Dosen IAI An-Nawawi Purworejo Tawarkan Konsep At-Takāmul At-Takayyufi dalam Pendidikan Moderasi Beragama

- Penulis

Selasa, 20 Mei 2025 - 14:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Purwokerto, SUARAMUDA
Dalam ujian promosi doktor ke-62 Program Pascasarjana UIN Prof KH Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) Purwokerto, Adi Wibowo, dosen Institut Agama Islam (IAI) An-Nawawi Purworejo, mempresentasikan sebuah gagasan inovatif dalam pendidikan moderasi beragama.

Ia memperkenalkan konsep At-Takāmul At-Takayyufi sebagai pendekatan strategis dalam menanamkan nilai-nilai moderasi, toleransi, cinta tanah air, serta sikap akomodatif terhadap budaya lokal di lingkungan Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Purworejo.

“Tidak bisa dipungkiri bahwa tantangan zaman yang semakin kompleks memerlukan pendekatan pendidikan yang fleksibel dan inklusif. Saya mengambil konsep ini karena penting untuk mengintegrasikan nilai-nilai kebangsaan dan toleransi ke dalam pendidikan moderasi beragama, agar para santri tidak hanya memahami konteks agama saja, tetapi juga menghargai keberagaman sosial yang ada di sekitar mereka,” ungkap Adi Wibowo kepada SUARAMUDA pada Selasa (20/05/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Adi, At-Takāmul yang berarti integrasi, menekankan pentingnya penyatuan antara nilai-nilai kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, serta keterbukaan terhadap budaya lokal dalam proses pendidikan keagamaan di pesantren.

Baca Juga :  Ultimatum Mabes Polri: Mahasiswa Malut Jabodetabek Desak Usut Tuntas Pembuhunan Berantai Halteng-Haltim

Tujuannya adalah membentuk karakter santri yang tidak hanya taat beragama, tetapi juga mampu hidup berdampingan secara harmonis dalam masyarakat yang plural.

Sementara itu, At-Takayyufi atau adaptasi menegaskan pentingnya fleksibilitas pesantren dalam merespons dinamika sosial dan perubahan zaman, khususnya dalam konteks globalisasi, perkembangan teknologi, pluralitas agama, dan munculnya ancaman radikalisme.

“Dalam konteks ini, pendekatan At-Takāmul At-Takayyufi mengajarkan nilai-nilai relevan yang sesuai dengan tantangan kontemporer. Pesantren harus mampu menyesuaikan pendidikan moderasi beragama dengan kondisi sosial terkini agar dapat memberikan jawaban atas persoalan yang dihadapi oleh generasi muda,” imbuhnya.

Adi Wibowo menegaskan bahwa pendekatan ini sangat relevan untuk membentuk generasi yang memiliki akhlak mulia, mampu beradaptasi dengan perubahan, dan menjadi agen perdamaian dalam masyarakat majemuk.

“Saya rasa manfaatnya sangat besar untuk pendidikan ke depan, karena dengan konsep At-Takāmul At-Takayyufi kita tidak hanya membentuk generasi yang berakhlak, tetapi juga mampu menghadapi dinamika sosial, mengadaptasi perubahan, dan menjadi agen perdamaian dalam masyarakat yang plural,” tambahnya.

Baca Juga :  Ma’arif NU Jateng Tawarkan Beasiswa Internasional dan Job Fair Berskala Global

Lebih jauh, pendekatan ini juga diyakini dapat menjadi pijakan dalam pengembangan kurikulum pendidikan Islam yang tidak hanya fokus pada aspek spiritual, tetapi juga penguatan nilai-nilai kebangsaan dan perdamaian.

Dengan model pendidikan seperti ini, diharapkan pesantren mampu menjadi pusat pendidikan yang inklusif dan berdaya tanggap terhadap isu-isu sosial kontemporer.

“Pendidikan moderasi beragama yang mengusung konsep At-Takāmul At-Takayyufi menjadi jembatan penting dalam membentuk generasi masa depan yang tidak hanya beriman dan bertakwa, tetapi juga berwawasan kebangsaan dan siap menjadi agen perdamaian di tengah masyarakat yang beragam,” pungkas Adi.

Gagasan ini diharapkan menjadi kontribusi nyata dalam penguatan moderasi beragama di Indonesia, khususnya melalui institusi pesantren sebagai benteng moral, spiritual, dan kebangsaan. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bukan Sekadar Datang! Guru MTs Muhammadiyah 20 Menongo Siap “Berburu” Inspirasi di EXTRANAS 2026
Honor Guru Madrasah Swasta Cuma Rp50 Ribu, Menag Akui Realita Pahit
Zuhri: Diplomasi Bukan Cuma Urusan Negara, Warga Bisa Jadi Jembatan Indonesia–Tiongkok
Dari Usus Ayam Jadi Cuan: UPN Veteran Jatim Dorong Siswa SMK Nazhatut Thullab Jadi Wirausaha
Dorong Produksi Lebih Efisien dan Bermutu, Tim Pengabdian Terapkan Mesin Chopper Kedelai Termodifikasi di UMKM Tahu Tulungagung
Tingkatkan Mutu Produk Olahan, Tim Pengabdian UPN Veteran Jatim Dampingi UMKM Sambal Pecel “Lestari” Blitar
Modernisasi Produksi Telur Asin di Tulungagung, Alat Pencuci Berbasis Riset Bikin UMKM Makin Efisien
Dorong UMKM Naik Kelas, Akademisi UPN Veteran Jawa Timur Kenalkan Oven Multitray dan Kemasan Baru di Bolu “Bu Pur”
Berita ini 8 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 05:53 WIB

Bukan Sekadar Datang! Guru MTs Muhammadiyah 20 Menongo Siap “Berburu” Inspirasi di EXTRANAS 2026

Sabtu, 12 September 2026 - 11:41 WIB

Honor Guru Madrasah Swasta Cuma Rp50 Ribu, Menag Akui Realita Pahit

Rabu, 9 September 2026 - 17:39 WIB

Zuhri: Diplomasi Bukan Cuma Urusan Negara, Warga Bisa Jadi Jembatan Indonesia–Tiongkok

Selasa, 8 September 2026 - 18:53 WIB

Dari Usus Ayam Jadi Cuan: UPN Veteran Jatim Dorong Siswa SMK Nazhatut Thullab Jadi Wirausaha

Senin, 7 September 2026 - 22:34 WIB

Dorong Produksi Lebih Efisien dan Bermutu, Tim Pengabdian Terapkan Mesin Chopper Kedelai Termodifikasi di UMKM Tahu Tulungagung

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB