Nasi Mentah, Tempe Dua Potong: Saat Konsumsi Jamaah Haji Jadi Sekadar Formalitas

- Penulis

Rabu, 11 Juni 2025 - 08:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi jamaah haji saat sedang menyantap makanan (foto: pinterest)

Ilustrasi jamaah haji saat sedang menyantap makanan (foto: pinterest)

Liputan Khusus Haji 2025 oleh Faiz Rafdillah*)

SUARAMUDA, MAKKAH, ARAB SAUDI — Pada 14 Dzulhijjah, di hotel Emaar Al Taqwa 206, Syisyah tempat saya dan ratusan jamaah Indonesia bermalam, kami tidak lagi berharap banyak dari sistem.

Yang kami harapkan hanyalah satu, makan tepat waktu, layak, dan manusiawi. Tapi bahkan itu pun ternyata menjadi kemewahan yang terlalu sulit untuk dipenuhi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Seharusnya, sarapan sudah kami terima sebelum pukul 9 pagi. Tapi kenyataannya, makanan baru sampai sekitar pukul 11 siang.

Dan apa yang kami terima jauh dari kata layak. Beberapa laporan terdapat nasi yang belum matang, lauk sekadar dua potong tempe orek yang nyaris tak terasa bumbunya, dan porsi yang bahkan membuat kami bertanya apakah ini upaya pemenuhan gizi atau sekadar menggugurkan kewajiban?

Yang lebih menyakitkan lagi adalah informasi bahwa makan siang dan makan malam hari itu besar kemungkinannya tidak akan tersedia.

Alasannya? Tim dapur tidak sanggup melayani seluruh jamaah di Sektor 2. Pernyataan itu bukan hanya bentuk ketidakprofesionalan bukan?

Baca Juga :  Jamaah Indonesia Dipermalukan, Pemerintah Tak Boleh Diam: Sudah Saatnya Bicara Keras pada Arab Saudi

Bagi kami, itu penghinaan bagi jama’ah yang telah membayar mahal, menanti bertahun-tahun, dan datang dengan tubuh yang lelah dan niat yang suci.

Kami, para ketua regu kloter JKG 47, telah menyampaikan protes berulang kali. Tapi tanggapan yang kami dapat hanyalah “nanti kami pikirkan solusi.”

Seolah-olah urusan makan bagi ribuan jama’ah bisa diselesaikan dengan satu kalimat pengalihan tanggung jawab.

Lalu pertanyaannya, bagaimana mungkin logistik konsumsi bisa kolaps seperti ini? Bukankah pelayanan konsumsi telah dianggarkan dan dibayar melalui skema BPIH?

Bukankah ada koordinasi antara BPKH, pihak katering lokal, petugas kloter, hingga pihak dapur yang semestinya menjamin hal ini tidak terjadi?

Saat kami hendak thawaf ifadah malam ini pun, ibadah penting setelah mabit di Mina, banyak jamaah yang terpaksa menundanya.

Bukan karena kelelahan semata, tapi karena tidak makan. Perjalanan ibadah yang harusnya khusyuk berubah jadi perjuangan bertahan hidup, demi sesuap nasi yang pantas.

Ini bukan sekadar soal nasi keras atau tempe hambar. Ini tentang hak jamaah untuk diperlakukan secara layak dan manusiawi.

Baca Juga :  Setelah Semua Berakhir, Syarikah Pun Masih Menyisakan Kekacauan

Ini tentang kepercayaan kami pada sistem yang entah karena buruknya koordinasi atau lemahnya pengawasan, akhirnya menyia-nyiakan kehormatan ibadah kami di Tanah Suci.

Pemerintah Indonesia harus bertindak. Tidak cukup sekadar menyampaikan “keprihatinan” atau “memantau dari jauh.” Sistem penyediaan konsumsi harus diaudit secara menyeluruh.

Jika perlu, lakukan reformasi terhadap sistem logistik dengan pembagian tanggung jawab yang jelas dan sanksi tegas bagi pihak katering yang gagal memenuhi kewajiban.

Kami tidak menuntut kemewahan. Kami tidak minta berlebihan. Tapi kami punya hak atas makanan yang layak.

Apalagi dalam ibadah haji, yang tidak hanya menguji iman tapi juga kekuatan fisik dan daya tahan tubuh.

Jika bahkan makan pun tak bisa kami dapatkan dengan benar, untuk apa semua janji manis pelayanan maksimal itu dikampanyekan?

Mungkin, nasi yang terlapor masih mentah dan tempe dua potong itu adalah simbol nyata dari bagaimana kami sebagai jamaah haji Indonesia masih saja dianggap bisa dipermainkan dalam sistem yang seharusnya melayani. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor
BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!
Pergantian Posisi di JP Group dan Perhatian terhadap Energi Terbarukan
Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan
International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas
GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029
Pajak Seller Marketplace Segera Dipungut, Seller Online Perlu Siap-siap
Saat Tari Piring Bertemu Tarian Mandarin, IFSRC Bawa Diplomasi Indonesia–Tiongkok ke Panggung Budaya
Berita ini 12 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 19:25 WIB

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Senin, 21 September 2026 - 22:09 WIB

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Minggu, 20 September 2026 - 09:39 WIB

Parpol Nonparlemen Tolak PT 5 Persen, Merasa Dijegal hingga Tuduh Koalisi Arogan

Minggu, 20 September 2026 - 08:36 WIB

International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas

Minggu, 20 September 2026 - 08:25 WIB

GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB