Ajak Mahasiswa Bahas Hukum dan Konstitusi DEMA Fakultas Syariah UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Hadirkan Bivitri Susanti dan Hakim Konstitusi

- Penulis

Kamis, 26 Juni 2025 - 16:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA, CIREBON — Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Syariah UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon sukses menggelar Seminar Konstitusi Nasional bertajuk “Quo Vadis Konstitusi? Supremasi Hukum di Tengah Hegemoni Oligarki“, Rabu (25/6/2025).

Kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran kritis mahasiswa dalam menghadapi persoalan hukum dan konstitusi di Indonesia.

Seminar digelar di Gedung SBSN UIN SSC dan menghadirkan dua narasumber kompeten, yakni Bivitri Susanti, Dosen STHI Jentera dan anggota CALS (Constitutional and Administrative Law Society) serta Dr. Suryo Gilang Romadlon, S.H., M.H., Asisten Ahli Hakim Konstitusi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Adapun, acara dipandu oleh moderator Dr. Izzuddin, M.Ag., Wakil Dekan II Fakultas Syariah.

Dalam sesi pemaparannya, Bivitri Susanti menegaskan bahwa demokrasi Indonesia saat ini berada dalam cengkeraman oligarki.

Baca Juga :  Darul Amanah FA Juara 1 Turnamen Sepak Bola Antar Santri se Eks-Karesidenan Kedu

Merujuk pada buku ‘How Democracies Die‘ karya Steven Levitsky, ia menjelaskan bagaimana kekuatan oligarki menyusup ke berbagai institusi negara demi melanggengkan kepentingan mereka.

Ia menyoroti peran DPR yang dinilai sering gagal menjalankan fungsinya sebagai wakil rakyat, dengan dikeluarkannya kebijakan-kebijakan kontroversial yang lebih menguntungkan elit politik, seperti Undang-Undang Cipta Kerja.

Bivitri juga mengkritisi sifat hukum Indonesia yang cenderung positivistik—yakni terlepas dari nilai moral.

Hal ini, menurutnya, menyebabkan kebijakan publik kerap tidak berpihak pada kepentingan masyarakat.

Ia menekankan bahwa hukum adalah produk manusia yang dinamis dan harus selalu terbuka terhadap kritik.

Dalam konteks ini, Mahkamah Konstitusi dipandang sebagai harapan terakhir dalam menjaga konstitusionalitas hukum, meskipun kesadaran politik masyarakat masih relatif rendah.

Seminar ini, lanjutnya, menjadi langkah penting dalam memperkuat kesadaran hukum dan demokrasi.

Baca Juga :  Optimalisasi Subsidi Tarif Bus Mahasiswa UNSRI Palembang - Indralaya

Sementara itu, Dr. Suryo Gilang Romadlon menggarisbawahi pentingnya pendekatan keadilan sosial (social justice) dalam praktik hukum.

Ia memperkenalkan mazhab Critical Legal Studies (CLS) sebagai pendekatan yang menekankan pentingnya moralitas dan substansi dalam penegakan hukum.

Menurutnya, hakim konstitusi perlu mengadopsi perspektif CLS untuk mencapai keadilan yang lebih berorientasi pada substansi, bukan semata-mata prosedur, guna memperkuat independensi Mahkamah Konstitusi.

Wakil Ketua DEMA Fakultas Syariah, Sandy Al Faris, dalam sambutannya menyampaikan harapannya bahwa seminar ini dapat menjadi pemantik diskusi lebih mendalam mengenai masa depan konstitusi dan supremasi hukum di Indonesia.

Ia juga menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan dalam mewujudkan cita-cita demokrasi yang bermartabat dan berkeadilan. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta
Bukan Cuma Urusan Pemerintah, IFSRC Buka Jalur Baru Diplomasi Indonesia–Tiongkok
GCI dan Masa Depan Hubungan Indonesia–Tiongkok Dibahas di Jakarta
Berita ini 11 kali dibaca

1 Komentar

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Jumat, 18 September 2026 - 16:42 WIB

Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap

Jumat, 18 September 2026 - 09:01 WIB

Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya

Kamis, 17 September 2026 - 08:45 WIB

DPR Pertanyakan Rencana 200 Juta Rekening: Yang Belum Punya Rekening Cuma 15,3 Juta

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB