KH Miftachul Akhyar: JATMAN Harus Jadi Penjaga Spiritualitas NU

- Penulis

Selasa, 8 Juli 2025 - 08:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar/ dok istimewa

Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar/ dok istimewa

SUARAMUDA.NET, PURWOREJO — Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menegaskan bahwa keberadaan JATMAN tidak bisa dipisahkan dari sejarah dan dinamika perjuangan Nahdlatul Ulama.

JATMAN bukan hanya organisasi thariqah, tapi juga wadah menjaga kedalaman spiritual Islam yang menjadi bagian tak terpisahkan dari Aswaja an-Nahdliyah.

Hal itu disampaikannya saat memberikan taujihat dalam acara pelantikan Idarah Aliyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) masa khidmah 2025–2030 di Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Kabupaten Purworejo, Senin (7/7/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kiai Miftach mengulas kembali sejarah awal berdirinya organisasi thariqah di lingkungan NU. Ia menyebut, JATMAN awalnya bernama TNU, singkatan dari Thariqah Nahdlatul Ulama, yang didirikan sekitar tahun 1957.

Nama itu sempat membuat orang keliru mengira ada kaitan dengan TNI, karena bunyinya hampir serupa.

“Kalau tidak salah tadi Mudir ‘Ali menyebut ada yang mengira JATMAN dulu itu ada kaitannya dengan TNI. Padahal benar, dulu namanya TNU—Thariqah Nahdlatul Ulama. Baru menjelang muktamar pertamanya di Semarang, tahun 1959, namanya berubah menjadi Jam’iyyah Ahli Thariqah al-Mu’tabarah. Lalu, belakangan ditambah ‘an-Nahdliyyah’,” jelasnya.

Baca Juga :  Polsek Simpang Empat Jalin Silaturahmi Sembari Dukung Pembentukan Pos Siskamling di Desa Lingga

Memang ajaran Tarekat itu sendiri jauh lebih tua, lahir bersamaan dengan Islam bahkan bagian dari Islam itu sendiri. Tapi secara jam’iyyah, JATMAN baru lahir tahun 1957.

Maka, tentu usianya lebih muda dari Nahdlatul Ulama yang berdiri tahun 1926, ujarn pengasuh Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya ini.

Kiai Miftach menegaskan bahwa para ulama pendiri NU seperti Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari juga menjalankan Tarekat. Ia bahkan menerima baiat dan talqin dari Syekh Abdul Manan.

“Saya sangat berharap, seluruh pengurus NU itu berthariqah. Bahkan kalau bisa semua warga NU, bukan hanya pengurus, juga bertarekat,” harapnya.

Namun demikian, ia mengingatkan agar keterlibatan dalam Tarekat tidak mengganggu roda organisasi.

Harus ada pembagian peran yang jelas agar NU tetap berjalan baik, baik secara struktural maupun kultural.

Lebih jauh, ia menyebut NU sebagai miniatur Islam yang utuh, bukan hanya dari aspek akidah, tetapi juga mencakup syariat dan tasawuf.

NU menganut paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), sebuah paham akidah yang moderat dan menjaga keseimbangan antara dimensi lahir dan batin.

“NU itu mengikuti apa yang diperintahkan Islam dan meninggalkan apa yang dilarang Islam. Jadi kita tidak membuat pembandingan. Tugas-tugas ini hanya bisa dijalankan dengan struktur yang rapi, dan tentu spiritualitas yang kokoh,” tegasnya.

Baca Juga :  PBNU Keluarkan Surat Penonaktifan Pengurus NU yang Terlibat dalam Pilkada

Kepada para pengurus JATMAN yang dilantik, Kiai Miftach mengapresiasi karena mereka adalah kiai-kiai yang seimbang antara syariat dan hakikat.

Mereka adalah sosok yang menjalani tafaqquh fi al-din (pendalaman syariat) dan tasawuf (pendalaman batin/spiritual).

Menukil pandangan Imam al-Ghazali, ia menjelaskan betapa dalam dan agungnya ilmu tasawuf. “Imam Ghazali menyatakan, beliau pernah menyelami lautan fikih dan berhasil sampai pantainya.

Beliau juga menyelami lautan filsafat dan tauhid, dan selamat. Tapi ketika menyelami tasawuf, beliau justru ‘tenggelam’. Ini menggambarkan betapa dalamnya ilmu tasawuf,” urainya.

Oleh karena itu, ia mengajak agar JATMAN tidak diremehkan. Sebab, substansi yang diajarkannya bukan sekadar amalan lahir, melainkan pendidikan rohani dan pembersihan hati yang sangat penting dalam membentuk pribadi yang “benar” dan bukan sekadar “pintar”.

“JATMAN mendidik hati dan spiritual. Maka akan lahir orang-orang yang tidak hanya pintar, tapi juga bener. Dan itu yang kita butuhkan dalam kehidupan beragama dan berbangsa,” pungkasnya. (Red)

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
GCI dan Masa Depan Hubungan Indonesia–Tiongkok Dibahas di Jakarta
Berita ini 9 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 22:54 WIB

Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB