Mengulik “Chaand Raat”, Lebaran Khas Pakistan yang Penuh Cahaya dan Kebahagiaan

- Penulis

Jumat, 4 April 2025 - 07:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAMUDA, ISLAMABAD – Lebaran yang berasal dari berbagai bahasa daerah di Indonesia-diantaranya; “wes bar” yang dalam bahasa Jawa berarti sudah selesai (berpuasa.

Dan “lebar” yang dalam bahasa Betawi berarti luas (lapang dada)—adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyebut hari perayaan Idul Fitri di Indonesia.

Sedangkan Idul Fitri sendiri secara etimologis berasal dari kata “Ied” yang berarti peringatan dan “Fithr” yang berarti makan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada hari raya yang diperingati setiap tanggal 1 Syawal dalam penanggalan Hijriah ini, seluruh umat Muslim tak terkecuali di Indonesia diharamkan untuk berpuasa dan dianjurkan untuk saling bermaafan satu sama lain.

Berbagai macam tradisi mulai dari halal bihalal—yaitu kegiatan saling bermaafan kepada kerabat dan keluarga, memakai pakaian terbaik hingga menyiapkan hidangan khas dari tiap daerah turut memeriahkan hari itu.

Semuanya dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur dari nikmat yang telah diberikan berupa selesainya menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadhan.

Sekaligus ajang pembersihan diri dari berbagai kesalahan dan dosa yang dilakukan kepada kerabat, tetangga ataupun keluarga.

Sehingga pada akhirnya benar-benar berhasil menggapai derajat mutaaqin sebagaimana tertera dalam Al-Quran (Al Baqarah: 183).

Lebaran di Pakistan

Sebagai diaspora yang berada jauh di tanah rantau, tentu banyak pengalaman baru sekaligus unik dirasakan. Tak terkecuali dalam tradisi menyambut hari raya Idul Fitri.

Pakistan sebagai negara dengan mayoritas Muslim terbesar kedua setelah Indonesia yakni dengan total penduduk mencapai 240.760.000 jiwa—-sebagaimana melansir dari data survey worldpopulationreview.com—telah menjadi rumah besar bagi berbagai khazanah Islam khas Asia Selatan.

Jikalau di Indonesia kita mengenal berbagai tradisi seperti halal bihalal, mudik lebaran, nyekar (tradisi ziarah kubur) hingga menyantap hidangan khas seperti ketuapat, lepet dan opor ayam, maka warga Pakistan juga memiliki berbagai tradisinya sendiri.

Baca Juga :  Menang Pilwalkot New York, Mamdani Malah Mau Diusir dari AS, Kok Bisa?

Suasana Malam Lebaran

“Chaand raat” yang berarti malam bulan adalah sebuah istilah yang sering digunakan untuk menyebut perayaan malam tahun baru.

Pada malam hari raya ini, masyarakat berkumpul di pusat-pusat perbelanjaan atau yang biasa disebut “markaz” dalam bahasa setempat.

Kebanyakan dari mereka, umumnya adalah perempuan mulai dari kalangan remaja hingga wanita dewasa.

Layaknya di Indonesia menyambut lebaran, mereka juga berbelanja pakian, busana termasuk hijab, abaya hingga berbagai aksesoris dan pernak-pernik lain seperti gelang, kalung dan mhendi (sejenis hena/pacar).

Di hari-hari terakhir Ramadhan, pusat perbelanjaan sudah ramai dikunjungi pembeli—sebagaimana yang penulis amati beberapa waktu yang lalu.

Tapi sayangnya, perayaan malam Idul Fitri di Pakistan memang tak semeriah di Tanah Air. Setidaknya itu yang penulis rasakan saat berada di Ibu Kota Pakistan, Islamabad.

Gema takbir yang saling bersahutan hingga pawai karnaval atau takbir keliling yang semarak antarkampung tak ditemukan di Pakistan.

Sebagai diaspora, momen-momen spesial khas Indonesia seperti itulah jelas dirindukan bagi diaspora Indonesia di Pakistan.

Hari H Lebaran: Tak Ada Opor Ayam & Ketupat?

Keeseokan harinya, masyarakat Pakistan mengikuti gelaran shalat Ied secara bersama-sama. Namun karena Muslim Pakistan penganut mahzab Hanafi, maka jumlah takbir yang dikumandangkan hanya empat kali.

Usai shalat, masing-masing keluarga pun berkumpul dan saling memaafkan, layaknya tradisi di Indonesia. Mereka pun menyiapkan hidangan khas lebaran.

Jika lebaran di Indonesia khas dengan sajian opor ayam, lontong dan ketupat, hidangan khas Pakistan berupa manisan seperti ghulab jamun, sheeer kurma hingga kheer, yakni sejenis bubur nasi yang dicampur susu serta kacang almond.

Momen Lebaran para Diaspora

Mayoritas mahasiswa diaspora Indonesia di Islamabad, khususnya di International Islamic University Islamabad tempat penulis menjalankan studi melaksanakan solat Idul Fitri di tiga tempat.

Para diaspora dapat mengikuti shalat Ied di pelataran asrama kampus, kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Islamabad dan Masjid Faishal di pusat kota Islamabad.

Baca Juga :  Forum Rusia Bongkar Dugaan Ekspansi Barat lewat Sektor Pendidikan Asia

Meski demikian, usai shalat para diaspora dapat mengikuti kegiatan open house dan halal bihalal di kantor KBRI maupun di rumah-rumah Warga Negara Indonesia (WNI) yang ada di Islamabad.

Selain dapat mencicipi hidangan khas Nusantara sebagai ‘obat rindu’ kampung halaman, kaum diaspora juga dapat memperkokoh silaturahmi, membangun suasana kekeluargaan yang guyub dan rukun.

Biasanya pada H plus dua atau tiga lebaran, beberapa ormas Islam seperti Jamaah Tabligh mengundang mahasiswa Internasional untuk hadir dalam kegiatan perkumpulan (ijtima’).

Menghadiri Jamuan Khas Pakistan

Selain mahasiswa, banyak juga anggota Jamaah Tabligh mancanegara yang turut hadir. Biasanya kegiatan ini diawali dengan sesi penjemputan di asrama kampus.

Lalu, sesampainya di masjid—mereka menyebut dengan istilah Markaaz—yakni tempat acara dilaksanakan, para tamu langsung disambut dengan minuman khas sirup mawar yang dicampur susu.

Acara dilanjutkan dengan sesi Bayaan (ceramah agama) dengan berbagai macam bahasa. Para pendengar duduk pada lingkaran-lingkaran (halaqah) sesuai bahasa yang dipahami.

Jika beruntung, ada juga halaqah yang menggunakan bahasa Melayu atau Indonesia.

Sesi yang paling dinanti tentunya adalah sesi jamuan malam. Bebagai macam hidangan khas Pakistan, mulai dari hidangan pokok seperti beef pulao, nasi mandhi hingga beef korma yang dimakan dengan berbagai jenis roti yang dihidangkan tak luput disajikan.

Ada pula hidangan penutup berupa berbagai macam manisan seperti kheer juga turut dihidangkan dalam perjamuan usai acara tersebut.

Seakan sebagai pesta kemenangan, semua kuliner disajikan dan disantap bersama-sama bersama para tamu undangan.

Namun, seunik apapun pengalaman di tanah rantau dan sejauh apa pun pergi, rumah dan Tanah Air tetap selalu menjadi tempat yang paling dirindukan. Selamat Lebaran! (Red)

Kontributor: Handika Ahmad

 

Follow WhatsApp Channel suaramuda.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Netanyahu Naik Podium, Delegasi Indonesia Pilih Walk Out dari Sidang PBB
BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!
International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas
GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029
Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?
Pameran Budaya Indonesia Tampilkan 400 Karya Seni dan Foto Nusantara di Rusia
EEF-2026: Kehadiran Internasional Tunjukkan Pergeseran Ekonomi Global, Barat Tak Lagi Sentral
Iran Tebar Ranjau Lagi di Selat Hormuz, Perang dengan AS Makin Memanas
Berita ini 16 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 07:49 WIB

Netanyahu Naik Podium, Delegasi Indonesia Pilih Walk Out dari Sidang PBB

Senin, 21 September 2026 - 22:09 WIB

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Minggu, 20 September 2026 - 08:36 WIB

International Youth Festival 2026: 10.000 Anak Muda dari 191 Negara Serukan Dunia Tanpa Batas

Minggu, 20 September 2026 - 08:25 WIB

GEKRAFS Buka Jalan Diplomasi Ekonomi Kreatif Indonesia di Rusia, Andre Septiyanto Pimpin DPLN 2026–2029

Sabtu, 12 September 2026 - 12:14 WIB

Mengapa Orang Kaya China Kini Mulai Pindahkan Duit ke Malaysia?

Berita Terbaru

Bendera Partai Gerindra, PDIP dan Partai Golkar. (Ilustrasi: Pinterest)

KABAR NUSANTARA

Survei Poltracking: Gerindra 23,2 Persen, PDIP dan Golkar Mengekor

Rabu, 23 Sep 2026 - 19:25 WIB

Sumber foto: sindonews.com

KILAS GLOBAL

BRICS Masih Jadi Magnet Negara Berkembang, 45 Negara Pengen Gabung!

Senin, 21 Sep 2026 - 22:09 WIB