Mungkinkah Pemakzulan Bupati Pati Bakal Kandas?

- Penulis

Senin, 25 Agustus 2025 - 07:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pengamat politik Universitas Diponegoro Semarang, Nur Hidayat Sardini. (Foto: Athok Mahfud/Indoraya)

Pengamat politik Universitas Diponegoro Semarang, Nur Hidayat Sardini. (Foto: Athok Mahfud/Indoraya)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Drama politik di Pati makin seru aja nih, bro! Isu pemakzulan Bupati Sudewo terus jadi bahan obrolan hangat, tapi pertanyaannya: emang bisa beneran kejadian atau cuma bakal jadi wacana doang?

Pengamat politik sekaligus dosen Undip, Nur Hidayat Sardini (NHS), kasih warning keras: jangan gampang ngebayangin pemakzulan bisa berjalan mulus. Menurutnya, gerakan sosial di Pati masih punya PR besar, terutama soal kekompakan.

“Kalau internalnya nggak solid, susah banget buat jaga konsistensi gerakan. Apalagi faktor luar juga bisa ikut campur dengan bentuk yang macam-macam,” ujar NHS, dikutip dari Indoraya.News, Minggu malam (24/8/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemakzulan Itu Nggak Semudah Ngomongin di Warung Kopi

NHS ngingetin kalau ngedepak seorang bupati tuh nggak bisa asal. Semua harus lewat jalur hukum sesuai aturan undang-undang. Pansus DPRD wajib punya bukti yang kuat buat dikasih ke Mahkamah Agung.

“Harus ada kesalahan yang nyata. Misalnya melanggar UU Pemerintahan Daerah, sumpah jabatan, atau bikin keresahan publik,” jelas NHS.

Baca Juga :  Innalillahi, Dalang Kondang Ki Anom Suroto Wafat

Dari tiga poin itu, NHS menilai keresahan publik emang jadi aspek yang paling kentara di kasus Sudewo. Tapi ya, keresahan doang belum tentu cukup jadi senjata pamungkas.

Sudewo dan Jurus “Minta Maaf”

Menariknya, Bupati Sudewo disebut punya nyali lumayan gede. Beberapa kali dia blak-blakan minta maaf langsung ke masyarakat, bahkan waktu demo besar 13 Agustus lalu.

“Jarang lho ada pejabat yang berani hadapin massa yang lagi marah. Itu keberanian moral yang harus diapresiasi,” kata NHS.

Tapi jangan salah, bro. NHS juga bilang minta maaf nggak otomatis bikin urusan hukum kelar. “Semua tetap balik ke bukti, bukan asumsi. Ujungnya, hakim di Mahkamah Agung yang bakal nentuin,” tegasnya.

Kasus kayak gini sebenernya bukan hal baru. NHS ngingetin soal beberapa kepala daerah yang sempet dipecat, kayak Bupati Semarang Sudijatno (1999), Wali Kota Tegal Zakir (1998), sampai Bupati Garut Aceng Fikri (2013).

Baca Juga :  Bank Jateng 'Gayeng', Raih Penghargaan pada Ajang Banking Mastery Forum and Appreciation 2024

Waktu itu awalnya adem-adem aja, tapi begitu elite nasional ikut campur, barulah prosesnya jadi cepat. Nah, di kasus Sudewo ini, NHS ngeliat belum ada sinyal kuat dari elite nasional buat dorong pemakzulan.

Jalur KPK, Lebih Realistis?

Selain DPRD, NHS juga buka kemungkinan jalur hukum lewat KPK. Tapi ya gitu, prosesnya panjang dan ribet.

“Kalau lewat DPRD, terasa berat. Mungkin kalau KPK nemuin pelanggaran besar, baru bisa jalan. Tapi waktunya pasti lebih lama,” ujarnya.

So, apakah Sudewo bakal lengser? Menurut NHS, sementara ini masih berat. Belum ada dasar hukum dan politik yang cukup kuat buat jatuhin dia.

“Sekitar 60 persen, Sudewo masih aman. Belum ada perkembangan signifikan di DPRD,” bebernya.

Intinya, jalur pemakzulan lewat UU Pemerintahan Daerah memang nggak gampang. Jadi, buat sekarang, drama politik Pati ini kemungkinan masih bakal berlanjut. Stay tuned, bro! (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Wali Kota Semarang Resmikan TPU Pancasila Dukung FKUB Kota Semarang Jaga Toleransi Hingga Akhir Hayat
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
Berita ini 9 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Senin, 21 September 2026 - 21:18 WIB

Wali Kota Semarang Resmikan TPU Pancasila Dukung FKUB Kota Semarang Jaga Toleransi Hingga Akhir Hayat

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB