Hadiri Konferensi Internasional Sirah 2025 di Pakistan, Santri Indonesia Angkat Isu Dakwah Lewat Media Sosial

- Penulis

Kamis, 24 April 2025 - 19:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA, ISLAMABAD, PAKISTAN — Kajian Sirah Nabawiyah semakin relevan dalam menjawab tantangan zaman, sebagaimana terlihat dalam International Sirah Conference 2025 yang digelar di International Islamic University Islamabad (IIUI), Rabu) 23/4/2025).

Konferensi ini menghadirkan kurang lebih 250 tokoh dan akademisi terkemuka dari berbagai negara Islam yang membahas metodologi kontemporer dalam memahami sejarah hidup Nabi Muhammad (P.B.U.H).

Dalam sesi yang digelar di Auditorium Allama Iqbal, Faisal Masjid Campus, kajian difokuskan pada pendekatan modern dalam studi Sirah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sesi ini dipimpin oleh mantan Perdana Menteri Maroko, Prof. Dr. Saad Dine El-Othmani, serta diisi oleh para ilmuwan seperti Prof. Dr. Hassan Mahmoud Al-Shafee dari Mesir, Prof. Dr. Ahmed Yousif Al-Draiweesh dari Saudi , dan Prof. Dr. Abdellatif Bouazizi Rektor Universitas Az Zaituna.

Menyorot Tantangan Masa Kini

Dalam diskusi yang interaktif ini, para pembicara menyoroti tantangan terkini dalam memahami Sirah dan perlunya inovasi akademik untuk menjangkau generasi masa kini.

Baca Juga :  Prabowo Datang, Tapi Putin dan Xi Jinping Absen di Pertemuan BRICS, Kenapa tuh?

Dalam sesi lainnya di Islamic Research Institute , diskusi berlanjut dengan menghadirkan akademisi dari berbagai institusi Islam terkemuka seperti Al-Azhar University, Ez-Zitouna University, Madinah Islamic University serta University of Al-Wadi di Syiria.

Dipimpin oleh Prof. Dr. Abdul-Rahman bin Ahmed al-‘Awaji dari Saudi, sesi ini menggali lebih dalam aspek hukum, sejarah, dan filsafat dalam kajian Sirah.

Para pembicara seperti Prof. Dr. Hamid bin Mawwad al-Hajili dari Saudi dan Prof. Dr. Izzudin bin Zughaibah dari Yordania menegaskan perlunya pengembangan kurikulum yang lebih adaptif serta pendekatan penelitian yang lebih sistematis.

Sementara itu, narasamber dari Indonesia, Badat Alauddin mengangkat isu relevansi Siroh Nabawi dalam implementasi dakwah dan pendidikan hari ini.

Berdakwah via Media Sosial

Ia mengangkat ide betapa dulu nabi menggunakan surat sebagai alat berdakwah, dan hari ini bisa di implementasikan dengan menjadikan media sosial qiyas wasilah untuk berdakwah.

Badat juga menyoroti bahwa 145 juta lebih pengguna media sosial Indonesia memiliki peluang untuk berdakwah. Berdasarkan fakta riset salah satu media massa di Indonesia (baca; Republika), 58% generasi muda belajar agama di internet.

Baca Juga :  Tarawih Keliling di Tunisia! Cara Mahasiswa RI Hidupkan Ramadan di Negeri Perantauan

Sehingga pengalihan dakwah melalui media sosial yang relevan dengan Siroh Nabawiyah menjadi urgen bagi cendikiawan Islam hari ini.

Konferensi ini menjadi wadah bagi ilmuwan dan akademisi dunia untuk mengembangkan pemahaman baru terhadap Sirah Nabawiyah, sekaligus memastikan relevansinya dalam kehidupan modern.

Dengan dialog yang mendalam dan berbagai gagasan inovatif, konferensi ini membawa optimisme baru bagi perkembangan studi Islam di tingkat global.

Konferensi ini juga tidak hanya menjadi ajang ilmiah tetapi juga forum akademik yang memperkuat jaringan antar-institusi guna memperkaya penelitian tentang Sirah.

“Harapannya, kajian ini mampu menghadirkan wawasan yang lebih luas dan aplikatif bagi generasi Muslim di era digital, “ujar Prof Ziaul-Haq dari Pakistan selaku Ketua Insitute Riset Islam dalam sambutannya. (Red)

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Netanyahu Naik Podium, Delegasi Indonesia Pilih Walk Out dari Sidang PBB
BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!
International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas
GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029
Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
EEF-2026: Kehadiran Internasional Tunjukkan Pergeseran Ekonomi Global, Barat Tak Lagi Sentral
Iran Tebar Ranjau Lagi di Selat Hormuz, Perang dengan AS Makin Memanas
Berita ini 7 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 07:49 WIB

Netanyahu Naik Podium, Delegasi Indonesia Pilih Walk Out dari Sidang PBB

Senin, 21 September 2026 - 22:09 WIB

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Minggu, 20 September 2026 - 08:36 WIB

International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas

Minggu, 20 September 2026 - 08:25 WIB

GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029

Sabtu, 12 September 2026 - 12:14 WIB

Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB