0-1: Kekalahan Pahit Timnas U-23 Indonesia dari Vietnam–Siapa yang Harus Disalahkan?

- Penulis

Rabu, 30 Juli 2025 - 09:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

POV: Laga Timnas U-23 (Garuda Muda) vs Vietnam di ajang Piala AFF U-23 2025. (dok istimewa)

POV: Laga Timnas U-23 (Garuda Muda) vs Vietnam di ajang Piala AFF U-23 2025. (dok istimewa)

SUARAMUDA.NET, SEMARANG — Laga final Piala AFF U-23 2025 berakhir dengan pilu bagi Timnas Indonesia. Skor 0-1 untuk Vietnam bukan sekadar angka, tapi bukti betapa rapuhnya pertahanan Garuda Muda dan mandulnya lini serang.

Gol tunggal Vietnam dicetak oleh Nguyễn Văn Tùng pada menit ke-67, memanfaatkan blunder pertahanan Indonesia yang gagal membersihkan bola dari kotak penalti. Tapi, siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas kekalahan ini?

Pertama, mari kita bicara tentang pelanggaran fatal yang mengubah jalannya pertandingan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Komang Teguh, bek tengah Indonesia, melakukan tackle keras pada menit ke-55 yang nyaris membuatnya diganjar kartu merah.

Wasit hanya memberi peringatan, tapi momen itu menjadi titik balik mental Vietnam yang semakin agresif.

12 menit kemudian, Nguyễn Văn Tùng—yang sudah mengancam sepanjang babak kedua—akhirnya merobek jala Ernando Ari setelah memanfaatkan kekacauan di kotak penalti.

Siapa yang salah di sini? Rizky Ridho, kapten tim, terlihat lamban dalam mengorganisir pertahanan.

Sementara itu, Marselino Ferdinan, yang diharapkan menjadi playmaker, justru hilang di bawah tekanan gelandang Vietnam.

Baca Juga :  Hasil Drawing kualifikasi Asia menuju Piala Dunia 2026, Skuad Garuda Ada di Grup C

Bahkan Witan Sulaeman, yang biasanya menjadi andalan serangan, tampak seperti bayangan diri sendiri—terlalu banyak sentuhan bola tanpa hasil akhir yang berarti.

Vietnam bermain lebih cerdas. Mereka memanfaatkan kelemahan sisi kiri pertahanan Indonesia, di mana Ferdinand Sinaga kerap kewalahan menghadapi serangan sayap.

Kiper Ernando Ari memang membuat beberapa penyelamatan penting, tapi satu kesalahan konsentrasi cukup untuk membunuh impian juara.

Strategi menggempur sejak menit awal justru membuat Indonesia kelelahan di babak kedua. Substitusi Hokky Caraka dan Rafael Struick terlambat—keduanya masuk ketika Vietnam sudah unggul dan bermain lebih defensif.

Ini bukan sekadar kekalahan, tapi pembelajaran berdarah. Timnas U-23 Indonesia punya bakat, tapi masih kekurangan kedewasaan dan ketajaman taktis.

Vietnam, di sisi lain, membuktikan bahwa disiplin dan efisiensi lebih penting daripada sekadar memiliki nama-nama besar.

Sebagai analisis singkat, Nguyen Van Tung (Vietnam) menjadi match-winner dengan gol tunggal di menit 67. Lalu, Komang Teguh (Indonesia) hampir dikartu merah karena tackle keras.

Baca Juga :  Perdana, Indonesia Lolos Piala Dunia U-17 Lewat Jalur Kualifikasi: Alhamdulillah!

Kemudian, Rizky Ridho (Kapten Indonesia) kurang solid dalam mengorganisasi pertahanan. Diperparah Marselino & Witan (Indonesia) yang tidak maksimal dalam menciptakan peluang.

Vietnam menang karena lebih disiplin dan efisien, sementara Indonesia gagal memaksimalkan bintang-bintangnya

Timnas U-23 Indonesia tumbang bukan karena kurang bakat, tapi karena mentalitas yang rapuh di momen krusial.

Vietnam, dengan disiplin dan efisiensi, membuktikan bahwa sepakbola modern tak hanya butuh skill individu, tapi juga kecerdasan taktis dan ketahanan psikologis.

Blunder pertahanan (Komang Teguh & Rizky Ridho) dan serangan yang mandul (Marselino, Witan) menjadi titik kelemahan yang telak dimanfaatkan Vietnam.

Kekalahan ini harus jadi cermin pahit: Indonesia butuh lebih dari sekadar nama besar.

Butuh kematangan, kepemimpinan di lapangan, dan killer instinct—hal-hal yang masih menguap ketika lampu sorot final menyala. Jika tidak, kita hanya akan jadi tim yang menjanjikan, tapi tak pernah menjadi juara. (Red)

Penulis: Nashrul Mu’minin, Content Writer Yogyakarta

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
GCI dan Masa Depan Hubungan Indonesia–Tiongkok Dibahas di Jakarta
Berita ini 6 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Kamis, 17 September 2026 - 08:45 WIB

DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB