Perempuan
MK Larang Dana Pendidikan Dipakai buat MBG, Tapi Berlaku Penuh Mulai 2028
Lagi dan Lagi! Bupati Pemalang Tertangkap OTT KPK
Desa Hilimbowo Punya Sekolah Lansia, Hari Tua Kini Makin Seru dan Produktif
Wamen ESDM Ajak Generasi Muda Buddhis Kawal Ketahanan Energi Menuju Indonesia Emas 2045
Prof. Philip K. Widjaja Bawa Pesan Aksi Nyata, Bambang Patijaya Dorong Kepemimpinan Berdampak
GovLine: Hak Angket DPRD Gowa Belum Berarti Pemakzulan, Publik Diminta Menunggu Putusan Paripurna
Berita ini 4 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 20:05 WIB

Masyarakat Tak Yakin Kopdes Merah Putih Akan Mampu Berkembang?

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 11:38 WIB

Laili Abidah Jadikan Aspirasi Muslimat NU sebagai Dasar Perjuangkan Program Perempuan

Jumat, 31 Juli 2026 - 10:53 WIB

MK Larang Dana Pendidikan Dipakai buat MBG, Tapi Berlaku Penuh Mulai 2028

Rabu, 29 Juli 2026 - 07:30 WIB

Lagi dan Lagi! Bupati Pemalang Tertangkap OTT KPK

Senin, 27 Juli 2026 - 22:44 WIB

Desa Hilimbowo Punya Sekolah Lansia, Hari Tua Kini Makin Seru dan Produktif

Berita Terbaru

Gambar: Kompas.com

KABAR NUSANTARA

Masyarakat Tak Yakin Kopdes Merah Putih Akan Mampu Berkembang?

Sabtu, 1 Agu 2026 - 20:05 WIB

RAGAM

PDPM Ogan Ilir selenggarakan Madrasah Anti Korupsi

Jumat, 31 Jul 2026 - 10:58 WIB